151 Views

Jangan Memaksa Anak Belajar!

J
Sumber : www.google.co.id

Setiap orang tua bermimpi memiliki anak yang cerdas dan berprestasi. Namun yang harus kita ingat bahwa anak-anak bukanlah suatu objek yang menjadi alat eksperimen atas ambisi orang tuanya. Seringkali kita memperlakukan anak sesuai dengan harapan kita, tetapi sayangnya seringkali pula kita lupa memperhatikan hak-hak mereka. Yang perlu ditanamkan dihati dan pikiran kita bahwa tugas kita adalah menstimulasi tumbuh kembang anak dengan seksama dan sebaik-baiknya dan mendampingi anak agar mereka dapat tumbuh kembang dengan optimal sesuai dengan usianya. Salah satu caranya yaitu dengan memberikan mereka lingkungan yang kondusif untuk belajar. Misalnya kita menginginkan anak untuk bisa membaca, menulis dan berhitung, maka cara yang dipilih juga harus sesuai dan disukai anak, yaitu cara yang menyenangkan, penuh kasih dan tanpa paksaan.

Memaksa anak belajar sama halnya dengan mematikan motivasi intrinsiknya. Anak yang terbiasa mendapat paksaan untuk belajar justru akan menjadi takut bila harus belajar. Kondisi ini membuat anak menjadi bosan, malas bahkan trauma untuk belajar, sehingga justru sulit untuk mencapai hasil optimal sesuai harapan kita. Bila kita memaksa anak untuk belajar, maka yang terbentuk di pikiran mereka adalah motivasi belajar hanya karena takut dengan orang tua atau gurunya, bukan karena atas dasar motivasi intrinsik yang terbentuk di dalam diri mereka. Jadi belajar hanya menjadi beban, bukan timbul atas kesadarannya sendiri karena si anak paham akan makna kenapa mereka harus belajar.

Anak yang terbiasa dengan kondisi belajar dengan cara dipaksa, dimarahi dan dibentak sebetulnya akan menjadi tidak efektif bagi proses pembelajaran itu sendiri. Kondisi otak ketika mendapat instruksi dengan amarah justru malah menjadi menciut. Artinya bahwa otak bukannya mudah untuk memahami atas instruksi tersebut tetapi justru akan menjadi lebih sulit untuk memahami dan mengingatnya.

Lingkungan kondusif untuk belajar

j2
Sumber : www.google.co.id

Lain halnya bila kita menciptakan kondisi psikis yang sehat dan seimbang pada anak-anak ketika mereka hendak belajar. Situasi yang menyenangkan dan penuh kasih sayangakan membentuk manifestasi penciptaan lingkungan yang kondusif. Kondisi lingkungan yang harmonis juga akan membantu anak dalam mengembangkan kreatifitasnya. Anak tidak merasa tertekan, takut untuk mengekspresikan perasaannya dan berani mengeluarkan pendapat atau ide-idenya. Cinta kasih merupakan bagian yang hidup dalam diri manusia, bila di lingkungan terdekat dengan anak dapat tercipta kehidupan yang rukun dan damai maka dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya. Gunakan bahasa kasih sayang yang penuh kelembutan, serta ketulusan saat berbicara dengan anak, agar otak anak bisa berkembang dengan baik. Yang perlu kita ingat, bahwa otak kanan anak hanya bisa merespons kata-kata yang baik, menyenangkan, dan penuh cinta kasih dari orang tua dan guru. Kondisi ini bila berhasil diciptakan, maka persepsi belajar bukanlah lagi menjadi momok yang membosankan dan menakutkan bagi anak.

j3

Begitupula dalam pembelajaran membaca, menulis dan berhitung, bila dilakukan dalam lingkungan kondusif, dengan situasi dan cara yang menyenangkan maka belajar bukan menjadi beban bagi anak. biMBA-aiueo peduli akan hal ini, oleh karena itu melalui metode fun learning, dengan cara bermain yang menyenangkan hati anak, dan kasih sayang dari para motivator biMBA, maka biMBA berhasil membimbing anak-anak agar tumbuh minat baca dan belajarnya. Ketika hati anak senang maka minatnya akan timbul, ini artinya kita berhasil menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri anak, sehingga anak akan menyukai belajar melalui proses latihan terus menerus. Sebagai akibatnya anak akan senang belajar, mampu membaca, menulis dan berhitung tanpa perlu kita paksa. Tentunya inilah harapan dari kita semua.

Referensi :

Murtie, Afin. Mengajari Anak Calistung dengan Bermain. Jakarta : Kompas Gramedia. 2013

 Olivia, Femi. Otak Kiri & Otak Kanan Anak Sama Penting. Jakarta : Kompas Gramedia. 2013