209 Views

Hati-hati, Televisi Menurunkan Minat Baca!

Sumber : http://guruberakhlak.com/blog/2014/07/08/5-tips-agar-anak-tidak-suka-nonton-tv/

Pada masa kini, televisi adalah media paling banyak digunakan dan juga sangat mempengaruhi budaya banyak orang. Masalahnya adalah fungsi televisi sebagai informatif dan edukasi telah tergeser.    Berdasarkan  penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) pada tahun 2006,  batas maksimal anak untuk menonton televisi adalah 2 jam dalam sehari.     Tetapi ironisnya   anak usia SD justru menghabiskan waktu di depan televisi berkisar 30-35 jam seminggu, ini berarti mereka dapat bertahan untuk menonton televisi sekitar 4-4,5 jam dalam sehari.    Belum lagi dengan tambahan waktu untuk bermain video game sekitar 10 jam dalam seminggu.    Angka yang cukup besar bagi anak usia SD hanya dengan menghabiskan waktunya untuk hiburan yang kurang sehat.

Dampak negatif lain dari menonton televisi adalah muatan atau content dari acara televisi tersebut.    Banyak tayangan yang disajikan tidak bermakna, hanya sekedar hiburan, tidak mendidik, bersifat hedonis dan konsumtif.       Hal ini akan berpengaruh terhadap perilaku negatif anak. Misalnya anak yang menonton sinetron atau infotainment, walau hanya 30 menit tetapi dampak negatifnya begitu besar.  Apalagi bila anak menonton sinetron sampai berjam-jam, dan tanpa didampingi orang tua.

Waktu yang terbuang di depan televisi  telah mengambil porsi jam aktivitas anak.    Ini berarti kegiatan anak untuk belajar dan membaca semakin berkurang.      Bagaimana mungkin membangkitkan minat baca anak bila mereka hanya statis di depan televisi  tanpa ada stimulasi yang mendukung minat membaca tersebut?   Apalagi televisi telah menjadi moto bagi sebagian besar anak, yaitu “TV is my life”.     Sampai-sampai ketika anak baru bangun tidur saja, aktifitas pertama yang dilakukan adalah menonton televisi.

Faktor penyebab kenapa televisi lebih dipilih oleh anak-anak dibandingkan dengan membaca buku karena buku dianggap sebagai hal yang kurang menarik.     Buku hanya bersifat visual dan tidak bergerak.    Sedangkan televisi visualisasinya lebih nyata dan gampang diadopsi.     Buku dianggap sebagai sesuatu yang berat karena harus berpikir dan harus menciptakan interaksi yang lebih hidup dalam alam pikiran mereka.    Sedangkan menonton televisi adalah sesuatu hal yang ringan, bahkan dianggap dapat mengisi waktu luang, melupakan kesulitan, santai dan sekedar kebiasaan. Hal ini seperti diungkapkan oleh Greenberg dalam penelitiannya tentang empat alasan tertinggi kenapa masyarakat senang menonton televisi.

Terlalu banyak menonton televisi terbukti telah mengikis minat baca anak.      Anak merasa memiliki dunianya sendiri dan cenderung tidak memperhatikan keadaan sekeliling sehingga membuat mereka menjadi individualis.     Anak seakan-akan tidak memerlukan orang lain dan sulit mengungkapkan apa yang ada di alam pikirannya.     Hal ini karena sel-sel otak mereka tidak terbiasa untuk berpikir kritis seperti halnya membaca buku, melainkan justru terbiasa berpikir pasif sehingga sulit untuk mengemukakan ide-ide dan kreatifitasnya.

Secara tampilan memang buku tidak semenarik televisi.      Tetapi efeknya membaca merupakan gerbang menuju kekayaan imajinasi.    Karena dalam proses membaca anak diajak berpikir dan menciptakan interaksi yang lebih hidup di alam pikiran mereka.    Oleh karena itu anak yang sejak dini sudah terbiasa memiliki minat baca akan memiliki kemampuan memvisualisasikan kemungkinan-kemungkinan berdasarkan kenyataan.    Anak akan terbiasa berpikir kreatif, kritis dan evaluatif.    Semakin banyak kisah dan situasi yang dibacanya, anak akan semakin memilik banyak solusi dan fakta.    Pikiran dan akal yang semakin berkembang dapat menentukan sikap di kehidupan nyata.

Buku juga merupakan salah satu media yang sangat baik untuk melakukan transfer nilai kepada anak.    Karakter positif anak akan terbentuk dan dapat membangun hubungan emosional antara orang tua dan anak.   Terbiasa membaca buku juga dapat merangsang kreatifitas untuk berpikir logis, meningkatkan kemampuan verbal anak,  meningkatkan daya tangkap dan menambah wawasan pengetahuan.

Cara termudah untuk menghilangkan kebiasaan anak menonton televisi menurut konsultan parenting Ayah Edy dalam bukunya “Ayah Edy Menjawab” adalah dengan memutuskan berlangganan TV kabel.    Bahkan ada pula yang ekstrim sampai meniadakan televisi di rumah, karena sadar betul akan bahaya televisi bagi anaknya.     Lalu ganti dengan film DVD yang bagus dan pantas ditonton anak-anak, misalnya serial Dora dan Barney. Sebaiknya sebelum film tersebut diberikan ke anak, orang tua harus menontonnya terlebih dahulu karena banyak film kartun yang diselipkan adegan orang dewasa yang tidak layak di tonton oleh anak-anak.

Untuk mengalihkan perhatian anak dari televisi sebaiknya orang tua memberikan aktivitas positif lainnya kepada anak.     Namun sebelum itu dilaksanakan diskusikan dan rencanakan terlebih dahulu dengan anak, kegiatan apakah yang mereka ingin ikuti.    Sekitar tiga bulan di awal anak pasti akan merasa kaget karena seperti ada yang hilang dari kebiasaannya.     Namun sesudah itu akan biasa saja. Susah atau mudahnya melepaskan anak dari jerat televisi, tergantung dari orang tua.     Kalau kita berpikir sulit untuk melepaskan anak dari jeratan televisi, maka anak akan sulit melepasnya.     Tetapi sebaliknya, bila kita berpikir mudah untuk melepas anak dari jeratan televisi maka akan mudah bagi anak untuk melepas kebiasaannya menonton televisi.

Semakin dekat anak dengan televisi, semakin menurunkan minat baca mereka.     Ini berarti menunjukkan juga semakin tidak dekatnya kita sebagai orang tua dengan anak.(Bunda Ranis)

Referensi :

Chatib, Munif. 2013. Orang tuanya  Manusia : Melejitkan potensi dan kecerdasan dengan menghargai fitrah setiap anak, Bandung : Kaifa

Edy, Ayah. 2013. Ayah Edy Menjawab : 100 Persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus mana pun, Jakarta : Noura Books

http://www.ipb.ac.id/lombaartikel/pendaftaran/uploads/tpb/pertanian-dan-pangan/Dampak_Kemajuan_Media_Elektronik_Terhadap_Minat_Baca_Para_Pelajar_Indonesia.pdf

 http://indrihartatiek.blogspot.com/2011/11/pengaruh-televisi-ke-minat-baca-anak.html