69 Views

Bermain adalah Belajar

Apakah Bermain adalah Belajar?

bermain

Banyak orang dewasa beranggapan bahwa bermain dan belajar adalah sesuatu yang bertolak belakang. Mereka yang pro dengan pernyataan ini berpendapat bahwa “banyak bermain akan mengurangi waktu belajar”. Namun coba kalau kita tanyakan ke anak, rata-rata mereka akan menjawab bahwa “bermain itu menyenangkan sedangkan belajar menjemukan”.

Toni Buzan, seorang pakar pendidikan dari Inggris, mengungkapkan hasil penelitian yang telah dilakukannya selama 30 tahun tentang persepsi siswa terhadap kata “belajar”. Ia menemukan kata atau konsep belajar yaitu sebagai berikut : membosankan, ujian, PR, buang-buang waktu, hukuman, tidak relevan, penahanan, benci dan takut.

Bayangkan, bila belajar saja sudah dipersepsikan seperti itu, bagaimana mungkin anak-anak akan mudah menerima materi pelajaran, karena belajar dianggap bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka justru merasa bahwa belajar itu membuat mereka tertekan dan menderita siksaan batin. Nah, bila situasi ini terjadi, tidak ada opsi lain, bahwa belajar itu haruslah diciptakan dengan kondisi yang menyenangkan atau fun learning!.

Fun Learning = efektifitas belajar

Suasana yang menyenangkan dan rileks sesungguhnya merupakan faktor penting dalam suatu kegiatan belajar. Proses pembelajaran dikatakan efektif bila pembelajar dalam keadaan gembira, nyaman dan rileks. Keadaan ini telah terbukti akan meraih pencapaian luar biasa terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Sehingga keberhasilan seseorang bukan semata-mata berasal dari kecerdasan intelektual saja, tetapi justru kecerdasan emosional yang lebih banyak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap efektifitas pembelajaran.

Coba kita perhatikan, ketika mendengar bel pulang sekolah, anak-anak akan spontan berteriak lepas, “Horeee…!”. Ini menandakan bahwa sudah lepas beban mereka untuk belajar di sekolah. Jadi sekolah merupakan beban bagi mereka. Padahal bila kita lihat asal kata sekolah berasal dari kata “scholae”, yang bermakna bersenang-senang atau bermain-main. Tetapi kenyataannya, sungguh kontradiktif bukan??

Ketika anak sedang belajar, waktu terasa bergerak sangat lambat. Namun sebaliknya ketika bermain, anak merasakan waktu sedemikian cepat berlalu. Kondisi-kondisi itulah, yang kini dikenal dengan istilah belajar melalui bermain. Dengan demikian belajar di mata seorang anak, bukan lagi menjadi hal yang membosankan karena dilakukannya sambil bermain. Waktu tidak akan terasa lama lagi bagi anak, karena mereka fun melakukannya dan enjoy!

Dengan demikian, orang tua dan guru yang bijak hendaknya mampu menyulap kegiatan belajar menjadi kegiatan bermain yang menyenangkan (fun learning). Suatu materi pelajaran harus dapat diubah menjadi permainan yang menarik dan menggairahkan anak. Ketika bermain, situasi dan hati anak riang gembira. Kondisi ini akan memudahkan anak untuk menerima dan memahami materi pelajaran yang diberikan.

biMBA-AIUEO sangat paham akan kondisi ini. Oleh karena itu kehadiran biMBA membantu anak usia 3-6 tahun untuk menumbuhkan minat baca dan belajarnya. Melalui metode fun learning, biMBA telah mendesign sedemikian rupa seluruh materi pelajaran yang disampaikan kepada anak dilakukan sambil bermain. Sehingga anak tidak merasa terpaksa dan terbebani, justru mereka merasa senang, riang dan gembira. Kini belajar bukan lagi menjadi momok yang menakutkan dan membosankan bagi anak, tetapi belajar akan menjadi hal yang menyenangkan anak.

Manfaat bermain

Bermain-Balok-Susun

Menurut ahli sejarah, manusia itu disebut homo ludens, yaitu makhluk bermain. Jadi permainan itu ada bersama adanya manusia itu sendiri. Oleh karena itu, selama masih ada manusia di muka bumi ini maka manusia tidak akan menghindar dari yang namanya bermain.

Para pakar perkembangan anak, seperti yang dikutip dalam situs kompas, menyatakan bahwa terdapat lima bukti ilmiah dari manfaat bermain, yaitu berperilaku lebih baik, mampu bekerjasama dalam tim dan berempati, banyak bergerak dan aktif, meningkatkan kemampuan belajar dan membuat gembira.

Hal serupa juga dipaparkan oleh psikolog anak, Anna Surti Ariani M.si, bahwa bermain itu merupakan proses belajar secara kinestetik pada anak. Dengan bermain anak akan bergerak dan aktif, inilah yang disebut proses kinestetik. Proses belajar kinestetik ini akan lebih mudah dipahami oleh anak dan akan diingat dalam jangka waktu lebih lama. Bermain adalah hal yang sangat penting bagi anak. Ketika anak bermain mereka dapat mengeksplorasi dunia sekitarnya, mendapatkan wawasan tentang peristiwa dan situasi sehingga anak akan paham tentang dunia dalam arti yang sebenarnya.

Saat ini, frekuensi anak bermain di luar rumah menjadi sangat berkurang. Menurut ketua Wild Network, Andy Simpson, yang dikutip oleh BBC Indonesia, bahwa anak-anak telah kehilangan kontak dengan alam dan lingkungan di luar rumahnya. Hasil penelitian ini terungkap bahwa aktivitas anak-anak di luar rumah tergantikan oleh kegiatan mereka di depan layar komputer, televisi atau games. Oleh karena itu, orang tua yang memiliki anak dibawah usia 12 tahun, sebaiknya membiarkan anak-anak mereka menggunakan bermain di luar rumah selama 30 menit per hari. Karena dengan bermain, terdapat proses belajar yang sedang dilakukan oleh anak.(Bunda Ranis)

Sumber :

Ida S. Widayanti. Catatan Parenting 1 : Belajar Bahagia, Bahagia Belajar. Jakarta : Arga Tilanta. 2012

http://en.wikipedia.org/wiki/Tony_Buzan

http : //majalahkesehatan.com/mengapa-anak-anak-perlu-bermain/

http://www.bbc.co.uk/indonesia.majalah/2013/10/131027_pendidikan_anak.shtml

http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/10/27/917/190740/Biarkan-anak-bermain-di-luar-rumah-selama-30-menit

http://health.liputan6.com/read/684763/ini-dia-alasan-pentingnya-bermain-bagi-anak