49 Views

Jangan Hambat Kreativitas Anak!

Mengapa jangan hambat kreativitas anak?

Kreativitas-Anak

Banyak orang beranggapan bahwa kreativitas merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. Ungkapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena kreativitas merupakan hasil dari proses pembelajaran, pembiasaan dan pengalaman yang dirangkum oleh otak. Kreativitas merupakan hasil penggabungan kinerja otak kanan (imajinasi) dengan otak kiri (kondisi riil). Orang yang memiliki kreativitas memiliki 1 % ide dan 99 % aksi.

Anak usia dini memiliki kreativitas yang sangat tinggi. Pada masa inilah 80 % kapasitas otak mulai terbentuk dan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Makanya tidaklah heran bila anak usia dini senang melakukan aktivitas pengembangan diri, punya rasa ingin tahu yang tinggi, berani mencoba hal baru, tidak takut salah atau gagal, punya banyak alternatif atau solusi dan berani berbeda.

Penghambat Kreativitas

Tanpa disadari, kita sering melakukan hal-hal yang justru menghambat perkembangan kreativitas anak. Akhirnya lambat laun kreatifitas anak semakin redup dan terbawa terus hingga mereka dewasa. Misalnya saja, dengan metode pendidikan yang hanya mengedepankan aspek kognitif. Metode seperti ini sama halnya seperti cara kerjanya robot. Mereka hanya diisi dengan sejumlah data yang sewaktu-waktu bisa di recall. Tapi yang harus kita ingat, robot tidak mampu berpikir untuk memecahkan masalah-masalah baru, apalagi harus dengan cara-cara yang kreatif. Robot hanya mampu menyelesaikan masalah sesuai dengan program yang telah di setting saja. Anak-anak seperti robot ini memang pintar, namun sayangnya tidak kreatif.

Beberapa hal dibawah ini yang dapat menjadi penghambat kreativitas anak, seperti diungkapkan oleh Andi Yudha Asfandiyar, seorang pemerhati, praktisi dunia anak, kreativitas, pendidikan dan keluarga, adalah :

Terlalu Banyak Larangan

larang

Larangan secara otomatis akan menghambat pengalaman belajar. Jika pengalaman belajar terhambat, kreativitas tidak akan berkembang. Selain itu, dengan terlalu banyak melarang ini dan itu, anak akan merasa seperti ada kerangkeng yang membelenggu dirinya. Mungkin pada awalnya anak akan menuruti peraturan tersebut. Namun bila terdapat hal-hal yang telah mengecewakan anak, maka mereka bisa bertindak sebaliknya. Anak bisa berubah menjadi tidak tahu aturan, seakan-akan dia akan tumbuh menjadi anak yang pemberontak.

Memaksakan hanya satu cara
Tanpa kita sadari, dalam menghadapi suatu permasalahan seringkali kita memaksakan untuk menggunakan satu cara saja. Terkadang anak memiliki ide-ide lainnya tapi tidak kita dengarkan. Padahal bisa jadi cara yang kita pakai sudah out of date. Akhirnya anak akan kecewa dan enggan untuk memberikan ide lagi.

Kurang menghargai karya anak
Akibat kita tidak menghargai hasil karya anak maka mereka menjadi berhenti untuk membuat karya atau kreativitas lagi. Padahal penghargaan bisa diberikan melalui cara yang paling sederhana, seperti pujian, pelukan, senyuman atau sapaan.

Kurangnya mengembangkan humor dalam proses pembelajaran
Humor tidak saja membuat rileks tetapi juga menyehatkan fisik dan mental. Menurut penelitian Lee Berk, M.D. dan Stanley Tan, M.D, bahwa tertawa itu dapat mengurangi rasa tegang sehingga seorang bisa menjadi lebih kreatif, lebih berempati dan lebih mampu menyelesaikan masalah.

Terlalu banyak komentar negatif atau kritik
Menurut Jack Canfield, seorang pakar kepercayaan diri, melaporkan hasil penelitiannya bahwa setiap hari seorang anak menerima 450 komentar negatif. Sedangkan komentar positifnya hanya 75. Hal ini mengakibatkan anak akan mengalami kemandekan belajar. Anak enggan mencoba hal-hal baru yang kreatif, dan takut berekspresi karena takut diejek oleh orang lain. Seorang yang kurang membaca diibaratkan seperti pikirannya yang kurang gizi. Akibatnya otak menjadi mudah tumpul. Hal ini dikarenakan otak jarang diasah oleh asupan ilmu pengetahuan yang bisa didapat melalui aktivitas membaca.

Kurangnya pembiasaan membaca di rumah

Anak-membaca-1

Seorang yang kurang membaca diibaratkan seperti pikirannya yang kurang gizi. Akibatnya otak menjadi mudah tumpul. Hal ini dikarenakan otak jarang diasah oleh asupan ilmu pengetahuan yang bisa didapat melalui aktivitas membaca.

Adanya pewarisan kebiasaan yang buruk
Perilaku dan kata-kata kita yang kurang baik akan ditularkan kepada anak. Misalnya takut gelap, takut ular, kurang peduli terhadap orang lain, sembrono dan lain-lain. Hal ini tentunya juga akan menumpulkan kreativitas seorang anak.

Penerapan pola lama yang sudah tidak cocok untuk jaman sekarang
Metode pembelajaran jaman kita sekolah dulu dengan jaman sekarang tentunya terdapat perbedaan. Sebaiknya referensi terkini dalam dunia pendididkan harus dikembangkan. Kalau kita masih menggunakan gaya dan media belajar yang itu-itu saja, sama seperti jaman kita sekolah dulu, akan membuat anak menjadi cepat bosan dan tidak menyenangkan. Misalnya : posisi bangku harus sejajar, murid harus duduk rapi dan tidak boleh ada yang ribut, guru menerangkan di depan kelas dengan metode ceramah, dan lain-lain.

http://www.dreamstime.com/-image12273535

Dengan demikian, jelaslah bahwa kreativitas sebagai modal hidup bagi seorang anak. Dengan kreativitas, seorang anak dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Banyak orang sukses dan maju berkat hasil kreativitasnya. Begitupula negara-negara menjadi maju karena bangsanya penuh kreativitas. Mulai dari teknologi sampai ilmu pengetahuan, semuanya merupakan sumbangan dari suatu kreativitas seseorang.

Oleh karena itu hati-hatilah dengan pola asuh dan sistem pendidikan yang kita berikan kepada anak. Bila terjadi kesalahan dalam pola asuh dan sistem pendidikan pada mereka, maka dapat “membunuh” daya kreativitas si anak. Kondisi ini artinya kita telah membuat 90% kekuatan imajinasi dan kreativitas anak menjadi hilang. Namun yang perlu kita sadari, kreativitas itu tidak dapat dibentuk secara instan. Tugas kitalah untuk memupuk anak-anak kita agar terbiasa dengan pola hidup kreatif sejak usia dini.
Hidup tanpa bekal kreativitas, bagaikan hidup tanpa modal.(Bunda Ranis)
Sumber :

Andi Yudha Asfandiyar. Creative Parenting Today : Cara Praktis Memicu dan Memacu Kreativitas Anak Melalui Pola Asuh Kreatif. Bandung : Kaifa. 2012
Risang Melati. Kiat Sukses Menjadi Guru PAUD yang Disukai Anak-anak. Yogyakarta : Araska. 2012