120 Views

Budaya Baca Dimulai dari Keluarga

Budaya Baca Dimulai dari Keluarga?

Mother reading book for children

Kesulitan mengajak anak untuk mau membaca buku selalu hangat dibicarakan oleh orang tua dan guru. Banyak media massa dan berbagai seminar dilakukan untuk membahas mengenai masalah ini. Namun demikian, topik ini tetap menarik untuk dibicarakan karena peningkatan minat baca ternyata masih tetap jalan di tempat. Sebagai orang tua apakah kita akan tinggal diam melihat fenomena tersebut? Apakah generasi penerus kita akan terus berada dalam lingkaran “kemalasan untuk membaca buku?” Apakah kita tidak ingin mencetak anak-anak kita menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas dan menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat? Padahal masa depan keluarga kita dan bangsa Indonesia ada di tangan mereka.

Pengaruh lingkungan dengan anak

Pada hakikatnya setiap anak terlahir bagaikan kertas putih yang masih bersih. Goresan pada kertas tersebut terbentuk atas pengaruh dari lingkungan terdekatnya. Siapa lingkungan yang paling sering berinteraksi dengan anak-anak kita? Merekalah yang banyak berperan dalam memberikan warna pada goresan tinta di atas kertas putih tersebut. Setiap anak sejak ia lahir akan mengamati, meniru dan memodifikasi berbagai kebiasaan dan perilaku lingkungan di sekitarnya. Baik buruknya perilaku dan karakter mereka tidak akan jauh berbeda dengan siapa sosok dibalik anak tersebut. Kalau anak-anak dapat tumbuh menjadi anak pembelajar, tentunya ia datang dari keluarga pembelajar. Sebaliknya, kenapa anak malas untuk belajar, mari saatnya orang tualah yang harus berinstropeksi apakah budaya belajar sudah ditanamkan pada lingkungan keluarga?

Sama halnya dengan budaya membaca. Berbagai studi dilakukan dan menyatakan minat baca di Indonesia masih rendah. Padahal berdasarkan hasil penelitian juga membuktikan bahwa anak yang suka membaca bukan hanya akan sukses di sekolah, tapi juga kelak di tempat kerja. Untuk mensiasati agar anak kita gemar membaca, maka tidak ada jalan lain kecuali peranan orang tua yang sangat dibutuhkan. Caranya dengan membiasakan anak sejak usia dini untuk mengenal apa yang dinamakan buku dan membiasakan mereka untuk membaca buku. Hal ini harus dilakukan secara konsisten dan berulang-ulang. Lama kelamaan akan terbentuk pribadi yang kuat dalam diri anak dan terbawa terus hingga mereka dewasa. Dengan demikian anak akan menyadari bahwa membaca bukan hanya sekedar hobi, tetapi merupakan suatu kebutuhan bagi hidup mereka.

Persamaan visi dan misi

peran-ortu

Untuk bisa konsisten memang bukan hal yang mudah tetapi bukan berarti tidak dapat dilaksanakan. Dalam hal ini membutuhkan komitmen kuat antara anggota keluarga, khususnya orang tua, sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab kita guna membentuk kepribadian kuat bagi anak. Dukungan orang tua untuk menstimulasi anaknya agar gemar membaca sangat berperan besar. Tentunya dalam hal ini antara ayah dan ibu harus memiliki visi dan misi yang sama untuk mendidik anaknya. Sebagai contoh, saya mencoba menerapkannya di rumah. Karena terbiasa dibacakan buku sebelum tidur maka anak-anak saya tidak mau tidur sebelum dibacakan buku terlebih dahulu. Ketika saya sedang tidak bisa membacakan buku, suami saya segera berperan sebagai pendongeng yang baik, begitu pula sebaliknya. Jangan hanya menuntut anak untuk ini dan itu sesuai kehendak kita, tetapi kita sendiri tidak memberikan teladan kepada mereka bahwa kitapun juga melakukan hal yang sama.

Menurut pustakawan Devy Chrisdewanty, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menciptakan budaya baca pada anak yaitu :

1. Bacakan buku sejak anak baru lahir

Secara psikologis, anak sudah dapat diajak berkomunikasi sejak lahir, bahkan sejak di dalam kandungan. Maka kenalkanlah anak dengan buku sejak dini.

2. Biasakan membaca di depan anak

Anak-anak, biasanya meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya, istilah psikologinya adalah imprinting : mencetak. Jadi, orang tua dan orang-orang yang berada di sekitar anak, dapat membiasakan membaca di depan anak-anak.

3. Membacakan cerita untuk anak

Membacakan cerita/dongeng dapat merangsang imajinasi anak. Hal ini membuat anak semakin kreatif.

4. Rekreasi ke toko buku

Ajaklah anak-anak untuk rekreasi ke toko buku. Agendakan misal tiap hari minggu.

5. Ajak anak mengunjungi perpustakaan

Ajaklah anak rutin mengunjungi perpustakaan. Misalnya ke perpustakaan kebun binatang untuk mengetahui hewan. Hal ini bisa sekaligus untuk rekreasi sekeluarga, dan tentunya semakin mengakrabkan anggota keluarga. Bisa juga ke perpustakaan umum, bagian anak-anak. Selain membuat orang tua hemat, karena tidak perlu membeli buku, tetapi pengadaan buku untuk kegiatan anak membaca, tetap tersedia.

6. Ajak anak pergi ke pameran buku

Ajaklah anak pergi ke pameran buku, dan belikan anak anda buku. Biarkan mereka memilih buku yang ia inginkan. Dengan begitu, dia akan membaca buku tersebut, karena dia sendiri yang memilih. Jangan lupa, mintalah anak untuk menceritakan kembali isi buku tersebut. Bersikaplah seolah-olah anda adalah orang yang tidak tahu apa-apa, biarkan anak anda mengajari anda.

7. Buatlah jam wajib baca

Buatlah jam wajib baca keluarga, jam sesuai dengan kesepakatan anggota keluarga. Misalnya setiap hari jam 18.00-19.30 WIB. Maka, seluruh anggota keluarga wajib berkumpul dan membaca.

8. Biasakan memberi hadiah pada anak dengan buku

Jika anak meraih prestasi di sekolah, atau prestasi apapun yang cukup membanggakan, berilah hadiah buku. Hal ini membuat si anak akan mengerti betapa berharganya buku karena buku adalah “harta” yang tak ternilai.

9. Jauhkan anak dari TV, play station dan sejenisnya

bahaya-bermain-playstation

Jane M. Healy, Ph.D mengemukakan, anak yang terbiasa menonton TV, otaknya cenderung “banyak istirahat” sehingga otak anak cenderung malas karena terbiasa menangkap saja.

Ketika seseorang membaca, maka secara refleks, otak mempunyai aktivitas, yaitu berpikir. Oleh karena itu sebaiknya orang tua melarang atau sekurang-kurangnya membatasi anak menonton TV dan komputer yang difungsikan sebagai videogame karena keduanya membuat anak menjadi pasif. Padahal untuk mengembangkan kualitas diri dan kepribadiannya, anak harus berpikir aktif.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca bersama anak, adalah salah satu kegiatan sederhana yang efeknya luar biasa. Semua anak dapat diajak untuk mengetahui nikmatnya membaca. Anak yang tidak senang membaca hanyalah anak yang belum tahu ‘cara membaca’, atau anak yang terlambat diperkenalkan pada kegiatan membaca. Maka jadikanlah jam membaca bersama anak sebagai salah satu sesi penting dalam kegiatan harian anak bersama orang tua. Sehingga perlahan membaca akan menjadi budaya dalam keluarga kita tercinta.(Bunda Ranis)

Sumber :

http://library.perbanas.ac.id/news/kenapa-minat-baca-masyarakat-indonesia-rendah-.html

http://library.perbanas.ac.id/news/tips-meningkatkan-minat-baca-pada-anak.html

http://infopsikologi.com/membaca-bersama-mengenalkan-nikmatnya-membaca-pada-anak/