405 Views

Indonesia Tuntaskan Buta Huruf

Bagaimana Indonesia Tuntaskan Buta Huruf?

i1
Sumber : http://rakyatbicaranews.com/news/bertekat-majukan-desa-kuta-falah-ingin-berantas-buta-huruf/

Setiap tanggal 8 September, bangsa Indonesia beserta seluruh negara di dunia memperingati Hari Aksara Internasional (International Literacy Day). Tahun ini adalah peringatan Hari Aksara Internasional yang ke-48. Partisipasi Indonesia dalam memberantas tuna aksara atau buta huruf adalah bentuk komitmen pemerintah Indonesia terhadap kesepakatan konferensi tingkat menteri negara-negara anggota PBB pada tanggal 17 November 1965, di Teheran Iran. Kesepakatan ini dibentuk karena mengingat masih tingginya jumlah penduduk tuna aksara di dunia. Oleh karena itu para perwakilan negara tersebut bertekad untuk membebaskan seluruh warga dunia dari buta huruf. Selanjutnya setiap tahun diperingati untuk memahami status keaksaraan dewasa secara global.

Pemerintah Indonesia menyadari bahwa manfaat membaca bagi masyarakat Indonesia dapat berdampak pada kemajuan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah berantusias untuk memerangi buta huruf, agar masyarakat kita tidak mudah dibodohi oleh siapapun juga.

Menurut Country Director The Asia Foundation “Books for Asia”, Sandra Hamid, bahwa peningkatan kemampuan membaca dapat berkontribusi dalam mengurangi kemiskinan, memerangi penyakit, dan meningkatkan hak asasi manusia dalam kesetaraan gender. Selain itu, kemampuan membaca juga dapat meningkatkan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi dan stabilitas, serta dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab dan berpengetahuan.

Upaya Indonesia dalam memberantas buta huruf

Sumber : http://blogs.voanews.com/indonesian/kontes-ngeblog-voa/2012/10/30/menarik-minat-baca-anak-lets-make-reading-fun/
Sumber : http://blogs.voanews.com/indonesian/kontes-ngeblog-voa/2012/10/30/menarik-minat-baca-anak-lets-make-reading-fun/

Saat ini Indonesia memfokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan bagi setiap warga masyarakat. Misalnya untuk meningkatkan keaksaraan anak usia dini, pemerintah menyediakan buku-buku berkualitas tinggi, menarik dan berwarna-warni sehingga dapat memberikan inspirasi belajar dan imajinasi bagi anak usia-anak. Salah satu upaya pemerintah bekerjasama dengan pihak lain yang memiliki visi sama untuk penuntasan buta huruf di dunia. Misalnya dengan “Books for Asia” yang telah menyumbangkan buku lebih dari 2,5 juta buku berbahasa inggris yang baru dan berkualitas tinggi ke sekolah-sekolah, lembaga pendidikan tinggi, kementerian dan komisi, dan organisasi profesi kemasyarakatan di Indonesia. Selain itu, berkolaborasi juga dengan Perpustakaan Nasional Indonesia untuk mengkontribusikan 5.000 buku bagi perpustakaan desa di seluruh negeri. Books for Asia juga menyumbangnkan 5.000 buku ke sekolah-sekolah pendidikan dasar di Sulawesi Tengah, dan lain-lain.

Prestasi Indonesia memberantas buta huruf

Upaya pemerintah dalam menuntaskan buta huruf telah menampakan hasil yang signifikan. Di indonesia, pada tahun 2003 tercatat ada 15.41 juta orang yang mengalami buta aksara. Namun pada tahun 2010 jumlah itu menyusut menjadi 7,54 juta orang. Artinya, Indonesia lebih cepat melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) yang menyepakati penurunan 50 persen buta aksara pada tahun 2015.

Beberapa penghargaan juga telah diterima pemerintah Indonesia, diantaranya adalah sebagai berikut :

Tahun 2007 :

Indonesia mendapat penghargaan dari Laura Bush, Duta Keaksaraan Internasional kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono. Ibu Ani kemudian menjadi pembicara di Konferensi Regional UNESCO dalam upaya pemberantasan buta huruf sedunia (UNESCO Regional Conferences in Support of Global Literacy), di Beijing, tanggal 31 Juli 2007.

Tahun 2012 :

Indonesia mendapatkan penghargaan dari UNESCO, yang diberikan kepada Propinsi Jawa Timur (Jatim). Penghargaan ini diberikan karena Jatim begitu peduli dalam upaya pemberantasan buta huruf di kotanya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, dari tahun ke tahun, Pemprov Jatim berhasil menekan angka buta huruf hingga ratusan ribu jiwa. Di tahun 2012, Jatim berhasil menyumbang angka tertinggi pada jumlah orang yang belum melek huruf di tingkat nasional. Penghargaan yang diberikan UNESCO kepada pemerintah Indonesia ini adalah Internasional”King Sejong Literacy Prize”. Selain menerima penghargaan dari UNESCO, Pemprov Jatim juga mendapatkan penghargaan di tingkat nasional dengan menyabet gelar Anugerah Aksara Utama.

Penghargaan UNESCO juga diberikan kepada Pemprov Kalimantan Tengah atas komitmennya dalam menyukseskan pengentasan masyarakat dari ketunaksaraan dan peningkatan budaya baca.

Indonesia telah berhasil menurunkan angka tuna aksara lansia hingga tinggal 4,43 persen atau 6,7 juta orang. Saat ini tinggal tujuh provinsi dengan jumlah tuna aksara di atas 200 ribu orang. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2010, dimana masih terdapat sembilan provinsi yang ditemui tuna aksara dengan jumlah cukup tinggi.