398 Views

5 Mitos Mengajarkan Anak Membaca Usia Dini

Apa saja Mitos Mengajarkan Anak Membaca Usia Dini?

Sumber : http://www.kartubacaflashcard.com/tag/dini
Sumber : http://www.kartubacaflashcard.com/tag/dini

Pro kontra mengajarkan membaca pada anak usia dini masih menjadi pembicaraan hangat banyak pihak. Mereka yang kontra akan hal ini mempercayai pada hal-hal yang mereka anggap benar, padahal sesungguhnya hal-hal tersebut hanyalah mitos yang berkembang di masyarakat, dan secara ilmiah belum tentu valid kebenarannya. Mitos yang berkaitan dengan hal ini, seperti :

  1. Anak-anak yang membaca terlalu dini akan mengalami kesulitan belajar
  2. Anak yang membaca pada usia terlalu dini akan menimbulkan persoalan dan lekas bosan di kelas satu SD
  3. Anak yang belajar membaca terlalu dini akan mengalami kesulitan dengan ucapan atau lafal bunyi bahasa
  4. Anak yang belajar membaca terlalu dini akan kehilangan masa kanak-kanaknya yang berharga
  5. Anak yang belajar membaca terlalu dini akan mendapat “terlalu banyak tekanan”

Berbagai mitos tersebut diluruskan oleh Glenn Doman, seorang tokoh pengembangan kemampuan manusia, yang telah menghabiskan waktunya selama beberapa puluh tahun untuk penelitian anak-anak di lebih dari 100 negara, di lima benua kecuali Antartika. Ia menyatakan bahwa dengan adanya mitos tersebut sering membuat orang tua menjadi bimbang apakah anaknya yang berusia dibawah 5 tahun boleh untuk diajarkan membaca atau tidak.

Mitos tidak sesuai dengan kenyataan

Menanggapi mitos bahwa anak-anak yang membaca terlalu dini akan mengalami kesulitan belajar, kenyataannya yang Glenn Doman temui, tidak seorangpun dari anak-anak yang dikenal secara pribadi olehnya mengalami kesulitan dalam belajar. Ia pun tidak pernah mendapat laporan dari manapun tentang permasalahan anak yang mengalami kesulitan belajar gara-gara belajar membaca sejak usia dini. Justru dalam banyak kasus yang terjadi adalah sebaliknya, anak yang sudah terbiasa diajarkan membaca sejak usia dini akan lebih mudah menerima pelajaran di sekolah.

a2
Sumber : http://dailybruin.com/2010/10/04/smart_guy/

Masih ingat cerita Mosche Kai, anak usia 11 tahun yang berhasil lulus kuliah dengan IPK 4, dan mendapat gelar summa cum laude. Ia adalah salah satu anak yang berhasil dalam akademiknya. Menurut pengakuannya, ia memiliki kebiasaan membaca sejak usia dini. Bahkan ia termasuk salah satu anak yang mulai diajarkan membaca oleh orang tuanya sejak usia 3 bulan.

Bill Gates, seorang milyader dunia, yang berhasil berkat Microsoft-nya, juga sebagai salah satu contoh tokoh dunia yang berhasil karena ia memiliki kebiasaan membaca sejak usia dini. Sejak kecil ia senang membaca buku cerita tentang biografi orang-orang sukses yang dapat merubah dunia.

Mitos lainnya bahwa anak yang membaca pada usia terlalu dini akan menimbulkan persoalan dan akan lekas bosan di kelas satu SD. Menanggapi mitos ini, kita harus melihat dengan kacamata bijaksana. Karena kalau berbicara tentang perasaan bosan adalah hal wajar yang dirasakan oleh setiap manusia. Sama seperti hampir semua anak lainnya di kelas satu, termasuk mereka yang tidak diajarkan membaca sejak usia dini pun, sewaktu-waktu akan timbul rasa bosannya ketika belajar di kelas. Jadi perasaan bosan bukan hanya terjadi pada anak yang diajarkan baca sejak usia dini saja, melainkan juga bagi anak lain yang tidak diajarkan membaca sejak usia dinipun bisa merasakan hal yang sama. Dengan demikian timbulnya sesekali perasaan bosan adalah wajar bagi setiap anak sewaktu mereka sekolah. Namun bukan berarti rasa bosannya berkelanjutan terus hingga akhirnya mereka mogok sekolah.

Sedangkan mitos bahwa membaca pada usia dini akan menimbulkan persoalan di kelas satu SD adalah tidak sesuai dengan kenyataannya. Yang saya alami pada anak saya justru sebaliknya. Berbagai persoalan yang saya khawatirkan ketika ia memasuki sekolah dasar, alhamdulillah tidak terjadi. Berkat ikut di biMBA AIUEO, anak saya berhasil membaca di usia tiga tahun. Ketika usia TK, ia lebih unggul dibandingkan teman-teman seusianya. Saat mengikuti tes seleksi masuk di salah satu sekolah dasar unggulan pun, ia berhasil mendapatkan peringkat pertama dari ratusan pendaftar. Ketika kenaikan kelas ia berhasil menduduki peringkat lima besar di kelasnya. Ia juga berhasil mendapatkan juara kedua lomba gambar di program komputer (paint) tentang hubungan Indonesia-Australia dan mendapatkan penghargaan dari kedutaan besar Australia. Gubernur Victoria beserta jajaran dari kedubes Australia mengunjungi ke sekolahnya. Di usianya yang masih 7 tahun, minat membacanya sudah nampak dan ia memiliki ratusan koleksi buku bacaan favoritnya.

Persoalan di kelas satu SD ini, justru biasanya datang dari anak-anak yang terlambat diajarkan membaca. Anak-anak ini sering ketinggalan pelajaran, sulit mengikuti ritme belajar di kelas, dan seringkali terlambat mengumpulkan tugas dan latihan di kelas. Buntut-buntutnya orang tuanya sendiri yang kelabakan dan akhirnya konsultasi dengan guru di kelas tentang masalah anaknya tersebut. Di satu sisi, peran guru SD kelas satu sekarang bukan lagi fokus hanya belajar baca, tulis dan hitung, karena kurikulum yang diberikan menuntut anak juga sudah harus lancar dalam membaca, menulis dan berhitung

Dari contoh kasus anak saya tersebut, juga telah menepis mitos bahwa anak yang belajar membaca terlalu dini akan mengalami kesulitan dengan ucapan atau lafal bunyi bahasa. Kenyataannya, Ia pandai menyusun kalimat dengan baik bahkan sangat diplomatis ketika berbicara. Hal ini yang saya yakini bahwa kebiasaan membaca dapat menambah banyak kosakata baginya sehingga berpengaruh juga dalam pemilihan kata-kata yang baik dalam bicara.

Sedangkan mitos bahwa anak yang belajar membaca terlalu dini akan kehilangan masa kanak-kanaknya yang berharga dan akan mendapat “terlalu banyak tekanan” sebetulnya karena metodenya yang tidak tepat. Bila kita paham kondisi anak, kita terapkan metode yang tepat, maka mitos tersebut dapat dibuktikan tidak tepat. Hal yang harus kita pahami bahwa dunia anak adalah bermain. Mereka akan melakukan apa saja asalkan itu menyenangkan dan mengasyikan untuk mereka. Jadi metode yang tepat bagi anak dalam belajar adalah fun learning, bermain sambil belajar. Belajar dilakukan dengan cara yang menyenangkan hati anak. Bila anak sudah merasa senang, hati riang gembira maka materi pelajaran apapun akan lebih mudah diterima oleh mereka. Hak-hak mereka untuk bermain dan belajar kita penuhi dan kita hargai. Mereka tetap dapat merasakan bahagianya masa kanak-kanak. Dengan demikian anak menjadi tidak takut, tidak tertekan dan tidak merasa terpaksa untuk belajar.

Keistimewaan anak pada usia dibawah lima tahun

a3Jangan sia-siakan periode emas buah hati tercinta. Usia anak-anak ini boleh dibilang sangat muda, tapi dibalik fisik kecilnya tersebut, ternyata proses kerja otak pada anak usia dibawah lima tahun memiliki keistimewaan sebagai berikut :

Anak usia dibawah 5 tahun dapat dengan mudah menyerap informasi dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Pada anak yang usia dibawah 4 tahun, hal ini lebih mudah dan lebih efektif. Dibawah 3 tahun bahkan lebih mudah lagi dan jauh lebih efektif. Dan dibawah 2 tahun adalah yang paling mudah dan paling efektif.

  1. Anak usia dibawah 5 tahun dapat menangkap informasi dengan kecepatan luar biasa
  2. Makin banyak informasi yang diserap seorang anak usia dibawah 5 tahun, makin banyak pula yang dapat diingatnya
  3. Anak usia dibawah 5 tahun mempunyai energi yang luar biasa besarnya
  4. Anak usia dibawah 5 tahun dapat belajar membaca dan ingin belajar membaca

Anak usia dibawah 5 tahun dapat mempelajari suatu bahasa secara utuh, dan dapat belajar hampir sebanyak yang diajarkan kepadanya. Dia dapat diajarkan membaca satu atau beberapa bahasa sama mudahnya dengan kemampuannya untuk mengerti bahasa lisan

Dengan demikian lima mitos yang sering membuat kekhawatiran orang tua hendaknya dapat kita luruskan. Berpikirlah lebih bijak, seperti pepatah yang dikemukakan oleh Plato : “Tahukah Anda bahwa permulaan dari setiap tugas adalah hal yang paling penting, terutama bagi setiap makhluk yang muda dan lemah ? Karena pada ketika itulah makhluk itu paling mudah dibentuk dan diberi kesan-kesan yang ingin Anda tanamkan padanya.”(Bunda Ranis)

Referensi :

Glenn Doman. Mengajar Bayi Anda Membaca. Jakarta : Gaya Favorit Press. 1998

1 Komentar