Kenapa Minat Baca di Indonesia Rendah ?

| May 1, 2013 | 0 Comments

Minat membaca berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan suatu bangsa.  Kegiatan membaca merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa.    Parameter kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi pendidikannya.    Pendidikan selalu berkaitan dengan kegiatan belajar.    Belajar selalu identik dengan kegiatan membaca karena dengan membaca akan bertambahnya pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang.   Pendidikan tanpa membaca bagaikan raga tanpa ruh.   Fenomena “pengangguran intelektual” tidak akan terjadi apabila masyarakat memiliki semangat membaca yang membara.

Sayangnya, di Indonesia masih terdapat fenomena “pengganguran intelektual” karena minat membaca masyarakatnya masih dikatakan rendah.    Berdasarkan survei yang dilakukan oleh International Education Achievement (IEA) pada awal tahun 2000 menunjukkan bahwa kualitas membaca anak-anak Indonesia menduduki urutan ke 29 dari 31 negara yang diteliti di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.    Dengan demikian tidaklah mengherankan bila Indeks kualitas sumber daya manusia (Human Development Index/HDI) di Indonesia juga rendah.    Hal ini sesuai dengan  survei yang dilakukan oleh UNDP pada tahun 2005 bahwa HDI Indonesia menempati peringkat 117 dari 175 negara.

Bila kita analisa, rendahnya minat baca di Indonesia disebabkan karena beberapa faktor.   Diantaranya yaitu :

  • Warisan Budaya membaca

Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang.    Kita hanya terbiasa mendengar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal atau lisan yang diceritakan oleh orang tua, nenek, dan tokoh masyarakat.    Sehingga tidak ada pembelajaran secara tertulis yang dapat menimbulkan kebiasaan membaca.

Kebiasaan membaca dipengaruhi oleh faktor determinisme genetic, yakni warisan orangtua.    Seseorang yang gemar membaca dibesarkan dari lingkungan yang cinta membaca.   Lingkungan terdekatnya inilah yang akan mempengaruhi seseorang untuk mendekatkan diri pada bacaan, jadi seseorang tidak suka membaca karena memang sejak kecil dibesarkan oleh orangtua yang tidak pernah mendekatkan dirinya pada bacaan.

Di negara maju, seperti Jepang, budaya membaca adalah suatu kebiasaan yang telah menjadi kebutuhan bagi masyarakatnya.   Ibarat sandang, pangan dan papan, membaca merupakan bagian dari kehidupan mereka tiap harinya.   Sajidiman Surjohadiprojo (1995),  ketika menjabat sebagai duta besar Jepang mengatakan bahwa yang paling membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa Jepang adalah kemampuan adaptifnya, termasuk kemampuan membaca dan mempelajari budaya bangsa lain.   Tidak akan dijumpai orang Jepang melamun dan mengobrol di kereta api bawah tanah, kegiatan mereka kalau tidak tidur tentu membaca.

 

  • Sistem pembelajaran di Indonesia

Sistem pembelajaran di Indonesia telah membuat siswa cenderung  pasif dan hanya mendengarkan guru mengajar di kelas daripada mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di sekolah dengan membaca buku sebanyak-banyaknya.    Misalnya saja PR yang diberikan oleh guru, kebanyakan PR tersebut berbentuk mengerjakan soal-soal di buku paket atau LKS.    Berarti hanya melanjutkan tugas dan soal yang belum selesai dikerjakan di sekolah.    Sebaiknya PR yang diberikan lebih berbentuk sebuah proyek yang menyenangkan, dimana anak dituntut untuk banyak membaca dari berbagai literatur.   Wawasan mereka lebih berkembang sehingga perlahan akan terbina iklim membaca.  Membaca bukan dianggap sebagai hal yang membosankan dan tidak menarik, melainkan sebagai hal menyenangkan bagi siswa.

Di beberapa negara maju,  siswa SMA berkewajiban menamatkan buku bacaan dengan jumlah tertentu sebelum mereka lulus sekolah. Seperti data yang terdapat di salah satu banner di rumah puisi milik sastrawan nasional, Taufik Ismail, bahwa misalnya di Jerman, Perancis dan Belanda mewajibkan siswanya harus menamatkan hingga 22-32 judul buku (1966-1975), di Jepang 15 judul buku (1969-1972),  di Malaysia 6 judul Buku (1976-1980), Singapura 6 judul buku (1982-1983),  di Thailand 5 judul buku (1986-1991), sedangkan di Indonesia sejak tahun 1950-1997 nol buku atau tidak ada kewajiban untuk menamatkan satu judul buku pun.   Kondisi ini  pun masih berlangsung hingga sekarang.

Kepedulian pemerintah dalam sistem pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa itu sendiri.   Jepang yang pada tahun 1945 dibom oleh sekutu hingga dua kotanya hancur luluh, untuk bangkit pertama kali yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan para guru.

Kenapa demikian?

Karena Jepang yakin, bahwa mereka akan dapat bangkit dan kembali menjadi salah satu negara terkemuka di dunia adalah melalui kepeduliannya dengan pendidikan.

  • Teknologi dan berbagai tempat hiburan

Munculnya permainan (game) yang makin canggih dan variatif serta tayangan televisi yang semakin menarik, telah mengalihkan perhatian anak dari buku.  Tempat hiburan yang makin banyak didirikan juga membuat anak-anak lebih banyak meluangkan waktu ke tempat hiburan daripada membaca buku.

  • Minimnya sarana untuk memperoleh bacaan

Masih minimnya sarana untuk memperoleh bacaan juga menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.   Andaipun harus membeli, harga buku yang ada di pasaran relatif mahal.    Hal ini menyebabkan orang tua tidak membelikan buku bacaan tambahan selain mengutamakan buku-buku yang diwajibkan oleh sekolah.   Apalagi kondisi ekonomi masyarakat yang kurang mampu, jangankan terpikir untuk membeli buku bacaan, untuk memiliki ongkos pergi ke sekolah pun terkadang menjadi hambatan bagi mereka.

Minat baca masyarakat Indonesia masih rendah.   Kondisi saat ini tercatat satu buku dibaca sekitar 80.000 penduduk Indonesia.   Hal ini dikatakan oleh Direktur Eksekutif Kompas Gramedia, Suwandi S Subrata,  sebagaimana ditulis dalam laman www.kompas.com pada Rabu (29/2) yang menyebutkan bahwa pada tahun 2011 tercatat produksi buku di Indonesia sekitar 20.000 judul buku.   Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta, angka ini sangat memiriskan.    Satu buku dibaca 80.000 orang. Jumlah ini sangat tidak masuk akal, katanya.

 

Suasana nyaman di perpustakaan akan menarik perhatian siswa

Oleh karena itu, perlu adanya perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah yang dapat memfasilitasi anak-anak agar dapat membaca buku.  Namun sayangnya sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.   Jumlah perpustakaan umum masih tergolong sedikit dan koleksi buku-buku di perpustakaan sekolah cenderung terbatas. Letak perpustakaan di sekolah-sekolah kebanyakan di pojok, gelap, berdebu, susunan buku kurang menarik, tempatnya juga tidak nyaman, sehingga di mata siswa, perpustakaan bukanlah tempat yang menarik untuk di kunjungi.

Jika demikian kondisinya, maka wajarlah jika minat baca bangsa ini rendah.   Sebab, pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang mengatur hal ini terutama pihak yang terkait seperti Departemen Pendidikan, belum memiliki kebijakan yang mampu membuat bangsa ini merasa perlu membaca.

  • Sifat malas yang merajalela

Lingkungan saat ini sudah sangat modern.   Namun tidak dengan sendirinya kita sebagai manusia dapat dikatakan menjadi modern.   Karena kita baru bisa dikatakan modern kalau dapat merubah perilaku dan pola pikir kita.  Ciri-ciri manusia modern adalah jika ia mau membuka diri terhadap pengalaman baru, inovasi dan perubahan, bukan hanya sekedar malas-malasan.

Menurut Suherman, M.Psi, dalam bukunya “Bacalah!  Menghidupkan Kembali Semangat Membaca Para Mahaguru Peradaban” bahwa di negara maju, misalnya Amerika Serikat dan Jepang, setiap individu memiliki waktu baca khusus dalam sehari.   Rata-rata kebiasaan mereka menghabiskan waktu untuk membaca mencapai delapan jam sehari.   Sementara di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap harinya.   Mereka cenderung memilih untuk bersantai main game, bermalas-malasan menonton televisi atau pergi jalan-jalan ke mall atau tempat hiburan lainnya.

Masyarakat di negara maju telah memiliki motivasi intrinsik untuk membaca.     Mereka paham arti pentingnya membaca yaitu merupakan aktivitas vital yang harus diselami jika ingin sukses di dunia ini.    Pangan, sandang, dan papan adalah kebutuhan primer manusia secara fisik (badan), sedangkan buku dan bahan bacaan lainya adalah kebutuhan primer manusia secara non-fisik, rohani (kebutuhan otak).

Dengan alasan itulah, buku selayaknya kita jadikan sebagai menu harian yang hampir sebanding dengan pangan, sandang, dan papan. Kita harus sadar bahwa buku adalah pengusung peradaban.   Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, dan pemikiran macet.   Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.(Bunda Ranis)

 

Referensi :

Chatib, Munif. Orangtuanya Manusia : Melejitkan potensi dan kecerdasan dengan menghargai fitrah setiap anak. Bandung : Kaifa. 2013

http://www.katalogbukuonline.net/penyebab-rendahnya-minat-baca-anak/

http://www.pemustaka.com/analisa-penyebab-rendahnya-minat-baca-dan-upaya-menumbuhkembangkan-minat-baca.html

http://masyarakatliterasiindonesiabudayabaca.blogspot.com/2012/11/menghidupkan-budaya-baca.html

http://saipuddin.wordpress.com/2010/05/16/7-penyebab-rendahnya-minat-baca/

http://gempatuls-readingforfun.blogspot.com/2011/02/faktor-faktor-yang-menyebabkan.html

http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/16/rendahnya-minat-baca-bangsa-442837.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags: ,

Category: Artikel menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published.