51 Views

Harta Karun Pada Anak yaitu Multiple Intelligences

Sumber : http://3qmrcampang.blogspot.com/

Anak-anak adalah sumber daya dunia yang paling bernilai dan harapan terbaik untuk masa depan.

(John Fitzgerald Kennedy,  Presiden Amerika Serikat ke-35)

Kemampuan yang dimiliki anak begitu luas seperti samudera, karena potensi setiap anak begitu besar layaknya potensi kekayaan alam yang begitu melimpah.    Hal ini karena anak memiliki kemampuan kognitif yang menghasilkan daya pikir positif, Kemampuan psikomotorik yang menghasilkan karya bermanfaat dan penampilan yang dahsyat, serta kemampuan afektif yang menghasilkan nilai dan karakter yang manusiawi sesuai fitrahnya.

Harta karun orang tua terdapat pada potensi besar yang dimiliki oleh anaknya yaitu berupa kecerdasan majemuk (multiple intelligences).     Penting bagi orang tua dapat mengembangkan tingkat kecerdasan anaknya, karena dapat menentukan kesuksesan anak di masa depan.    Oleh karena itu tugas orang tua adalah bagaimana dapat mengelola potensi itu agar menjadi harta karun yang indah dan berkilau.

Ecka W. Pramita, dalam buku Dahsyatnya otak anak usia emas, dan Munif Chatib, dalam buku Orangtuanya manusia : melejitkan potensi dan kecerdasan dengan menghargai fitrah setiap anak,  menuliskan kembali definisi kecerdasan menurut Howard Garner, seorang psikolog dari Harvard University, bahwa setiap anak memiliki kecenderungan kecerdasan dari sembilan kecerdasan, yaitu

1.       Kecerdasan bahasa (linguistik)

Yaitu kemampuan anak untuk menggunakan bahasa dalam mengkomunikasikan ide-idenya baik secara lisan maupun tulisan.   Biasanya yang memiliki kecerdasan ini adalah para pembicara, penulis, orator, negosiator, pengacara atau pemimpin negara dunia.    Orang tua dapat mendorong anak mengembangkan kecerdasan ini dengan cara membiasakan minat membaca sejak usia dini dan mengenalkan mereka berbagai macam bahasa.     Frekuensi kita dalam berkomunikasi dengan anak juga berpengaruh dalam penambahan kosakata mereka.   Jika sering digunakan kemampuan berbahasa akan meningkat.

2.       Kecerdasan musikal

Yaitu kemampuan menyimpan nada atau irama musik dalam memori.    Anak yang memiliki kecerdasan ini akan lebih mudah mengingat sesuatu jika diiringi dengan musik.     Mereka akan memiliki apresiasi tinggi pada musik dan cepat menguasai instrumen musik.      Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh para musisi, seniman dan budayawan.      Anak dapat diarahkan untuk kecerdasan ini dengan mengikuti mereka bermain musik, piano dan bernyanyi.

3.       Kecerdasan logika matematika (kognitif)

Yaitu kemampuan untuk memproses dan menganalisa informasi abstrak  secara sistematis dan numerik.     Seperti menangani bilangan, perhitungan, pola, serta pemikiran logis dan ilmiah.     Orang-orang dengan kecerdasan ini kuat dalam pelajaran sains dan matematika di sekolah.     Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh para filsuf dan ilmuwan.     Untuk mendorong kecerdasan ini, anak dapat dibiasakan untuk mengaplikasikan kemampuan matematikanya dalam keseharian mereka, misalnya membantu menghitung pertambahan dan pengurangan ketika belanja di supermarket.     Sedangkan dalam hal sains, balita dapat diajak untuk mengobservasi alam sekitar, mulai bagaimana tumbuhan dapat tumbuh sampai tingkah laku hewan di halaman rumah.

4.       Kecerdasan gambar dan ruang (visual – spasial)

Yaitu kemampuan untuk memproses informasi mengenai bagaimana sebuah objek menempati sebuah ruang dan hubungannya dengan objek lain.    Orang yang memiliki kecerdasan ini seperti atlet catur dan desain interior.      Anak dapat diarahkan kecerdasan spasial ini dengan cara mengajak mereka untuk bemain logika sederhana seperti bola bekel, dakon, monopoli, ular tangga, halma, puzzle.

5.       Kecerdasan gerak tubuh (kinestetik)

Yaitu kemampuan utnuk mengkoordinasi gerakan fisik.     Orang yang memiliki kecerdasan ini adalah penari dan atlet.    Anak dapat didorong untuk kecerdasan ini dengan membiarkan mereka bermain di ruang terbuka dimana mereka bisa berlari dan menanjak.    Anak dikenalkan dengan menari, mengikuti kegiatan olah raga seperti bola basket, sepak bola, renang, voli, badminton dan lain-lain.

6.       Kecerdasan diri (intrapersonal)

Yaitu kemampuan memproses informasi mengenai apa yang kita pikirkan dan rasakan.   Termasuk dengan emosi yang sensitif dan kemampuan untuk mengerti dan bagaimana mengatur emosi, seperti kemarahan dan stress.   Anak dapat dikembangkan untuk memiliki kecerdasan ini dengan cara mendorongnya untuk menceritakan apa yang sedang dirasakan.   Seperti “ apa yang kamu rasakan terhadap hal ini?” atau “mengapa kamu merasa seperti ini?”.   Kecerdasan ini dimiliki oleh para ahli bidang ilmu tertentu, trainer atau motivator.

7.       Kecerdasan bergaul (interpersonal)

Yaitu kemampuan untuk memproses informasi mengenai bagaimana dan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain. Kecerdasan ini penting untuk membantu anak bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sesama.    Kecerdasan ini dapat dikembangkan pada anak dengan cara mengajak mereka memperhatikan kebutuhan dan perasaan orang lain di sekitarnya dan dampak apabila mereka melakukan hal itu kepada orang lain.     Misalnya ketika sedang menonton televisi, kita dapat menanyakan kepada anak “bagaimana perasaannya orang itu?” .     Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh para sosiolog, psikolog, konselor atau konsultan.

8.       Kecerdasan alam (natural)

Yaitu kemampuan untuk menangkap informasi melalui keindahan alam.     Kecerdasan ini dapat dikembangkan dengan mengajak anak untuk mengamati lingkungan, bercocok tanam, memelihara binatang, termasuk mengamati gejala alam seperti hujan, angin, banjir, pelangi, siang malam, panas dingin, bulan bintang dan matahari.     Stimulasi lain yang dapat dilakukan seperti mengajak berkebun, beternak, membuang sampah pada tempatnya, menyayangi hewan liar dan mengenalkan hutan pada anak.    Kecerdasan ini dimiliki oleh para neorolog, antropolog, arkeolog, atau pencinta lingkungan.

9.       Kecerdasan Existential (spritual)

Yaitu kemampuan mengenal dan mencintai ciptaan Tuhan, hal ini tentunya sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing.  Kemampuan ini dapat dirangsang dengan penanaman nilai moral dan agama.    Orang tua dapat mengajak anak untuk melihat ciptaan Tuhan berupa alam semesta dan benda-benda angkasa di alam terbuka.   Atau ada juga yang sudah mengajarkan anak kegiatan ritual sejak kecil. Kecerdasan ini dimiliki oleh para ahli spiritual (sufi), tokoh agama atau filsuf.

Dari sembilan kecerdasan tersebut, apabila orang tua dan lingkungannya selalu memberikan stimulus yang tepat, setiap kecerdasannya berpotensi memunculkan kemampuan-kemampuan yang dahsyat.    Ada anak yang hanya punya satu kecerdasan yang dominan, sedangkan yang lainnya rendah.    Adapula yang memiliki dua, tiga atau bahkan kesemuanya dominan.

Menurut Howard Gardner, tidak ada manusia yang bodoh asalkan orang tua memberikan stimulus dan lingkungan yang tepat sehingga anak dapat menjadi harta karun bagi orang tuanya melalui potensi yang dimiliki anak demi menuju gerbang kesuksesan bagi masa depan anak.(Bunda Ranis)

Referensi :

Munif Chatib.  Orangtuanya Manusia : Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak.  Bandung : Kaifa. 2013

Ecka W. Pramita. Dahsyatnya Otak Anak Usia Emas. Yogyakarta : Interprebook. 2010

2 Komentar