11 Views

Kita dan Air

Seperti apa hubungan hidup kita dan air?

Saat kita bersenang senang mandi air bersih di kolam kolam renang di tempat rekreasi, banyak saudara kita di gunung dan bukit dengan susah payah mencari air untuk minum.

Saat kita bisa memilih kualitas air yang kita inginkan, bayak saudara kita masih minum air langsung dari sumber air tanpa pengolahan.

Saat perusahaan air kemasan menyedot sumber air dari sumber pegunungan, warga setempat hanya menjadi penonton dengan tetap minum air tanpa diolah, sementara merekalah pelindung mata air turun temurun.

Pada sidang Umum PBB ke 47 tanggal 22 desember 1992 yang dilakukan di Rio De Janeiro, Brasil, telah ditancapkan tonggak kepedulian terhadap penggunaan air yang bersih, usaha usaha yang dilakukan oleh berbagai pihak, perorangan maupun kelompok dalam mengupayakan air bersih serta penanaman kesadaran akan pentingnya usaha melestarikan mata air. Kepedulian terhadap penggunaan air bersih untuk kehidupan adalah respon terhadap maraknya penyakit hingga kematian yang disebabkan oleh penggunaan air yang kualitasnya rendah dan tidak layak. Pengguna air tertingi adalah rumah tangga dimana didalamnya ada Ibu dan anak yang berposisi sebagai pengelola rumah tangga.

 air3Sumber : http://aimyaya.com/id/lingkungan-hidup/menghitung-perkiraan-kebutuhan-minimal-air-bersih/.

Gambar diatar adalah hirarki dari kebutuhan akan air bersih tiap kepala. Puncak piramid menerangkan pentingnya air sebagai konsumsi air minum minimal manusia dalam sehari sebagai kebutuhan untuk bertahan hidup. Disusul dengan kebutuhan air untuk memasak. Dapat dikatakan kebutuhan air untuk minum dan memasak adalah kebutuhan yang primer dimana kebutuhan minimal ini harus terpenuhi.

Rumah sebagai pusat pengelolaan kebutuhan air keluarga mestinya bisa mendapatkan suplai yang cukup untuk menjaga kualitas kesehatan yang pada giliranya dapat menjaga produktivitas keluarga. Jika kesehatan keluarga tinggi maka produktivitasnya juga tinggi. Dengan demikian sebenarnya air harus menjadi hal yang menyehatkan dan bukan justru menjadi media masuknya bakteri penyakit ke dalam tubuh.

Khusus konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Meskipun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini. Jadi bakteri bisa dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C namun banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.

Berbagai bibit penyakit yang berkembang biak di air sebenarnya dapat di atasi dengan banyak hal yang sederhana. Namun pengetahuan dan pendidikan serta kepedulian ini sering kali tidak menjadi bagian penting dalam penggunaan air. Bentuk kasat mata, dimana air berwarna bening adalah bersih, seringkali dirasa cukup untuk digunakan sebagai konsumsi kebutuhan air minum keluarga. Bahwa kualitas air disesuaikan dengan kebutuhan untuk apa air tesebut digunakan, kiranya belum menjadi prioritas. Artinya air mandi akan sama saja pengolahanya dengan air yang digunakan sebagai air minum. Bakteri dan mikro organisme yang hdup di air tentu saja tidak semua menguntungkan bagi kesehatan jika ikut masuk kedalam sistem pencernaan manusia. Maka mengolah dengan merebus lebih dari 10 menit, misalnya, atau mendiamkan di bawah terik matahari beberapa waktu adalah upaya untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan mikro organisme yang merugikan bagi kesehatan manusia.

Pola hidup bersih keluarga juga mengambil peran penting dalam menjaga kesehatan yang pada gilirannya berpengaruh pada produktifitas keluarga. Ibu sebagai pengelola rumah tangga mengambil peran penting dalam menjaga kesehatan termasuk menjaga mutu air yang digunakan di keluarga. Kita bisa memahami bersama bahwa perempuan di Indonesia sebagian besar bekerja di lingkungan rumah dan menjadi guru utama dalam keluarga. Anak yang masih rentan terhadap penyakit khususnya yang masuk melalui pencernaan menjadi pihak yang seringkali tidak mendapat perhatian cukup untuk mendapatkan air bersih.

Cerdas dalam mengolah air untuk kebutuhan sehari hari seharusnya dimiliki oleh siapa saja yang membutuhkan kesehatan. Ibu, anak dan air adalah sebuah siklus yang penting dalam kehidupan. mereka adalah kesatuan dalam menjaga generasi ini melewati masa kritis dalam pertumbuhan. Kemampuan anak dalam mendapatkan kebutuhan air bersih ditopang dengan kemampuan ibu dalam memahami pengolahan air yang bersih dan sehat.(Demsi)