89 Views

Kedudukan Minat dalam Membaca

Bagaimana Kedudukan Minat dalam Membaca?

minat
Sumber : www.google.co.id

Judul diatas mengingatkan kita bahwa segala sesuatu bila diiringi dengan minat biasanya akan dilakukan dengan senang dan sungguh-sungguh. Bila kita sudah memiliki minat maka kita akan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan apa yang ingin kita capai. Kita akan menikmati berbagai upaya tersebut karena kita melakukannya atas kesadaran sendiri, tanpa adanya unsur paksaan dari pihak manapun. Maka dari itu kedudukan minat menduduki peringkat teratas bila kita akan melakukan sesuatu hal.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2001 : 744), kata minat memilki arti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan. Jadi harus ada sesuatu yang ditimbulkan, baik dari dalam dirinya maupun dari luar untuk menyukai sesuatu. Hal ini menjadi sebuah landasan penting untuk mencapai keberhasilan sesuatu karena dengan adanya minat, seseorang menjadi termotivasi tertarik untuk melakukan sesuatu.

Membaca merupakan salah satu aktifitas yang membutuhkan unsur minat didalamnya. Tanpa adanya minat, membaca akan sulit dilakukan oleh siapapun juga. Menumbuhkan minat membaca bukanlah hal yang mudah, apalagi bila kita sudah terlanjur dewasa, dan sejak dulunya tidak terbiasa dikelilingi oleh lingkungan yang cinta membaca. Namun tidak ada kata terlambat bagi kita yang sudah terlanjur dewasa, masih banyak kesempatan bagi kita agar gemar membaca asalkan diiringi dengan tekad atau niat yang kuat.

Fenomena diatas sebaiknya kita jadikan pelajaran, karena sadar bahwa menumbuhkan minat membaca memerlukan waktu dan upaya-upaya tertentu, maka alangkah baiknya bila menumbuhkan minat membaca dilakukan sejak anak-anak masih usia dini, yaitu pada saat anak baru belajar membaca permulaan, atau bahkan pada saat anak baru mengenal sesuatu. Anak yang sudah timbul minat bacanya dapat dilihat dari aspek kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca. Semakin dini menumbuhkan minat membaca pada anak, maka akan semakin mudah membentuk sikap untuk gemar membaca. Ini artinya kita telah menanamkan budaya membaca sejak anak usia dini sebagai generasi penerus bangsa yang lebih baik dan berkualitas.

Fakta Minat Baca di Indonesia Rendah

Berdasarkan data dari UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN, yakni dari sekitar 1.000 penduduk hanya 1 orang yang memiliki minat membaca buku yang tinggi. Artinya, dari seribu orang Indonesia hanya ada satu orang saja yang memiliki minat baca sangat tinggi. Bandingkan dengan Amerika yang memiliki indeks membaca 0,45 dan Singapura yang memiliki indeks 0,55. Sementara Jepang memiliki indeks 17 koma sekian.

Tidaklah heran bila Indonesia menduduki peringkat paling rendah di kawasan ASEAN dalam hal minat bacanya. Persepsi yang berkembang di masyarakat luas adalah membaca merupakan kegiatan yang membosankan, kurang menarik dan monoton. Mereka cenderung memilih peralatan elektronik sebagai sarana hiburan dalam mengisi waktu luangnya. Daya tarik buku semakin tergeser, begitupula dengan aktivitas membacanya yang semakin merosot.

Andai saja masyarakat Indonesia mau merubah persepsi bahwa kebutuhan akan membaca seperti kebutuhan primer kita sehari-hari. Masyarakat selalu lapar dan haus ilmu, informasi dan pengetahuan, serta sadar bahwa dengan membaca akan membuka cakrawala pengetahuan kita. Tentunya Indonesia dapat terlepas dari jeratan kebodohan dan penindasan dari bangsa lain.

Faktor Pendukung Minat Membaca

Orang yang mempunyai minat membaca kuat akan diwujudkan dalam kesediaannya untuk mendapatkan berbagai bahan bacaan dan kemudian membacanya atas kesadaran sendiri, bukan paksaan dari orang lain. Motivasi instrinsik sudah terbentuk di dalam dirinya dan Ia merasa bahwa aktivitas membaca sudah menjadi bagian dari hidupnya, sampai-sampai mottonyapun, tiada hari tanpa membaca. Walaupun dilakukan hanya 10-15 menit perhari, tetapi konsisten dilakukan tiap hari bahkan Ia memiliki target tertentu tentang bahan bacaannya tersebut. Misalnya dalam seminggu akan menyelesaikan bacaannya minimal 3 buku, dalam sehari minimal 10 halaman, dan lain-lain.

Tentang target membaca ini sebaiknya juga harus dimulai sejak anak usia dini. Misalnya saja dengan kegiatan rutin mengunjungi perpustakaaan. Kegiatan ini tentunya tidak lepas dari andil para pendidik, yakni guru di sekolah. Termasuk merubah image di mata anak-anak yang beranggapan bahwa banyak membaca seperti si culun kutu buku yang berkacamata tebal. Sehingga kebanyakan anak-anak menjadi enggan bahkan malu untuk mengunjungi perpustakaan. Tantangan kitalah yang harus menyingkirkan huruf “L” pada kata ‘malu” menjadi “mau”. Kita harus menanamkan kata “mau” di benak anak-anak sejak mereka kecil. Mau untuk mengunjungi perpustakaan, mau untuk membaca, mau untuk memahami apa intisari dari buku yang telah dibaca. Tidak perlu takut menjadi orang yang introvert, kaku, atau malah terkesan aneh karena kita kutu buku. Justru orang-orang yang saya kenal, yang kebiasaan membacanya kuat menjadi seorang yang sangat supel, hangat, dan nyambung dengan apapun yang dibicarakan.

Berbicara mengenai minat membaca, berkaitan erat dengan aspek kognitif dan afektif. Aspek afektif inilah yang memiliki peranan lebih besar dalam memotivasi tindakan daripada aspek kognitifnya. Dan bila aspek afektifnya sudah terbentuk maka cenderung lebih tahan terhadap perubahan dibanding bila hanya mengandung aspek kognitifnya saja. Aspek afektif ini akan semakin efektif bila mulai dibentuk sejak anak-anak masih usia dini, karena akan melekat lebih baik sehingga menjadi kebiasaan posiitif yang terbawa hingga mereka dewasa kelak.

biMBA-AIUEO telah melakukan riset akan hal ini, oleh karena itu biMBA sadar betul betapa pentingnya menumbuhkan minat pada diri anak, dalam hal ini biMBA peduli untuk menumbuhkan minat belajar dan membaca bagi anak, khususnya bagi anak-anak usia 3-6 tahun (golden age). Karena biMBA yakin tanpa adanya minat, belajar dan membaca akan sulit dilakukan. Tetapi bila anak-anak berhasil menempatkan kedudukan minat sebagai peringkat teratas, maka anak-anak akan dapat dengan mudah untuk melakukan aktifitas membaca dan belajar tanpa adanya unsur paksaan. Jadi membaca dan belajar bukan menjadi beban, tetapi justru sebagai sesuatu hal yang menyenangkan, dilakukan dengan suka ria dan hati senang.(Bunda Ranis)

Referensi :

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/05/17/minat-baca-orang-indonesia-cuma-001-persen

http://eprints.uny.ac.id/9696/3/Bab%202%20-08108249144.pdf

http://www.psychologymania.com/2012/10/pengertian-minat-baca.html

http://www.unpad.ac.id/2013/04/akses-buku-sulit-minat-baca-di-indonesia-masih-rendah/

http://arryrahmawan.net/8-cara-menumbuhkan-minat-baca/

http://prospek-keluarga.blogspot.com/2013/05/cara-meningkatkan-minat-baca-pada-anak.html