70 Views

Bicaralah Nak

Bicaralah Nak

“Anak saya Tania usia 3 tahun, sangat pendiam dan susah diajak bicara dengan orang yang baru ditemuinya.  Saya sudah memasukkannya ke dalam kelompok bermain, tapi belum ada perubahan.  Ia juga tidak pernah mau diajak temannya bermain.   Apa yang harus saya lakukan?”

Ayah bunda, fenomena seperti Tania jamak terjadi di keluarga Indonesia.  Anak usia 3 tahun masih membutuhkan waktu untuk dapat bersosialisasi dan menerima teman bermain. Anak-anak seusia ini masih kental dengan pola asuh ibu yang selalu dekat dan dipercaya anak untuk dapat memberikan rasa nyaman pada dirinya.

Adakah yang salah dalam diri anak seperti Tania?

Hasil riset Howard Gardner, PhD, pakar dan penggagas multiple intelligences, menyatakan bahwa sifat pendiam dan pemalu, bisa juga merupakan petunjuk awal bahwa anak memiliki kecerdasan.   Dua sifat itu menjadi ciri anak-anak yang memiliki ’Kecerdasan Intrapersonal’.

Kata “Pintar” selalu dikaitkan dengan sikap anak yang pendiam dan penurut.   Orangtua cenderung bangga dengan ungkapan pujian dari orang lain, sehingga sering lupa bila tindakan’’arogansi’’ ini lebih terfokus dari kepentingan mereka saja, tanpa pernah menyadari bahwa hal ini sebenarnya lebih identik dengan pengekangan yang berakibat pada berkurangnya eksploratif anak.

Juliana, S.Psi., psikolog dari pusat konseling IPEKA di Jakarta Barat, menyatakan bahwa kondisi anak yang seperti ini, tak bisa dibiarkan.

Beberapa faktor yang menyebabkan seorang anak menjadi pendiam yaitu :

–    Faktor Pola Asuh

Ada perbedaan budaya dalam hal mendidik anak di Asia, Eropa atau Amerika.   Di Asia, jika orangtua marah dan anak menjawab, maka orangtua akan bertambah marah, kata-kata seperti  “Diam”,  “Jangan melawan kalau orangtua berbicara”,  sering didengar oleh anak.    Sedangkan di Eropa dan Amerika, mereka malah meminta anaknya untuk berbicara dan memberikan alasan.

– Pernah mendapat hukuman atau sanksi dari guru.

Hukuman dan kata “Berisik”  adalah dua hal yang tertanam dalam pikiran anak, ketika guru menegurnya karena terlalu banyak bicara saat bermain dan belajar di kelas.   Kemampuan nalar seorang anak masih sederhana.   Ia akan menyimpulkan bahwa semua jenis bicara di kelas akan dihukum.    Akhirnya si anak memilih diam selama berada di kelas/sekolah.

– Orangtua yang over protektif

Sebagian orangtua saat ini cenderung menginginkan anaknya sebagai “orang dewasa mini”.  Anak dituntut untuk selalu mampu menangkap keinginan orangtua.  Segalanya selalu berakhir dengan kata “tidak boleh” atau “jangan”.   Larangan ini kadang tidak disertai pilihan yang boleh dilakukan anak.

Anak akan merasa serba salah, sering disalahkan, dihukum, dan sering dilarang oleh orangtua.   Hal ini akan membuat suasana hati anak menjadi ragu dan tidak berani mengambil keputusan terhadap apa yang ia inginkan.

– Lingkungan rumah tidak harmonis.

Situasi lingkungan rumah yang tidak harmonis akan menyebabkan anak bingung, lebih banyak melamun dan menjadi pendiam.

 – Mendapat pengalaman tidak enak di lingkungan teman-temannya.

Contoh, dicuekin lingkungan mainnya, dijauhi kelompok karena sikapnya pada salah seorang teman tidak diterima oleh kelompok.  Di sini anak belajar, “Daripada salah lagi di mata teman-teman, akhirnya dicuekin dan tidak diterima, mending diam saja. Yang penting tidak dimusuhi.”

Gambar : www.ary-sutrismi.blogspot.com/

–    Jarang berinteraksi dengan lingkungan yang ramai

Anak yang terlahir sebagai anak tunggal tidak terbiasa berinteraksi dan kurang mengembangkan kemampuan verbalnya.   Hal ini bisa memicu sifat anak menjadi pendiam dan penyendiri

Apa yang harus kita lakukan?

Sifat alami anak tidak sama, ada yang pendiam, pemalu, ceriwis(suka berceloteh).  Jika anak  memiliki sifat pendiam atau pemalu, kita dapat melatihnya, yaitu dengan :

  • Berbicaralah dengan nada halus

Gambar : www.jurukunci,net

Anak yang berkarakter pendiam memiliki perasaan yang halus dan mudah tersinggung.   Sedikit saja nada bicara kita tinggi, maka anak akan merasa telah dimarahi orang tuanya.

  • Hindari membandingkannya dengan anak lain yang lebih berani bicara.

Perlu diingat setiap anak yang lahir ke dunia telah membawa sifat-sifatnya sendiri.   Jangan memaksakan kehendak kita pada anak yang bersifat pendiam, untuk menjadi seperti anak yang lain.   Ini akan membuat anak tertekan dan merasa tidak mendapatan kebebasan.

  • Saat sedang bertengkar, orangtua sebaiknya menjauh dari anak.

http://duniachybill.wordpress.com

Dampak negatif untuk anak pendiam lebih besar dari pada anak yang aktif.  Anak pendiam cenderung traumatik.

  •  Melatihnya bersosialisasi dengan teman sebaya

Anak pemalu biasanya akan selalu mengawali langkahnya dengan belajar beradaptasi mengenal sesuatu, baik situasi maupun teman baru. Ajak anak untuk berkumpul bersama teman sebaya dengan mengunjungi kelompok bermain yang ada di lingkungan sekitar. Karena di sini ia mempunyai banyak kesempatan untuk mengenal lebih banyak anak seusianya sehingga ia termotivasi untuk berinteraksi dengan teman dan beri ia ruang untuk melakukan aktivitas yang di senanginya.

  • Memberikan contoh menyapa setiap orang yang ia temui dengan ramah dan sopan

Perlu peran aktif  ayah bunda dan juga guru-guru di sekolah.   Beri contoh cara-cara menyapa teman, ikut serta dalam permainan kelompok, dan tingkah laku prososial.

  • Perhatikan pada situasi apa anak lebih berani bicara dan keadaan apa ia sangat pendiam.

Memberikan kebebasan pada anak untuk mengekspresikan semua keinginannya.  Perhatikan dan bimbing ia agar tidak membahayakan dirinya.

  • Berikan pujian

Bila anak menunjukkan usaha untuk bicara, beri ia pujian dan dorongan untuk meneruskan usahanya.    Ir.Jarot Wijanarko, konselor di bidang keluarga, menyarankan, jika anak dengan bangga menunjukan kebolehannya berbahasa Inggris dan mengucapkannya dengan spelling yang salah, biarkan saja.    Jangan sedikit-sedikit disalahkan, nanti dia akan malas, malu dan tidak berani berbicara

  • Jangan memaksakan anak bicara dan bermain bila ia belum siap.

Sabar menunggu kemajuan anak bicara.   Yang penting kita tetap menunjukkan penerimaan dan kasih sayang walau ia memiliki kekurangan.

Sebagai orangtua dan juga sebagai guru, mari kita melatih mereka menjadi anak-anak yang berani berbicara.   Ajak murid-murid ataupun anak untuk berdiskusi dan belajar mengemukakan pendapat

Kepribadian akan berkembang ketika orang didengarkan.    Jadilah pendengar yang baik dan sabar untuk anak dan murid-murid, karena dengan itu kita akan melihat dunia dari sudut pandang mereka.    Bukanlah soal membuatnya “berani” bicara, tetapi yang lebih penting adalah proses penerimaan kita terhadapnya yang akan berdampak timbulnya rasa bahagia pada diri anak.(Niken)

Jangan ragu, bicaralah Nak….

Semoga bermanfaat!

Salam biMBA, Tetap Semangat dan Terus Belajar!

Referensi :

http://www.parenting.co.id/article/artikel/tanya.jawab/agar.anak.berani.bicara/001/006/608/ab

http://www.charismaindonesia.com/index.php/columnis/_Pentingnya-Keberanian-Berbicara-_/293

http://taqihanif.blogspot.com/p/mengatasi-anak-pendiam-dan-penyendiri.html

http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/msg01616.html
http://www.getscoop.com/majalah/tumbuh-kembang-mar-2013

http://lathifahaisyah.blogspot.com/2012/12/terlalu-soliterpendiam-dan-pemalu.html

http://www.noormuslima.com/bagaimana-menghadapi-anak-yang-pendiam/