90 Views

Habis Gelap Terbitlah Terang

Sumber : http://mobavatar.com/for-the-love-of-nation/habis-gelap-terbitlah-terang-candle.html

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang, adalah salah satu buku sejarah yang telah menginspirasi wanita Indonesia tentang emansipasi, dimana wanita Indonesia pun juga berhak mengenyam pendidikan tinggi dan berhak untuk maju.    Bukan hanya sekedar lulus SD lalu menikah seperti sosok ibu Kartini masa lalu, tetapi wanita pun diberi kesempatan untuk bisa cerdas, memaksimalkan potensi dirinya dan mengaktualisasikan kemampuannya di bidang apapun yang mereka sukai.

Sosok wanita yang terbukti telah berhasil, sebut saja misalnya Martha Tilaar pemilik Sariayu, Karen Agustiawan CEO Pertamina, Nia Dinata Sutradara dan Produser film, Kapolsek Perempuan Pertama di Langsa Aceh – AKP Fitrisia Kamila, Sri Mulyani Managing Director World Bank bahkan Indonesia pun pernah memiliki presiden wanita yaitu Ibu Megawati.    Masih banyak nama-nama wanita lainnya.    Mereka mengabdi di bidangnya masing-masing sesuai dengan talent-talent yang dimiliknya.     Yang tidak kalah penting juga wanita-wanita hebat di sekitar kita baik yang mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga ataupun ibu-ibu yang bekerja,  tentunya dengan tidak mengesampingkan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Keberhasilan sederet nama wanita-wanita yang telah berhasil tentunya tidak luput dari peranan orang-orang penting yang ada di belakang mereka.     Siapa orang penting tersebut yang menjadikan mereka berhasil, selain orang tua, sosok lain yang telah membimbing mereka hingga berhasil seperti sekarang adalah ketulusan dan cinta kasih dari para guru.   Sosok guru yang telah membantu kita untuk mengenal huruf dan angka, berlatih membaca dan menulis sehingga dapat membuka cakrawala pengetahuan.  Para guru dengan setia menemani hari-hari kita di dunia pendidikan, yakni sekolah.    Bayangkan bila kita tidak mampu mengenal huruf dan angka dan apa jadinya bila kita tidak mampu untuk membaca dan menulis.

Sumber : http://fahmi52.blogdetik.com/teacher-is-the-source-of-knowledge/guru-penyuluh-hidup-kami

Wanita yang memilih jalur hidupnya menjadi guru, adalah wanita mulia dengan keikhlasan dan ketulusan hati.   Ia rela berkorban untuk mendidik dan membimbing anak bangsa seperti layaknya sosok Ibu Kartini,  yang bersedia mengajarkan baca dan tulis kepada teman-temannya agar mereka menjadi cerdas dan maju.   Minat baca Kartini sangat besar, dari kebiasaannya membaca inilah Ia mampu merubah Indonesia.   Nasib kaum wanita pada jaman dahulu penuh dengan kegelapan, kehampaan dari segala harapan dan ketiadaan dalam segala perjuangan.    Daya berpikirnya pun sulit berkembang karena tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya.    Wanita dahulu juga tidak diberi kesempatan untuk belajar membaca dan menulis.   Jadi kaum wanita hanya mempunyai kewajiban, tidak memiliki hak.

Berkat perjuangan Kartini, kaum wanita sekarang memiliki kesempatan untuk memiliki hak berpendidikan tinggi.    Bebas dari kebutaan huruf dan angka.   Memiliki kesempatan untuk menjadi seorang guru, yang dapat berbagi ilmu serta mengajar membaca dan menulis seperti Kartini masa lalu.    Oleh karena itu alangkah bijaksananya kita bila mau menengok sejarah hidup Kartini, pahlawan wanita yang telah berjasa mencerdaskan dan memajukan anak bangsa.

Sejarah Ibu Kartini

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri.  Bapaknya seorang bupati Jepara, bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.    Kartini adalah putri dari istri pertamanya, bernama M.A. Ngasirah.    Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah pada usia 12 tahun dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.    Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904.     Empat hari kemudian setelah anaknya lahir yaitu pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun.    Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Kartini adalah sosok wanita yang berhasil  mendobrak pola pikir wanita jawa pada saat itu.    Lewat surat-suratnya dan berbagai tulisan yang dimuat di majalah wanita Belanda, De Hollandsche Lelie, telah menarik perhatian masyarakat Belanda.    Pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa, ternyata tidak rendah seperti yang mereka bayangkan sebelumnya.    Kemampuan dan pola pikir Kartini itu terinspirasi karena Ia rajin membaca berbagai macam buku bacaan.

Membaca merupakan kegemaran Kartini sejak kecil.     Tiada hari ia lalui tanpa membaca.     Ia banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa.     Berawal dari membaca inilah, Kartini mulai tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa, sehingga menimbulkan keinginannya untuk memajukan wanita pribumi, karena ia melihat bahwa wanita pribumi berada pada status sosial yang rendah.    Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan membaca dan menulis, serta ilmu pengetahuan lainnya.    Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda.    Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.

Kartini juga banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief  yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima paket majalah,  leestrommel,  yang diedarkan toko buku kepada langganan.     Di antara paket majalah tersebut terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan, juga ada majalah wanita Belanda,  De Hollandsche Lelie.    Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.    Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.     Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911.    Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara.     Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru.    Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya.    Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers.    Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.    Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”.     Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.    Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno,  mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Pahlawan tanpa tanda jasa

Sumber : http://www.psikologizone.com/menghormati-bendera-termasuk-pendidikan-karakter-anak/065111885

Bercermin dari perjuangan Kartini, tidak inginkah kita untuk melangkah dengan pasti, demi anak didik generasi bangsa.   Membantu  membuka cakrawala dunia kepada anak-anak agar timbul minat baca dan tulis.    Karena menyadari bahwa dengan membaca dapat sebagai obat untuk membuka penglihatannya agar dapat memandang dunia lebih jauh lagi.    Obat itu, telah dengan susah payah oleh Ibu Kartini diramu sedemikian rupa bagi anak perempuan bangsa Indonesia.  Maka tugas para Guru adalah mempertahankan resep ramuan mujarab itu baik untuk anak lelaki maupun anak perempuan agar semua anak bangsa sembuh dari kebutaan ilmu.

Peranan seorang guru seperti sosok seorang Kartini.    Mengemban tugas mulia untuk menjadikan sesuatu yang awalnya gelap menjadi terang.    Sesuatu yang awal mulanya tidak diketahui oleh anak didik, dari tidak mengenal sesuatu menjadi kenal dan paham, sehingga duniapun menjadi terang.   Pikiran menjadi terbuka akan banyak hal baru di dalam kehidupan seseorang.

Karier menjadi guru bukan suatu karier buangan, bukan pilihan terakhir karena tidak lulus tes di tempat kerja lain yang dianggap bergengsi atau bukan pula karena bingung mau memilihi karier apa, yang mengakibatkan akhirnya karier guru hanyalah karier keterpaksaan.    Tetapi pilihan menjadi guru adalah tulus dari hati, tanpa keterpaksaan, dengan jiwa mulia.    Karena sosok guru inilah, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, yang telah membantu untuk mendobrak pikiran kita, perilaku kita, menginspirasi kita untuk menjadi manusia hebat yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Terima kasih Ibu Kartini, Terima kasih para guru, atas jasa-jasa kalian bangsa Indonesia bisa belajar membaca dan menulis sehingga dapat membuka pikiran menjadi lebih terang.(Bunda Ranis)

Selamat Hari Kartini 2013.

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

http://www.erabaca.com/2012/03/biografi-ra-kartini-biodata-profil.html

http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-ra-kartini.html

http://generusindonesia.wordpress.com/2012/12/21/kapolsek-perempuan-pertama-di-langsa-aceh-akp-fitrisia-kamila/

http://suzieitaco.wordpress.com/2013/04/04/kartini-di-era-digital/

http://jurnalistikpgsd.blogspot.com/2012/11/ibu-kita-guru-kita.html

http://www.alakadarnya.net/riwayat-singkat-raden-ajeng-kartini/

http://noretz-area.blogspot.com/2010/04/mengenang-kembali-kisah-hidup-dan.html

1 Komentar

  1. “Semangat kaum perempuan untuk memelajari isi Al Quran, sebagai Nur Ilahi (pedoman hidup) memerdekakan diri dan kaumnya inilah yang sesungguhnya menjadi pelajaran dari semangat hidup Kartini.” Nunu a hamijaya,Sekum PW Syarikat islam Indonsia Jawa Barat