37 Views

Kisah Teko Cantik

Bagaimana kisah teko cantik?

Hidup ini layaknya roda kehidupan. kadang berada di atas, kadang berada di bawah.   Ada pula yang mengatakan bahwa hidup ini seperti ombak di pantai, kadang tenang, kadang bergelombang.    Apapun perumpamaan manusia terhadap kehidupan ini, hakekatnya adalah bahwa hidup tidak akan setenang air di dalam kolam.    Pasti akan ada goncangan-goncangan, hambatan-hambatan, dan ujian-ujian yang bermacam-macam  bentuknya.

Terkadang manusia seringkali merasa tidak mampu menghadapi cobaan hidup.    Bahkan banyak pula yang tidak menyadari bahwa semua nikmat dan semua ujian hidup berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.     Lebih parah lagi ada yang menyesali diri sendiri, menganggap nasib diri terlalu sial, sehingga tidak pernah mendapatkan kebahagiaan dalam hidup.

Sumber : www.google.co.id

Mungkin teman-teman pernah mendengar cerita sebuah cangkir cantik yang dipajang di etalase toko.   Sebelum berada disana, ia hanyalah seonggok tanah liat yang tidak  dihiraukan orang.    Kemudian seorang pengrajin mengambil tanah liat tersebut, membentuknya, dan membakarnya di dalam perapian.    Sang tanah liat sempat benci dan marah dengan perlakuan yang diterimanya,  ia harus menahan sakit dan kepanasan.     Ia juga harus rela dirinya dicat dengan berbagai warna, kemudian dibakar lagi.     Segala perlakuan tersebut sungguh tidak mengenakkan baginya.   Namun apa yang terjadi setelah semua proses selesai?    Sang tanah liat mendapati dirinya telah menjadi sebuah cangkir cantik.    Ia bukan lagi seonggok tanah liat yang bau, tapi ia telah menjadi sosok baru yang lebih baik.

Goncangan, hambatan, dan ujian yang menghampiri hidup kita,  adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kita, agar kita menjadi manusia yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih baik dari sebelumnya.     Anggap saja ketika kita sedang diuji dengan berbagai masalah, kita sedang dalam masa ujian layaknya anak sekolah.     Untuk bisa naik tingkat harus ada ujian untuk menguji kesiapan.    Makin tinggi tingkat, makin tinggi pula level kerumitan ujian yang diberikan.    Tuhan pasti memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hambanya. Yakini bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik dari Tuhan untuk kita.(Tari)

 Salam biMBA…tetap semangat dan terus belajar.

Tinggalkan Balasan