191 Views

Jangan Sepelekan Corat-Coret Anak!

Mengapa jangan sepelekan corat-coret anak?

gambar1
Sumber : http://www.wajahbocah.com/mengamati-tipe-corat-coret-yang-dibuat-anak.html.

Sebagai orang tua seringkali kita keliru dengan persepsi yang kita miliki. Kita sering keburu emosional ketika melihat anak mencorat-coret dinding rumah. Kita lebih sayang dengan cat dinding rumah kita yang sudah bagus ketimbang hati anak yang sedih karena dimarahi akibat mengotori dinding rumah. Padahal dinding rumah yang kotor bisa dibersihkan kembali, tetapi bagaimana dengan perasaan sedih anak yang sulit diobati?

Jangan keburu melarang anak ketika mereka corat-coret dinding, karena kreativitas anak jauh lebih mahal ketimbang cat tembok. Dibalik corat-coret tak beraturan pada anak, ternyata bermanfaat bagi mereka, yaitu :

Menyeimbangkan otak kiri dan kanan

Aktivitas menggambar merupakan salah satu cara untuk merangsang kerja otak kanan. Oleh karena itu seringkali otak kanan disebut sebagai “otak gambar”. Pengembangan otak kanan sejak dini sangat penting dan diperlukan bagi masa depan anak. Karena otak kanan yang distimulasi dengan baik dapat mendorong anak untuk berpikir lebih kreatif, positif, optimis, meningkatkan daya ingat, melatih motorik halus dan merangsang rasa ingin tahu anak. Selain itu, anak juga akan lebih mudah bersosialisasi, mudah empati dengan orang lain dan meningkatkan ekspresinya. Dengan begitu kreativitas dan imajinasi anak akan semakin berkembang dan harapannya, dikemudian hari anak akan mampu menciptakan kreasi, konsep dan inovasi dari pemikirannya sendiri.

Keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri ini ternyata juga dapat mempengaruhi bagaimana seorang anak mampu mengatasi stresnya dengan lebih baik dibandingkan dengan anak yang memiliki otak kiri lebih dominan. Faktor-faktor inilah yang akan menjadikan pola pikir anak yang akan terbawa hingga mereka dewasa dan berkarir kelak.

Dalam dunia karier seringkali kita temui orang yang kurang pandai menyampaikan gagasan dan komunikasi, tidak kreatif, tidak imajinatif, sulit menerima pendapat dan pemikiran baru, kurang pandai memetakan masalah, mudah stres, kurang inovatif, mudah menyerah, tidak berpikir out of the box, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan orang-orang tersebut memiliki otak kiri yang lebih dominan. Padahal ujung-ujungnya sebetulnya akan menyulitkan orang itu sendiri karena karier mereka akan mandeg dan sulit meraih kesuksesan.

Mengembangkan kreativitas dan imajinasi

Corat-coret merupakan kreativitas alamiah yang ada pada setiap anak dan menjadi “media” bagi anak untuk mengekspresikan pikiran maupun perasaannya. Namun sayangnya tanpa kita sadari justru perilaku kita seringkali telah menghambat kreatifitas mereka. Baru melihat anak mengambil spidol atau krayon saja kita sudah marah-marah atau ngomel karena takut dinding atau sofa rusak dan kotor. Bila anak sudah mau menggambar pun, tak jarang orang tua masih saja mengkritik hasil karya anaknya. Hal ini menyebabkan anak merasa gagal dan malu untuk melakukan aktivitas menggambar kembali.

Kreativitas anak juga seringkali menjadi terhambat karena mereka ditekankan harus meniru sama persis gambar dari buku, misalnya mencontoh gambar, warna dan ukuran yang ada. Kalau warna daun harus hijau, pisang harus kuning, rambut harus hitam. Misalnya ketika anak memberi rambut warna ungu, kita justru malah complain kepada mereka. Seringkali anak tidak diberi kesempatan memilih gambar dan warna yang mereka inginkan.

Oleh karena itu sebaiknya orang tua tidak melarang kegiatan anaknya ini. Karena banyaknya larangan yang diterima oleh si kecil akan menghambat sisi kreativitas anak untuk berani mengekspresikan diri, apa yang ada dalam pikiran dan imajinasinya secara bebas.

Bila kita hanya memberi larangan atau memarahinya sebetulnya tidak akan memberitahu anak, mana yang salah dan mana yang benar. Sebagai orang tua bijaksana, hendaknya juga dapat menyediakan sarana bagi anak untuk menggambar serta memberitahu dan memberi pengertian pada anak dimana saja anak boleh menggambar dan daerah mana saja yang tidak boleh.

Memang tidak mudah dan tidak cukup sekali saja memberitahunya. Untuk itu orang tua harus sabar dan mengulanginya terus, serta jangan lupa untuk memberi anak pujian jika ia berhasil menggambar di tempat yang benar. Sediakanlah sarana seperti buku gambar, kertas kosong dan alat-alat lainnya untuk menggambar dan mewarnai. (Bunda Ranis)

Referensi :

Olivia, Femi. Gembira Bermain Corat-Coret. Jakarta : Kompas Gramedia. 2013