93 Views

Awal yang Sulit Berbuah Kesuksesan

Apakah awal yang sulit berbuah kesuksesan?

Sesungguhnya dibalik setiap kesulitan selalu ada kemudahan

Seorang balita yang sedang belajar berjalan, tentu pada awalnya mereka akan menemui kesulitan untuk berjalan, apalagi harus berlari, berlompat-lompatan bahkan menari.    Dalam prosesnya, balita yang belajar berjalan mengalami jatuh bangun berkali-kali, tetapi dengan semangat yang diberikan oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya, seorang balita akan dapat berjalan dengan lancar.

Banyak aspek dalam kehidupan kita juga awalnya sulit untuk dilakukan.   Terutama awal yang melibatkan diri kita untuk berperan sebagai pemula dalam melakukan sesuatu hal.   Namun, banyak yang enggan untuk menjadi seorang pemula.   Berbagai alasan dan pemikiran yang menghambat seseorang  untuk mengawali sesuatu hal  tersebut.   Ada yang malas, tidak mau ambil resiko, tidak yakin akan kemampuan dirinya dan perasaan takut gagal.

Kegagalan terbesar sebenarnya terletak pada kegagalan untuk memulai sesuatu hal tersebut.   Pikiran kita masih terikat dengan kata “sulit” atau “susah”.   Padahal sulit bukan berarti tidak mungkin. Sulit hanya sebuah permulaan.   Tidak ada lagi kata sulit saat kita sudah bisa melakukannya.

Demikian pula dengan anak-anak kita.   Awal  mulanya ketika mereka belajar sesuatu pasti akan mengalami kesulitan.   Misal saja dalam belajar membaca.   Kebanyakan orang tua, khususnya bagi yang memiliki anak yang sudah duduk di taman kanak-kanak kelompok B, akan merasa bimbang, takut bahkan stress menghadapi persiapan anak yang akan masuk sekolah dasar.   Apalagi di beberapa sekolah dasar, salah satu syarat anak dapat diterima di SD harus sudah bisa baca dan tulis.   Lantas dengan fenomena ini apakah lalu ayah bunda takut untuk mengajari mereka menulis dan membaca?  Justru sebaliknya, ayah bunda hendaklah mencoba berbagai macam cara agar anak dapat menulis dan membaca dengan baik.

Segala sesuatu perlu proses

Agar dapat menulis dan membaca dengan baik dan lancar memerlukan suatu proses.   Adalah hal yang wajar bila awal mulanya anak akan mengalami kesulitan.   Namun tahapan demi tahapan mereka pelajari.    Mulai dari cara melatih motorik halusnya dengan memegang pensil yang baik, pengenalan berbagai macam bentuk garis, huruf, angka, kata demi kata hingga akhirnya mereka dapat membuat kalimat sendiri.

Proses berlatih, berlatih dan berlatihnya anak memerlukan dukungan dari Ayah Bunda.   Diperlukan ketekunan dan kesabaran Ayah Bunda memotivasi mereka untuk melakukan proses demi proses yang mereka lalui.  Ironisnya, tidak jarang Ayah Bunda yang sering tidak sabar kalau melihat anak yang mereka ajari belum mencapai kemampuan optimal, sehingga muncullah sisi emosional Ayah Bunda dengan membentak atau memarahinya.   Anak pun akan merasa takut dan tertekan.   Bagaimana mungkin seorang anak dapat menerima pelajaran dengan baik bila situasi hati sudah keburu sedih dan tidak senang?    Padahal dalam proses belajar mengajar situasi menyenangkan adalah salah satu faktor keberhasilan anak  dalam belajar.

Keberhasilan seorang anak seperti pepatah “apa yang di tabur, itulah yang dituai”.   Yang dituai adalah” hasil”, dan yang ditabur adalah “penyebab.”    Coba ayah bunda amati anak-anak kita, apapun “hasil” yang Ayah Bunda “petik” saat ini, merupakan “benih” dari yang Ayah Bunda “tanam”. Tidak ada orang lain yang memberikan “hasil” kepada kita karena kita sendiri yang menanam benihnya.   Siapapun pasti akan menginginkan hasil yang baik di masa mendatang, maka bertanggung jawablah terhadap benih yang kita tanam saat ini.

Jangan takut gagal

Sebagian besar orang memandang bahwa kegagalan adalah suatu pantangan.  Mereka menilai seseorang hanya berdasarkan “prestasi” dan “kesuksesannya”.   Mereka tidak melihat bahwa “kegagalan” itu sesungguhnya memiliki “nilai besar”.    Kegagalan sesungguhnya bukan sebagai kekalahan.  Bila dilihat dari kaca mata positif, kegagalan adalah hal yang penuh manfaat.

Sumber : http://www.mjnhconsulting.com/wp-content/uploads/2013/01/Success-Failure-keyboard.jpg

Ayah Bunda tentu masih ingat dengan cerita sang penemu lampu pijar, Thomas Alva Edison.  Ia tidak pernah lepas dari yang namanya kesulitan.  Ia  pun mengalami kegagalan lebih dari ribuan kali.  Namun ia dengan pantang menyerah dan membuat namanya berpijar sampai sekarang. Ia selalu memegang kata kunci kesuksesan bahwa,  “Saya tidak patah semangat, karena setiap usaha yang salah adalah satu langkah maju.” Dan  “Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut kegagalan”

Soichiro Honda, seorang industrialis besar dari Jepang yang produknya telah merambah pasar dunia melalui sepeda motor Hondanya, juga mengatakan bahwa “Apa yang orang lihat dari kesuksesan saya hanya 1 % ,   tapi 99 % yang tidak terlihat adalah kegagalan saya.”

Kalau kita berkaca dari para orang yang sukses, ternyata sebenarnya mereka sangat banyak menemui halangan, rintangan dan kesulitan lainnya. Namun mereka tidak pernah berhenti dan menyerah sampai pada akhirnya mereka berhasil.

 

Berani bertindak dengan sungguh-sungguh

Sumber : http://alicia-edct203.wikispaces.com/

Kemampuan anak dalam menulis dan membaca mungkin tidak secepat kita membalikkan telapak tangan.   Anak harus diajak untuk “action” melalui latihan, latihan dan latihan.   Berani bertindak, berarti Ayah Bunda berani untuk meluangkan waktu, berani untuk membimbing, memotivasi dan berani untuk mengendalikan emosi kepada buah hati.   Bersabarlah,  proses tahap demi tahap, dengan metode yang menyenangkan hati, kelak akan Ayah Bunda nikmati hasilnya.    Gambaran ini dapat diibaratkan seperti perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah.

 

Sumber : http://www.childrenslearninginstitute.org/news-and-events/newsletter/learning-leader/

Mungkin Ayah Bunda juga masih ingat dengan salah satu film layar lebar, Negeri 5 Menara.    Banyak hikmah yang dapat kita ambil dalam film tersebut.    Pesan moralnya adalah berhasil tidaknya seseorang ditentukan oleh masing-masing individu itu sendiri.    Bagaimana tiap individu melakukan suatu hal yang sungguh-sungguh maka kemenangan ada di tangan mereka. “Man Jadda Wa Jadda”,  yaitu “siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil.”

Bersungguh-sungguhlah membimbing anak dalam membaca.    Kesulitan diawal adalah hal yang biasa.   Jadikan membaca sebagai separuh jiwa mereka, maka mereka dapat merubah dunia. “Today a ReaderTomorrow a Leader !!”(Bunda Ranis)