1.260 Views

Komunikasi Guru Bagi Anak Usia Dini

Apa manfaat Komunikasi Guru Bagi Anak Usia Dini?

guru

Banyak orang yang bisa mengajar, namun belum tentu mau mengajar bagi anak usia dini di Playgroup, TK atau PAUD. Kenapa ? karena mengajar anak usia dini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra. Bahkan ada juga yang beranggapan lebih sulit mengajar anak usia dini dibandingkan dengan tingkat usia diatasnya. Hanya guru-guru yang memiliki passion dengan anak-anaklah yang tertantang untuk mengajar anak usia dini.

Periode anak usia dini merupakan masa keemasan, dimana potensi anak sedang berkembang pesat dan sedang dahaganya terhadap berbagai pengetahuan baru. Bila guru berhasil mendidik muridnya pada usia keemasan ini, maka akan membantu terbentuknya karakter positif pada anak.

Salah satu faktor keberhasilan dalam mendidik anak usia dini adalah bagaimana seorang guru mampu berkomunikasi yang baik dengan anak didiknya. Berkomunikasi dengan anak usia dini tentu berbeda dengan remaja dan dewasa. Cara berpikir anak usia dini masih sederhana, konkret (nyata), penuh khayal, kreatif, ekspresif, aktif dan selalu berkembang. Oleh karena itu, seorang guru yang baik harus menyesuaikan cara berkomunikasi dengan anak didiknya sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan mudah.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar anak usia dini merasa nyaman saat berkomunikasi dengan guru, yaitu :

Jadilah pendengar yang baik

Dengarkanlah apa yang diceritakan oleh anak didik. Biasanya mereka akan senang untuk menceritakan pengalaman barunya. Tunjukkan ekspresi kalau kita tertarik terhadap cerita mereka. Maka anak akan semakin semangat untuk bercerita. Banyak manfaat bila kita bersedia menjadi pendengar yang baik, yaitu : akan membangun kepercayaan diri anak dalam hubungan sosialnya, merangsang kemampuan berbicara dan dapat mengurangi emosi anak karena mereka telah mengungkapkan perasaannya lewat cerita.

Fokus pada anak

Ketika anak sedang bercerita, usahakan agar kita fokus terhadap hal yang mereka ceritakan. Dengarkan sungguh-sungguh dengan penuh perasaan. Tatap wajah anak dengan pandangan mata sejajar. Hentikan sejenak aktivitas lainnya dan ajaklah anak mendekat. Jika perlu, berilah sedikit tanggapan tentang ceritanya tersebut.

Mengulang kembali cerita anak

Bahasa yang disampaikan anak terkadang berbeda dengan bahasa kita. Oleh karena itu, ulangilah lagi apa yang sudah diceritakan oleh anak sehingga apa yang kita persepsikan sama dengan yang dimaksudkan oleh si anak.

Bertanya

Seringkali anak bingung dengan perasaannya sendiri, apa yang membuatnya sedih atau gembira. Bila melihat situasi seperti ini, bantu anak untuk mengungkapkan perasaannya dengan bertanya. Minta mereka untuk bercerita, gali perlahan kejadian apa yang membuat mereka menjadi sedih atau gembira.

Namun yang perlu diperhatikan, bila anak sedang emosi jangan langsung kita tanya penyebabnya, tunggulah sampai ia merasa tenang. Kondisi yang belum stabil justru membuat anak akan mudah marah.(Bunda Ranis)