37 Views

Ibu adalah Buku Yang Selalu Terbuka

Sumber : http://www.sygmadayainsani.com/blog/category/sygma-parenting/page/3/
Sumber : http://www.sygmadayainsani.com/blog/category/sygma-parenting/page/3/

Bagi sebagian besar orang, sosok ibu merupakan sosok yang paling dekat dalam kehidupan kita. Ibulah yang mengajarkan, membimbing dan mensupport kita di setiap waktu. Tulisan ini mengingatkan kita tentang cerita seorang rekan yang ingin membaca namun ia sulit untuk membeli buku. Sang ibu paham akan kondisi ekonomi mereka dan begitu sedih melihat keinginan anaknya tersebut. Namun sang ibu tidak kehabisan ide, Ia berupaya melakukan berbagai hal, yang penting keinginan anaknya membaca dapat tersalurkan. Akhirnya setiap kali ibunya pergi belanja ke pasar, bungkus kertas bekas sayuran selalu dikumpulkan dan dirapikan sedemikian rupa agar bisa terbaca kembali. Lembar-demi lembar disusun sang ibu, kemudian dihadiahkan untuk anak tercintanya. Dari situlah si anak merasa bertambah ilmu dan wawasannya semakin terbuka. Baginya, sang ibu seperti buku yang selalu terbuka, tempat ia belajar berbagai hal dalam kehidupannya.

Banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil dari sekelumit cerita diatas, bahwa support orang tua ternyata memiliki peranan penting bagi kehidupan anak-anak kita. Seorang anak yang tidak mampu membeli buku saja bisa memiliki ilmu tinggi dan luas wawasannya. Idealnya, yang memilki nasib lebih baik seharusnya lebih baik pula ilmu dan wawasannya. Namun sayangnya, kita sebagai orang tua justru menjauhkan anak-anak untuk cinta buku dan membaca. Kita lebih banyak menghabiskan waktu luang dengan mangajak anak-anak ke tempat rekreasi, mall atau berkutik dengan main game. Padahal bila kita mau jujur, mungkin biaya yang dihabiskan untuk jalan-jalan di mall, makan di restoran, lebih tinggi dari biaya membeli buku. Bagaimana mungkin kita menuntut anak-anak untuk gemar membaca buku, bila pola yang kita terapkan pada mereka bukan teladan untuk cinta membaca.

Perilaku anak merupakan cerminan diri orang tua. Mereka meniru, mengamati dan memodifikasi tindakan orang tuanya. Walau kita bolak balik menyuruh, memarahi bahkan sampai teriak-teriak agar anak-anak membaca buku, kalau kita sendiri tidak memberi contoh yang baik, sulit rasanya untuk menggapai tujuan yang kita harapkan. Anak-anak terlahir seperti kertas polos putih. Mau kita bentuk seperti apakah mereka tergantung bentuk coretan yang kita goreskan di kertas tersebut. Goresan tersebut akan semakin mudah terbentuk bila dilakukan sejak anak sedini mungkin. Karena apa? Menurut Aulia, dalam buku “Revolusi Pembuat Anak Candu Membaca”, bahwa anak usia dibawah lima tahun memiliki kemampuan sebagai berikut :

  • Mudah menyerap informasi dalam jumlah yang luar biasa
  • Dapat menangkap informasi dengan kecepatan yang luar biasa
  • Semakin banyak informasi yang diserap, semakin banyak pula yang diingatnya
  • Mempunyai energi yang sangat besar untuk kemampuan otak dan daya pikirnya
  • Memiliki keinginan belajar yang sangat besar, jadi kita harus siap menyediakan fasilitas tersebut
  • Selalu antusias saat mempelajari sesuatu
  • Dapat belajar bahasa apapun yang diperkenalkan kepadanya. Ia bisa diajari membaca satu atau beberapa bahasa sama mudahnya dengan kemampuannya dalam bahasa lisan

Melihat potensi yang begitu besar untuk diajarkan berbagai hal pada anak usia dibawah lima tahun tersebut, maka sebelum terlambat, alangkah lebih baik jika kita para orang tua harus lebih awal bersikap guna memperkenalkan anak-anak kita suka membaca, mengenal buku dan cinta kepada buku. Namun ketika kita memperkenalkan membaca pada anak, kita harus paham terlebih dahulu tentang konsep membaca. Sebab membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi dalam otak manusia. Secara teoritis, membaca merupakan sebuah proses rumit yang melibatkan aktivitas auditif (pendengaran) dan visual (penglihatan) guna memperoleh makna dari simbol berupa huruf dan kata.

ibu2
Sumber : http://pondokibu.com/cara-mendidik-anak-belajar-membaca-sejak-dini.html

Keuntungan Belajar Membaca Sejak Usia Dini

Anak yang sudah diperkenalkan belajar membaca sejak usia sebelum masuk Sekolah Dasar (SD) ternyata dapat mempengaruhi prestasi membaca di masa depannya. Hasil studi ini dikemukakan oleh Dolores Durkin, yaitu peneliti yang pertama kali mendalami masalah ini pada tahun 1958-1964 dan mengadakan berbagai studi untuk menelitinya. Apa kesimpulan yang dapat diambil dari studi selama 6 tahun ini ?

  1. Anak yang bisa membaca sejak dini ternyata senantiasa bisa mengungguli kemampuan membaca anak yang terlambat, hingga ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
  2. Kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak, namun sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata muncul dari keluarga yang memiliki perhatian dan usaha ekstra dalam membantu mereka belajar membaca.
  3. Kemampuan membaca sejak dini juga tidak berhubungan dengan kondisi sosial-ekonomi. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata memiliki orang tua yang mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama anaknya, walaupun latar belakang sosial-ekonomi mereka berbeda-beda.
  4. Durkin juga mendapati bahwa anak-anak yang mulai belajar membaca sejak usia 3-4 tahun ternyata selalu mengungguli anak-anak lainnya yang mulai belajar membaca sejak usia 5-6 tahun. Mereka bahkan bisa terus unggul hingga rentang masa 8 tahun.

Mengajarkan baca sesuai usia

Sumber : http://binakubinamu.blogspot.com/2011/08/pengantar-materi-membaca.html
Sumber : http://binakubinamu.blogspot.com/2011/08/pengantar-materi-membaca.html

Proses pembelajaran membaca tersebut tentu saja harus disesuaikan dengan usia si anak. Kita tidak bisa mengajarkan mereka dalam kondisi duduk manis, diam dan memperhatikan dengan serius materi yang kita berikan. Kita harus empati dan bersedia masuk ke dalam dunianya mereka. Menurut Aulia, beberapa hal berikut yang harus diperhatikan dalam mengajarkan membaca pada anak usia prasekolah yaitu :

  • Gunakan metode yang variatif, sesuai dengan gaya dan kebutuhan anak. Hal ini mengingat bahwa setiap anak mempunyai kepekaan terhadap cara membaca yang berbeda antara satu dengan lainnya
  • Lakukan aktivitas bermain sambil belajar. Jangan membebani anak dengan aktivitas pembelajaran formal yang menegangkan.
  • Pastikan suasana yang nyaman dan penuh keakraban. Jika hal itu berhasil diciptakan, maka anak akan cepat menangkap apa yang diajarkan
  • Padat, singkat dan tidak perlu lama. Cukup 10-15 menit dalam sekali belajar, yang penting konsisten. Hal ini mengingat bahwa kemampuan konsentrasi pada anak usia prasekolah tidak lama
  • Kita harus peka terhadap reaksi anak saat kita mengajarkan membaca kepadanya. Kita harus berhenti saat anak merasa bosan atau sudah tidak bisa berkonsentrasi.
  • Orang tua dan guru harus paham, jika anak berkembang dengan iramanya sendiri. Tidak sedikit anak yang maju pada satu bidang, tetapi lambat pada hal lain.

Dengan demikian benar kiranya bila sosok ibu seperti buku yang selalu terbuka, tempat kita belajar berbagai hal akan makna kehidupan. Kerendahan hati ibu dan keikhlasannya memberikan segalanya untuk kita, dan dengan kerendahan hati pula, kita membuka hati dan pikiran untuk mau belajar berbagai hal dengan membaca buku, dan menciptakan budaya membaca sejak anak usia dini.(Bunda Ranis)

Referensi :

Aulia. Revolusi Pembuat Anak Candu Membaca. Jogjakarta : FlashBooks. 2012

http://www.tipsbayi.com/metode-belajar-membaca.html

1 Komentar

  1. Sangat mengharukan cerita ibu yang mengumpulkan kertas bekas pembukus sayuran, merapikan dan menyusunnya seperti sebuah buku untuk dapat dibaca oleh anaknya tercinta. Kapan cerita itu sebenarnya terjadi ? Apakah cerita tersebut terjadi di negeri yang kaya raya dengan hasil alamnya ini? Sungguh miris tapi juga luar biasa semangat ibu tersebut ? Lalu bagaimana dengan kita yang memiliki begitu banyak waktu untuk membaca dan mungkin juga membeli buku ?