999 Views

3 Jenis Gangguan Belajar pada Anak

Apa saja 3 Jenis Gangguan Belajar pada Anak?

a121

Masalah gangguan belajar kerapkali dijumpai pada anak-anak. Masalah ini bisa timbul di sekolah maupun di luar sekolah. Anak yang mengalami gangguan belajar biasanya akan mengalami gangguan pemusatan perhatian (konsentrasi), gangguan daya ingat, gangguan membaca, menulis, berhitung dan lain-lain. Yang perlu kita ingat, bahwa anak-anak yang mengalami gangguan belajar bukanlah mengidap suatu penyakit, tetapi mereka hanya mengalami masalah pada proses pembelajarannya.

Dampak yang dialami oleh anak yang mengalami gangguan belajar bukan hanya pada proses tumbuh kembangnya, tetapi juga berdampak pada proses interaksi anak tersebut dengan lingkungannya. Terkadang bahkan keharmonisan keluarga juga dapat terganggu. Diantara kedua orang tua saling menyalahkan, merasa frustasi, marah, kecewa, putus asa, merasa bersalah atau menolak kejadian yang menimpa mereka.

Untuk mengenal lebih jelas mengenai masalah gangguan belajar anak, berikut akan dipaparkan 3 jenis gangguan belajar yang dapat terjadi pada anak

1. Gangguan Membaca (Disleksia)

disleksia

Menurut wikipedia, gangguan membaca (disleksia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada anak yang disebabkan oleh kesulitan dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Akan tetapi anak tersebut tidak mengalami masalah dalam perkembangan kemampuan standar yang lain, seperti kecerdasan dan kemampuan menganalisa. Disleksia dapat terjadi karena adanya kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil. Dalam beberapa kasus juga disebabkan karena faktor turunan dari orang tua.

Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan uraian panjang lebar.

Berikut ini adalah ciri-ciri disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru :

  • Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
  • Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay
  • Huruf tertukar-tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
  • Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya :
  1. Menghilangkan atau salah baca pada kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
  2. Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
  3. Tidak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
  4. Tertukar-tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama)
  • Daya ingat jangka pendek yang buruk
  • Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
  • Tulisan tangan yang buruk
  • Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung
  • Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
  • Kesulitan dalam mengingat kata-kata
  • Kesulitan dalam diskriminasi visual
  • Kesulitan dalam persepsi spatial
  • Kesulitan mengingat nama-nama
  • Kesulitan atau lambat mengerjakan PR
  • Kesulitan memahami konsep waktu
  • Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan
  • Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol
  • Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari-hari
  • Kesulitan membedakan kanan kiri.

2. Gangguan Menulis (Disgrafia)

 a456

Menurut National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD), yang dimaksud dengan disgrafia adalah gangguan belajar yang terjadi karena anak kesulitan dalam mendengar, berbicara, menulis, menganalisis, dan memecahkan persoalan. Jadi anak tidak bisa menuliskan dan mengekspresikan pikirannya ke dalam bentuk tulisan.

Gangguan menulis (disgrafia) disebabkan oleh faktor neurologis, adanya gangguan pada otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Anak mengalami kesulitan dalam harmonisasi secara otomatis antara kemampuan mengingat dan menguasai gerakan otot menulis huruf dan angka.

Anak disgrafia tidak bisa menyusun huruf dan kata dengan baik. Mereka sulit mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis. Gejala ini mulai tampak ketika anak mulai belajar menulis. Anak disgrafia memiliki intelegensia normal, bahkan ada yang diatas rata-rata. Ia tidak mengalami gangguan motorik maupun visual, ia hanya mengalami kesulitan untuk menulis.

Berikut ini ciri-ciri yang bisa dikenali dari penderita disgrafia yaitu :

  • Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya
  • Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur
  • Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional
  • Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan
  • Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas
  • Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis
  • Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional
  • Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah

3. Gangguan berhitung (Diskalkulia)

Diskalkulia-3

Diskalkulia adalah gangguan belajar yang berkaitan dengan kemampuan berhitung atau aritmatik. Anak-anak diskalkulia kesulitan untuk menyelesaikan soal-soal matematika dan sulit menangkap konsep dasar aritmatik. Soal-soal yang diberikan sesuai dengan kemampuan usianya, namun sulit untuk dipecahkan oleh anak diskalkulia. Diskalkulia dikenal juga dengan istilah “math difficulty.”

Ciri-ciri anak diskalkulia adalah :

  • Sulit menentukan arah ke kiri atau ke kanan
  • Sulit membaca jam, menghitung uang kembalian atau uang yang harus dibayarkan saat belanja. Dampaknya anak tersebut jadi takut melakukan kegiatan apapun yang harus melibatkan uang
  • Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan
  • Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah
  • Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya
  • Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor
  • Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
  • Sering salah membedakan angka 9 dengan 6, 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya
  • Sulit membedakan bangun-bangun geometri (bangun ruang)

Apabila anak mengalami gejala-gejala gangguan belajar seperti diatas, baik dikeluhkan oleh anak itu sendiri maupun oleh gurunya, segeralah berkonsultasi dengan pihak terkait yang paham akan masalah anak kita. Anak membutuhkan pendekatan tim khusus, sehingga mendapatkan pelayanan ‘one stop assessment’. Tim ini terdiri atas dokter anak, psikolog, guru, serta terapis terkait sesuai masalah yang mendasari gangguan belajar. Di beberapa sekolah bahkan ada yang memiliki psikolog untuk mengevaluasi perkembangan anak.

Dengan demikian, anak yang mengalami gangguan belajar bukan berarti tidak dapat diatasi sama sekali. Walaupun gangguan yang terjadi pada sebagian otak sudah tidak dapat diperbaiki lagi, tetapi masih ada bagian otak lain yang masih dapat dirangsang untuk dapat berfungsi optimal. Oleh karena itu pemberian terapi haruslah sedini dan seoptimal mungkin, sehingga anak cepat mendapat penanganan dan terbebas dari label negatif seperti “bodoh,” “malas,” atau “nakal.” Selain itu anak diharapkan juga dapat mengejar apa yang menjadi kekurangannya selama ini.(Bunda Ranis)

Sumber :

Soeseno Bachtiar. Buku Pintar Memahami Psikologi Anak Didik : Panduan Sukses Menjadi Guru Teladan & Profesional. Yogyakarta : Pinang Merah. 2012

http://indigrow.wordpress.com/tag/tanda-tanda-anak-disleksia/

http://ms.wikipedia.org/wiki/Disleksia

http://fanisliend.blogspot.com/2012/04/makalah-gangguan-belajar-disgrafia.html

Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak (4): Disgrafia

http://yohanesiwan.blogspot.com/2013/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_30.htm

http://tatminingsih.blogspot.com/2008/08/diskalkulia-gangguan-kesulitan.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Dyscalculia

http://id.wikipedia.org/wiki/Disleksia

http://en.wikipedia.org/wiki/Dyscalculia

4 Komentar

  1. Sy month tanya,kbtulan anak pertama sy kembar tp salah satuy utk mengeja/membaca huruf sngat ksulitan tp utk perhitungan (Angka) dia bs wlpun kadang sering terbalik arahy dlm menuliskan angka 6.jd bgaimana cara mengajariy?trimakasih

    1. Terima kasih bu Ani atas pertanyaannya. Prinsip belajar untuk anak usia dini sebaiknya adalah bermain sambil belajar agar anak tidak terbebani. Untuk ananda yang mengalami kesulitan dalam belajar, maka pengajarannya harus secara bertahap dan menyenangkan. Misal untuk pengenalan angka, dimulai dari angka 1-3 terlebih dahulu sampai anak benar-benar memahami dan bisa menulis bentuk dari angka-angka tersebut, begitu halnya dengan angka yang lainnya.
      Metode pengajaran biMBA-AIUEO yaitu Fun Learning, Small Step System, Individual System dan Variation Skill mengajak anak bermain sambil belajar dalam suasana yang menyenangkan, sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik anak dapat berkembang dengan baik. Kemampuan anak juga berbeda-beda, ada yang mudah menerima pelajaran dan ada yang sedikit lambat dalam menerima pelajaran. Demikian yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Terima kasih :)

  2. Terima kasih Ibu Oky atas pertanyaannya. Seorang anak yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung tidak identik dengan kelainan fisik. Anak tersebut mengalami gangguan belajar, karena kurangnya daya konsentrasi yang disebabkan oleh banyak faktor. Ada baiknya untuk membawa anak tersebut ke pihak terkait dengan permasalahannya agar orang tua dapat segera menemukan solusinya. Demikian ibu yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  3. saya mau tanya, ada anak seumuran kelas dua sd yang sama sekali tidak dapat membaca, menulis dan berhitung, padahal secara fisik ia adalah anak yang normal tanpa kelainan fisik. itu tergolong anak apa ya? terimakasih..

Bimbingan Minat Belajar dan Minat Baca Anak Usia Dini Indonesia is Stephen Fry proof thanks to caching by WP Super Cache