22 Views

Apakah Perlu Tes IQ Pada Anak?

Seberapa penting tes IQ pada anak?
cerdas

Kita sering mendengar kata IQ, Intelegencia Quotient atau kecerdasan intelegensia. Tes IQ ini digunakan untuk mengetahui taraf kecerdasan seseorang. Biasanya tes ini digunakan ketika seseorang mengikuti rekruitmen menjadi tentara atau sebagai tes seleksi masuk untuk bekerja di perusahaan. Namun belakangan ini, tes IQ bukan hanya berlaku di perusahaan, namun juga menjadi trend sebagai salah satu prasyarat seleksi masuk ke sekolah, termasuk tingkat SD. Banyak orang tua yang bingung, apakah tes IQ itu sebetulnya perlu dilakukan ketika anak usia TK?

Sebelum membahas lebih detail, mari kita tengok terlebih dahulu sejarah lahirnya tes IQ di dunia.

Latar belakang lahirnya tes IQ

Dahulu ketika terjadi perang dunia I yang terpusat di Eropa, pemerintah membuat peraturan untuk mengadakan tes seleksi masuk bagi para calon tentara. Saat itu pemerintah meminta kepada salah seorang psikolog berkebangsaan Perancis, Alfred Binet, untuk membuat tes recruitmen calon tentara. Hal ini bertujuan agar dapat memberikan legitimasi atau alasan siapa yang diterima dan tidak sebagai calon prajurit.

Pada zaman itu, rupanya belum ada penelitian tentang otak manusia dan cara kerjanya. Sehingga dasar yang digunakan untuk mengukur kecerdasan seseorang hanya dilihat pada asumsi “Bell Curve” atau kurva lonceng. Sistem asumsi ini dilakukan untuk mengklasifikasikan kegagalan dan kesuksesan seseorang berdasarkan kemampuan mengerjakan tes IQ tersebut. Jadi sesuai seperti bentuknya yaitu lonceng, mengerucut dan semakin bawah semakin melebar. Asumsi kurva lonceng ini dipakai untuk mengelompokkan anak yang memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata, tentunya akan berada di bidang kerucut kecil yang paling atas. Lalu anak yang berada dibawahnya digolongkan sebagai anak yang berkemampuan di atas rata-rata. Semakin kebawah, digolongkan ke dalam anak berkemampuan standar dan dibawah rata-rata. Konon pada bagian inilah yang memiliki populasi yang jauh agak lebih besar.

Tes IQ ini menyatakan bahwa semakin banyak dan tepat yang ia kerjakan, itu artinya ia sangat pintar. Begitu juga sebaliknya. Padahal saat mengerjakan tes tersebut, banyak faktor yang akan mempengaruhi jawaban si anak. Apakah kondisi anak sedang sehat, sakit, lelah atau moodnya kurang baik. Misalnya, anak yang seharusnya pintar, tetapi ketika sedang mengerjakan tes tersebut sedang dalam kondisi tidak enak badan sehingga mempengaruhi konsentrasinya, akhirnya mendapat nilai tes dibawah rata-rata. Melihat kondisi demikian apakah hasil tes IQ anak tersebut dapat dikatakan valid?

Jika ingin mengukur kecerdasan seseorang tentunya yang harus diukur adalah dari otak yang bersangkutan. Nah, pada saat itu, belum ada riset tentang otak. Oleh karena itu yang dipakai adalah basis asumsi dari Alfred Binet, yang menurutnya asumsi ini adalah benar. Hingga masa revolusi industri masih belum ada riset lagi tentang model tes kecerdasan lainnya. Oleh karena itu tes IQ, yang awal mulanya hanya dilakukan bagi para tentara, perlahan mulai diuji cobakan bagi seleksi masuk calon pekerja di perusahaan. Kemudian dari waktu ke waktu, tes IQ ini terus dipakai, meluas dan merambah ke sekolah-sekolah, hingga akhirnya sampailah pada anak kita di rumah.

Sekarang mari kita renungkan, apakah sekolah yang melakukan tes IQ pada proses seleksi masuknya berarti telah mengkotak-kotakkan mana anak yang pintar dan mana anak yang bodoh? Padahal sekolah yang notabene seharusnya adalah sebuah lembaga yang seharusnya membuat anak menjadi pintar atau menjadi juara semua, tetapi kini lebih menjadi pada sebuah lembaga yang berperan menyeleksi anak-anak yang pintar dan anak-anak yang bodoh. Padahal tujuan orang tua menyekolahkan anaknya tentunya adalah karena mereka ingin anaknya menjadi pintar dan berhasil, dan tidak menginginkan anaknya tersebut dinyatakan gagal alias bodoh.

Multiple Intelligences Test

i2Sumber : http://www.d11.org/ProfessionalDevelopment/Induction/February%20Wiki/Multiple%20Intelligences.aspx.

Seorang psikolog dan pendidik dari Amerika Serikat, Howard Gardner mengembangkan hasil penelitian yang ditemukan oleh Alfred Binet. Howard menyatakan bahwa menentukan dan mengukur kecerdasan seorang anak bukan semata hanya dari tes IQ saja. Masih banyak parameter dan asumsi yang tidak sesuai dengan sistem kerja otak anak. Coba bayangkan, kita saja sebagai orang tuanya anak-anak kita yang hidup serumah dan selalu bersama dengan keseharian mereka terkadang masih bingung untuk menemukan sebetulnya potensi unggul apa yang paling menonjol pada anak kita. Lalu bagaimana mungkin sebuah tes yang hanya berdurasi lebih kurang dua jam, bisa mengklaim bahwa anak kita termasuk dalam kategori anak-anak pintar atau anak bodoh.

Berdasarkan pemikiran tersebut, maka Howard Gardner menemukan yang namanya Multiple Intelligence. Ia menyatakan bahwa semua anak terlahir pintar. Namun mereka pintar di bidangnya masing-masing. Antara anak satu dengan anak lainnya pasti berbeda, mereka memiliki keunikan dan kehebatan masing-masing. Sehingga setiap anak tidak dapat dibanding-bandingkan mengenai kecerdasannya. Hati-hati, jangan sampai kita keliru memetakan potensi keunggulan masing-masing anak.

Menurut Burhan Elfanany, dalam bukunya yang berjudul Strategi Jitu Meningkatkan Skor Tes IQ Anak Prasekolah (PAUD & TK), bahwa manfaat tes IQ untuk anak usia dini pada dasarnya kembali pada kebutuhan dan tujuan sekolah itu sendiri. Jika tidak ada tujuan khusus ataupun suatu manfaat yang didapat dari hasil tes IQ, baik manfaat bagi sekolah maupun bagi anak, sebaiknya anak tidak perlu diikutkan tes IQ.

Dari penjabaran di atas, para pakar berhak mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Kita pun sebagai orang tua juga berhak memutuskan, apakah sebaiknya anak-anak kita perlu diikutkan tes IQ atau tidak. Yang pasti pilihan yang kita buat hendaklah harus bijaksana.(Bunda Ranis)

Sumber :

Burhan Elfanany. Strategi Jitu Meningkatkan Skor Tes IQ Anak Prasekolah (PAUD & TK). Yogyakarta : Araska. 2013

Ayah Edy. Ayah Edy Menjawab : 100 Persoalan Sehari-hari Orangtua yang Tidak Ada Jawabannya di Kamus Mana Pun. Bandung : Noura Books. 2013

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_I

Bimbingan Minat Belajar dan Minat Baca Anak Usia Dini Indonesia is Stephen Fry proof thanks to caching by WP Super Cache