97 Views

Anak dan Kegiatan Menulis

writing-ability

Bagaimana Anak dan Kegiatan Menulis?

Banyak orang memahami bahwa memiliki kebiasaan menulis adalah penting, namun sayangnya tak semua orang mau melakukannya. Hal ini biasanya disebabkan karena menulis belum menjadi kebiasaan sehingga sering dianggap sulit. Karena itu, alangkah baiknya bila kita mulai mengenalkan kebiasaan menulis bagi anak-anak sejak mereka usia dini. Berikan kesempatan bagi mereka untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalamannya melalui karya tulisnya.

Menurut ahli pendidikan anak usia dini, sejak bayi pun, seorang anak dapat merepresentasikan pengalamannya lewat suatu tulisan, walaupun tulisan itu masih berupa suatu gambar atau coretan, namun itu merupakan bagian dari membuat jurnal harian bagi anak. Melalui tulisan, orang tua dapat mengetahui pikiran dan perasaan anak saat itu. Bahkan lewat tulisan pula, orang tua dapat memperbaiki hubungannya dengan sang anak.

Sebagai contoh, seorang teman saya merasa hubungannya dengan anak perempuannya baik-baik saja. Namun suatu hari, ia menemukan buku harian anaknya yang sudah dipenuhi oleh tulisan dan gambar-gambar. Halaman demi halaman ia buka, dan ia pun tersentak melihat apa yang sudah ditulis oleh anaknya. Anaknya membuat tabel daftar orang-orang yang dia sayangi. Dari 12 nomor, nama mamanya terletak diurutan paling akhir. Nama lain yang menduduki peringkat atas adalah papanya, si mba, kakek, nenek, sepupunya dan teman-temannya. Selain tabel, ada juga tulisan lainnya yang menunjukkan kalau si anak tidak sayang dengan mamanya. Sebuah gambar besar menarik perhatian sang ibu, gambar seorang wanita yang ditulis si anak sebagai mamanya, tetapi wujudnya seperti setan, dengan gigi runcing dan tajam, ada tanduk di atas kepalanya dan kukunya panjang. Ibu manapun bila melihat hal tersebut pasti akan kaget dan sedih.

Kejadian tersebut membuat sang ibu merenung. Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa si anak begitu membenci dirinya? Padahal si ibu merasa, ia telah banyak mengorbankan waktunya untuk buah hatinya tersebut. Bahkan ia rela melepas jabatannya di kantor hanya karena ingin menghabiskan waktu dengan anak semata wayangnya tersebut.

Tiba saatnya, sang ibu pun bertanya kepada anaknya perihal isi buku tersebut. Sang anak mengatakan bahwa ia kesal dengan mamanya karena mama sering marah-marah, sering ngatur-ngatur anaknya. Bahkan dalam memilih bajupun, mama selalu mendominasi semuanya. Mama tidak pernah mendengarkan suara anaknya ketika sang anak memiliki pendapat. Ooh, terjawab sudah apa maksud tulisan dan gambar yang ada di buku harian buah hatinya.

Peristiwa diatas menunjukkan bahwa kegiatan menulis memberikan banyak manfaat bagi kita. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. James W. Pennebaker menunjukkan bahwa kegiatan mencurahkan isi hati (self-disclosure) dapat berpengaruh positif bagi perasaan, pikiran dan kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Selain itu, tubuh juga dapat terlindungi dari kerusakan akibat stres yang tersimpan di dalam dirinya.

Melihat betapa pentingnya kegiatan menulis, maka kita harus memotivasi anak-anak agar mereka memahami bahwa menulis adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Bahkan bila sudah terbiasa untuk menulis, bisa menjadi keahlian tersendiri bagi mereka yang akan berguna bagi masa depannya kelak.

Page 1 of 2 1 2