775 Views

Guru Sebagai Motivator

Sumber : www.layar-tancep.com

Makna pembelajaran dikatakan berhasil bila siswa mempunyai motivasi dalam belajar sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif.     Oleh karena itu peran seorang  guru bukan hanya semata-mata mentransfer ilmu mata pelajarannya kepada siswa, tetapi, guru juga sebagai motivator bagi siswa agar memiliki orientasi dalam belajar.      Guru harus mampu menumbuhkan dan merangsang semua potensi yang terdapat pada siswanya serta mengarahkan agar mereka dapat memanfaatkan potensinya tersebut secara tepat, sehingga siswa dapat belajar dengan tekun untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.     Kondisi inilah yang menyebabkan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented).

Pembelajaran yang berorientasi kepada siswa bertujuan agar dapat menimbulkan motivasi intrinsik pada diri siswa.    Maksudnya bahwa motivasi siswa dapat timbul tanpa perlu adanya rangsangan dari luar karena di dalam diri mereka sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.  Misalnya siswa yang memiliki minat membaca.    Timbulnya minat membaca dari dalam diri siswa atas kesadarannya sendiri.    Ia rajin mencari buku-buku yang ingin dibacanya.   Keinginan untuk membaca timbul karena dorongan dan kesadaran dari dalam dirinya sendiri, jadi siswa tidak terus-terusan  dijejali dengan perintah atau instruksi untuk melakukan aktivitas membaca.

Contoh motivasi intrinsik lainnya, seorang siswa yang melakukan kegiatan belajar karena betul-betul memiliki kesadaran dan paham akan tujuan dari belajar itu sendiri.    Mereka ingin mendapatkan pengetahuan dan merubah tingkah lakunya secara konstruktif.   Dorongan atas kebutuhan inilah yang menggerakkan mereka untuk mencapai keinginannya, bahwa mereka harus menjadi orang terdidik dan luas pengetahuannya melalui kegiatan belajar.

Peranan guru sebagai motivator

Sebagai seorang siswa rasa lelah, jenuh dan beberapa alasan lain bisa muncul setiap saat.    Disinilah unsur guru sangat penting dalam memberikan motivasi, mendorong dan memberikan respon positif guna membangkitkan kembali semangat siswa yang mulai menurun.    Guru seolah sebagai alat pembangkit motivasi (motivator) bagi peserta didiknya, yaitu :

  • Bersikap terbuka, artinya bahwa seorang guru harus dapat mendorong siswanya agar berani mengungkapkan pendapat dan menanggapinya dengan positif.    Guru juga harus bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan tiap siswanya.    Dalam batas tertentu, guru berusaha memahami kemungkinan terdapatnya masalah pribadi dari siswa, yakni dengan menunjukkan perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi siswa, dan menunjukkan sikap ramah serta penuh pengertian terhadap siswa.
  • Membantu siswa agar mampu memahami dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya secara optimal.    Maksudnya bahwa dalam proses penemuan bakat terkadang tidak secepat yang dibayangkan.    Harus disesuaikan dengan karakter bawaan setiap siswa. Bakat diibaratkan seperti tanaman.     Karena dalam mengembangkan bakat siswa diperlukan “pupuk” layaknya tanaman yang harus dirawat dengan telaten, sabar dan penuh perhatian.    Dalam hal ini motivasi sangat dibutuhkan untuk setiap siswa guna mengembangkan bakatnya tersebut sehingga dapat meraih prestasi yang membanggakan.    Ini berguna untuk membantu siswa agar memiliki rasa percaya diri dan memiliki keberanian dalam membuat keputusan.
  • Menciptakan hubungan yang serasi dan penuh kegairahan dalam interaksi belajar mengajar di kelas.     Hal ini dapat ditunjukkan antara lain, menangani perilaku siswa yang tidak diinginkan secara positif, menunjukkan kegairahan dalam mengajar, murah senyum, mampu mengendalikan emosi, dan mampu bersifat proporsional sehingga berbagai masalah pribadi dari guru itu sendiri dapat didudukan pada tempatnya.

Give and Give

Kita semua terbiasa dengan konsep kalimat take and give, dimana kita akan memberi ketika kita sudah mendapatkannya.   Ketika kita memperoleh sesuatu, kita pun suatu saat harus merelakan memberikan sesuatu terhadap apa yang sudah kita keluarkan.    Pernahkah kita berpikir untuk membalik konsep tersebut?  Sekilas memang nampak aneh terdengarnya, tetapi sudah banyak orang yang melakukan ini.

Seiring dengan ide itu, sosok guru merupakan peran sentral dalam dunia pendidikan.    Korelasi antara konsep  give and give dapat diibaratkan seorang guru yang menjalankan tugasnya dengan selalu memberikan pengajaran yang terbaik tanpa mengharapkan balasan.   Ia selalu memberikan potensi dirinya dan mendedikasikan untuk mengajar dengan penuh hati, tulus, ikhlas serta memberikan kejutan menggembirakan untuk siswa-siswanya.   Ini seperti teori kekekalan energi bahwa energi yang ada di alam ini tidak akan hilang, melainkan hanya berubah bentuk.    Bila seseorang memberikan suatu kebajikan dengan ikhlas, seiring dengan berjalannya waktu, ia akan dengan sendirinya memperoleh penggantinya baik itu berupa materi ataupun kepuasan batin.    Begitu besar manfaat bila kita bisa memberi dengan ikhlas, apapun bentuknya.   Ternyata, alam memiliki mekanisme sendiri untuk mengembalikan pemberian tersebut.

Dengan membiasakan pola pikir give and give, kita akan terbiasa untuk berbagi kepada orang lain.     Baik itu perhatian, spirit, doa, materi, tenaga, atau apa pun kepada orang yang membutuhkan.    Selain orang yang kita bantu akan merasa senang, kita pun pasti akan merasa happy.

Menyerap Pengetahuan Lebih dari 100 %

Berbanggalah wahai para guru!     Peranan dan profesi guru layaknya para motivator besar seperti Andrie Wongso, Mario Teguh, Jamil Azzaini dan sederet para motivator lainnya.    Berbagai pengetahuan dan keterampilan yang guru telah ajarkan kepada siswanya akan memberikan manfaat bagi diri para guru itu sendiri.     Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh guru semakin terserap dan semakin tajam.    Hal ini terbukti sesuai dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan bahwa  proses belajar dapat diterima dengan efektif oleh otak dengan cara mengulangnya berkali-kali.     Apabila kita belajar dengan mendengar, informasi yang terserap hanya 20 %.     Bila kita mengikutsertakan visual, daya serapnya menjadi 50 %.    Dan apabila audio visual digabungkan dengan gerakan atau kinestetis, maka yang terserap mencapai 90 % bahkan lebih.  Aktivitas  mengajar membuat kita berinteraksi dengan beragam orang yang memiliki latar belakang serta sudut pandang yang berbeda sehingga hal ini akan mempertajam pengetahuan yang sudah kita terima sebelumnya.    Pengalaman yang kita peroleh dengan bertukar informasi akan memperkaya khasanah pengetahuan kita.     Akhirnya pencapaian kita bahkan bisa mencapai lebih dari 100 % dari apa yang sudah pernah diajarkan.     Itulah kehebatan mengajar dan berbagi ilmu!(Bunda Ranis)

Referensi :

Ali Akbar, Mulia. 2009. 8 Dinamit Kreatifitas : dalam karier, bisnis, dan kehidupan, Jakarta : PT. Elex Media Komputindo

Wongso, Andrie. 2010. The Power of 60 Simple Motivation for Success, Jakarta : Action & Wisdom Publishing.

http://www.infodiknas.com/peranan-guru-sebagai-motivator.html

http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/19/guru-sebagai-motivator/

http://www.gurumts.com/peran-guru-sebagai-motivator

http://ayip7miftah.wordpress.com/2012/11/09/guru-adalah-motivator-utama-siswa/

http://ekoistanto1.blogspot.com/2013/02/peranan-guru-sebagai-motivator.html

http://www.rapendik.com/program/wandira/manajemen-sekolah/638-guru-sebagai-motivator

 

2 Komentar

  1. Kemampuan mengajar guru yang baik menjadi pilar utama keberhasilan pendidikan semua pelajar baik anak-anak maupun sudah remaja
    1. Bapak Thatho Klaten,Betul bapak, karena pendidikan untuk anak usia dini adalah dasar dari pembentukan karakter serta minat belajar anak. Terima kasih atas apresiasinya