12 Views

Great Teachers

Bagaimana sosok seorang Great Teachers?

Teacher cleaning chalkboard with duster

Selamat bagi yang telah memilih profesi hidupnya menjadi seorang guru.   Guru adalah profesi mulia, mengajarkan banyak orang yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari belum bisa membaca, menulis dan berhitung menjadi pandai dalam membaca, menulis dan berhitung. Semuanya karena jasa mulia para guru. Jadi memang pantas bila label guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Sosok guru hendaknya dapat dijadikan panutan bagi seluruh muridnya. Baik buruknya perilaku dan kata-kata guru menjadi cerminan bagi sang murid. Berkaitan dengan itu, pernahkah kita merenung dan berinstropeksi, “Apakah Saya sudah menjadi guru ideal yang dapat menjadi panutan murid-murid?”. “Ingin dipandang sebagai sosok guru yang bagaimanakah kita, agar orang lain tetap mengingat diri kita setelah kita meninggal dunia?”.

Bila mendengar jenis pertanyaan diatas, banyak orang yang masih bingung menjawabnya. Coba sekali waktu, berpikirlah sejenak sambil menenangkan diri. Kita harus tahu hal apa yang kita inginkan? Kalau sudah tahu apa sebetulnya keinginan kita, otomatis semua perilaku dan tindakan kita akan mengarah dan mengupayakan keinginan tersebut agar terwujud. Jadi Kalau kita mau membentuk image diri kita sesuai yang kita inginkan, maka perlihatkanlah tindakan kita setiap hari sesuai yang kita ingin bentuk. Sehingga tanpa disadari, kita telah “mendikte” orang-orang di sekitar kita untuk berpersepsi atas diri kita sesuai yang kita inginkan.

Terkait dengan pertanyaan di atas, bila saya mendapat pertanyaan serupa, saya ingin bisa dikenang sebagai guru yang bisa membantu meringankan “beban pikiran” ketika murid-murid saya menghadapi masalah. Saya mengajar life skills bagi anak SMA, STM dan SMK yang sebagian besar berasal dari kalangan ekonomi kurang mampu. Setiap kali saya mengajar saya selalu berusaha untuk memberikan motivasi bagi mereka. Setiap selesai training, mereka bergantian datang ke meja saya untuk curhat mengenai masalahnya masing-masing. Mulai dari masalah percintaan mereka dengan pacarnya, masalah keluarga, belajar, organisasi, kepemimpinan dan hal lainnya yang sering menjadi masalah pada usia remaja umumnya. Saya mencoba menjadi wadah curhat mereka, ketimbang mereka curhat kepada orang yang justru akan mengarahkan ke hal negative. Maklum, usia remaja adalah usia labil. Mereka dengan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Untuk curhat ke orang tua saja kecenderungan mereka takut dan malu. Jadi saya mencoba untuk membuat situasi mereka nyaman, sehingga mereka bisa trust dengan saya. Di luar jam training, ada pula yang curhat via SMS dan BBM. Kapanpun saya ada waktu, dengan senang hati saya akan bantu mereka.

Hal ini sesuai pula dengan teori yang dicetuskan oleh Stephen R. Covey mengenai “Begin with the End Mind”. Artinya, pada saat ingin memulai sesuatu, kita harus memiliki gambaran akan hasil yang ingin dicapai secara jelas. Apakah kita ingin dipandang sebagai guru kreatif, guru yang selalu respect kepada muridnya, guru yang selalu perhatian terhadap murid, guru humoris atau ingin menjadi guru yang dapat memenuhi semua kriteria tersebut? Be a great teachers. Pilihan itu ada di tangan kita masing-masing. Kesuksesan seorang guru bukan hanya dilihat dari berhasilnya ia mengajarkan suatu materi pelajaran, kemudian murid mampu mengerjakan soal-soal dan mendapatkan nilai bagus. Yang tidak kalah penting, bahwa seorang guru mampu membimbing dan membentuk akhlak, perilaku dan karakter yang baik bagi murid-muridnya.

teacher

Berikut ini beberapa hal yang bisa menjadi cerminan bagi kita bersama, mari kita berinstropeksi, sudahkah kita melakukan ini terhadap murid-murid kita tercinta?

Respect (Menghormati)

Bila kita mau menjadi guru yang di respect oleh para murid, bersikap respect terlebih dahululah terhadap mereka. Respect is not demanded, respect is earned. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menghormati kita, rasa hormat itu otomatis akan datang dengan sendirinya tanpa kita harus menuntutnya. Asalkan, hormatilah orang lain terlebih dahulu! maka kesempatan kita untuk bisa dihormati oleh mereka menjadi lebih besar. Jangan mentang-mentang kita sebagai gurunya, dengan seenaknya kita bisa secara otoriter memerintahkan dan memperlakukan murid semau-mau kita. Hormati mereka, layaknya kita ingin dihormati oleh mereka.

Attention (Perhatian)

Murid manapun pasti merasa senang bila diperhatikan oleh gurunya. Pernahkah kita merenung berpikir untuk menekankan bahwa betapa pentingnya para murid kita, bukan seberapa pentingnya posisi kita. Pernahkah kita berhenti total dengan sesuatu yang sedang kita kerjakan dan memberikan perhatian penuh terhadap murid yang datang ke meja atau ruangan kita? Ketika kita mampu berpikir seperti ini, kita akan menaruh 100 % perhatian terhadap murid-murid kita.

Marshal Goldsmith dalam bukunya yang berjudul What Got You Here Won’t Get You There bercerita bahwa Bill Clinton, mantan presiden Amerika Serikat, adalah tokoh dunia yang begitu hebat dalam memberikan perhatian kepada siapapun yang sedang berbicara kepadanya. Sampai-sampai orang yang sedang berbicara dengan Bill Clinton merasa seperti sedang berbicara hanya berdua dengannya dalam satu ruangan. Bill mampu menekankan betapa pentingnya orang yang sedang bicara dengannya. Bill justru tidak berpikiran bahwa ia adalah seorang yang “penting”. Ketika orang sedang berbicara dengannya, Ia mampu memberikan full attention dan mampu berfokus total terhadap lawan bicaranya. Kalau seorang Bill Clinton saja bisa, pasti kita juga bisa! Asalkan kita mau untuk humble (rendah hati/tidak sombong). Seorang guru yang rendah hati, tentunya akan dihargai dan disayang oleh para muridnya.

Creative

Seorang guru yang kreatif mampu mengerjakan segala hal. Bila kita mampu menjadi seorang guru yang kreatif, tanpa disadari kita akan menghasillkan sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak lagi. Pemahaman kreatif tidak harus berarti kita menciptakan sesuatu yang baru. Tetapi bagaimana kita mengolah dan memodifikasi yang sudah ada dan berhasil membuatnya menjadi lebih baik lagi. Mungkin saja ketika mengerjakan segala sesuatu bukan dengan cara yang biasa, tetapi bisa juga dengan berbagai cara, jalan dan alternatif-alternatif lainnya agar dapat mencapai suatu tujuan.

Thomas Neff dan James Citrin, Michael Eisner, Chairman dan CEO Walt Disney Company menyatakan bahwa betapa pentingnya menjadi seorang yang kreatif. Kreatif bukan hanya dibutuhkan pada orang-orang yang bekerja di dunia kreatif, seperti advertising, broadcasting atau marketing. Tapi dunia pembelajaran juga sangat membutuhkan sosok-sosok guru yang kreatif. Dengan proses pembelajaran yang penuh kreativitas, murid akan exciting, tidak mudah bosan, dan fun. Ketika suasana dan hati murid sudah fun, materi pelajaran yang kita berikan akan lebih mudah dipahami oleh mereka. Bahkan bisa jadi mereka tidak sabar menunggu, akan ada kejutan dan kreativitas apa lagi di materi pelajaran yang akan mereka terima esok hari. Kalau guru bisa berperan sebagai sosok yang kreatif, maka dapat melahirkan murid-murid yang kreatif.

Humor

Guru harus mampu menciptakan situasi yang nyaman bagi muridnya. Salah satu cara untuk mencairkannya yaitu lewat humor. Seorang penulis buku sekaligus executive coach, D.A. Benton, menyatakan bahwa orang yang humoris akan memiliki banyak teman. Mereka akan lebih terbuka dan dianggap fun oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Keceriaan orang humoris dapat menciptakan suasana yang membuat orang-orang di sekelilingnya merasa nyaman. Namun yang perlu diingat, humor yang kita lontarkan tidak dapat dilakukan setiap saat, tetapi harus melihat situasi dan kondisi yang tepat lebih dulu. Dengan membuat murid bisa tertawa akan membuat mereka rileks, tidak tegang dan nyaman. Yang pada akhirnya mereka akan menyukai dan memilih untuk berada dekat dengan gurunya.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari sama-sama kita menjadi seorang guru yang hebat. Be a great teacher!

Daftar Pustaka :

Billy Boen. Young on Top : 35 Kunci Sukses di Usia Muda. Bandung : B Fisrt. 2013

Billy Boen. TOP Words 2 : Kisah Inspiratif dan sukses orang-orang TOP Indonesia. Bandung : B First. 2013

Oleh : Bunda Ranis

Bimbingan Minat Belajar dan Minat Baca Anak Usia Dini Indonesia is Stephen Fry proof thanks to caching by WP Super Cache