83 Views

Gemar Membaca Buku Sebagai Gaya Hidup

Bagaimanakah gemar membaca buku sebagai gaya hidup?

Bagi kaum metropolis, kecenderungan untuk mengikuti trend merupakan suatu kebutuhan. Berkiblat pada segala sesuatu yang dianggap   jamak, up to date, dan gaul adalah fenomena pemicu gaya hidup seseorang.

Sebagai generasi smart, boleh kan (bahkan mungkin disarankan?) kita ciptakan lagi trend yang tak kalah worthy  bahkan sudah selayaknya jadi kebutuhan? Yaitu trend gemar membaca buku.

Ungkapan klise ‘buku adalah jendela dunia’ nampaknya masih belum sepenuhnya disadari masyarakat. Berdasarkan data, minat baca masyarakat Indonesia untuk kawasan Asia Tenggara saja menduduki peringkat keempat, setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi kita. Rendahnya minat baca dan lemahnya kemampuan ekonomi masyarakat sering menjadi kendala dalam merealisasikan ungkapan ini. Tetapi benarkah demikian?

Sebenarnya tingginya minat baca tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya tingkat kemampuan ekonomi seseorang. Minat baca lebih merupakan keadaan yang bervariasi sesuai dengan lokalitas di setiap elemen penyusun gerak masyarakat. Sedangkan esensi meningkatkan budaya baca masyarakat berbanding lurus dengan bagaimana memberikan kesadaran tentang betapa pentingnya informasi dalam kehidupan mereka. Persepsi terhadap informasi itulah yang sebenarnya merupakan faktor penentu mengapa orang rajin atau malas membaca buku. Sesungguhnya, dengan membaca buku wawasan pengetahuan kita menjadi bertambah. Banyak informasi dan pengetahuan yang akan kita dapatkan dari membaca buku.    Tapi di negara kita, harus diakui, buku belum menjadi suatu kebutuhan yang diperhitungkan atau belum menjadi skala prioritas.

Berangkat dari realita diatas, diperlukan upaya konkret guna meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Lingkungan keluarga memegang peranan penting sebagai pola pembentuk awal, kemudian baru beralih ke lingkungan yang lebih luas di masyarakat.

Untuk meningkatkan minat baca ini ada baiknya kita meniru budaya yang dikembangkan Jepang. Di sana ada gerakan 20 minutes reading of mother and child. Gerakan ini mengharuskan seorang ibu mengajak anaknya membaca selama 20 menit sebelum tidur.  Gerakan ini bisa sangat efektif jika didukung oleh kesadaran yang tinggi, ketersediaan buku yang memadai (termasuk kemudahan mendapat buku yang cocok), dan dukungan dari berbagi pihak. Faktor pendorong lainnya adalah pola kebiasaan keluarga menghabiskan akhir pekannya. Keluarga Indonesia harus didorong untuk lebih memilih jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan, sehingga lebih mengasah intektualitas dan akrab dengan buku.

Minimnya pemberitaan tentang orang-orang yang berhasil karena membaca buku ikut menjadi faktor penting rendahnya minat baca. Hal lain yang perlu dikritik adalah rendahnya pemberian penghargaan pada karya intelektual. Hal ini ikut mendorong masyarakat malas berkarya dan membaca.

Jika membaca buku sudah menjadi gaya hidup, tentu tak akan ada lagi jarak antara kita dengan buku. Eksistensi buku pun sudah dianggap sebagai daily needs.Bukan lagi sekedar hobi, namun sudah menjadi kebutuhan. Efeknya, masyarakat tidak lagi menyikapi buku dengan kening berkerut, karena setiap kalangan, profesi, usia, dan latar belakang lainnya telah mempunyai buku masing-masing. Artinya, buku tidak lagi dipandang secara elitis yang ditulis, diterbitkan, dan dibaca oleh kalangan tertentu namun sudah menjadi milik bersama.   Selamat membaca dan meningkatkan efisiensi membaca Anda !

(Humas BPT Sragen/ AND – diolah dari berbagai sumber)

http://bpt.sragenkab.go.id/content/berita/berita/17nov09membaca.html

Bimbingan Minat Belajar dan Minat Baca Anak Usia Dini Indonesia is Stephen Fry proof thanks to caching by WP Super Cache