75 Views

Langkah Mudah Mengajak Anak Membaca

baca
Sumber : http://siraplimau.com/10-tips-ajar-anak-cepat-membaca-pupuk-minat-dari-kecil/

Bagaimana Langkah Mudah Mengajak Anak Membaca?

Usia batita adalah masa yang paling tepat bagi anak untuk dikenalkan pada huruf dan kata serta menumbuhkan keinginan bacanya. Meski demikian, syarat dan ketentuan berlaku di sini, yaitu:

1.  Ajarkan membaca dengan cara yang menyenangkan

2.  Jangan paksa anak, kalau sudah terlihat bosan segera hentikan.

3.  Jangan pasang target-target tertentu, seperti sekian bulan sudah hafal sekian huruf

4.  Berikan contoh langsung, anak yang tumbuh dari keluarga suka membaca lebih mudah mencintai kegiatan baca.

Langkah-langkah

Dengan kondisi menyenangkan tanpa target, inilah yang dapat Anda lakukan untuk mengajak anak Anda membaca:

1. Memasang karpet huruf

Pasanglah karpet huruf di kamar anak. Saat ini banyak tersedia karpet dengan motif huruf serta gambar-gambar menarik yang terbuat dari bahan karet yang bisa dilepas-lepas ataupun bahan wol. Dengan demikian setiap hari, tanpa disadari anak akrab dengan berbagai bentuk huruf.

2. Tempel nama

Tempelkan nama anak di pintu kamar atau lemarinya. Dengan melihat tulisan namanya setiap hari, si kecil akan hafal huruf-huruf tertentu sehingga ia tidak kaget saat belajar mengeja namanya.

3. Ada huruf di mana-mana

Kalau anak terlihat mulai asyik belajar mengenal huruf, orangtua bisa menempel huruf di tempat-tempat yang mudah terlihat. Misal, di lemari, pintu kulkas, dinding, kursi, buku dongengnya, dan sebagainya. Metode ini diharapkan mempermudah anak dalam belajar bunyi-bunyian huruf karena ia sudah mengenal bentuk huruf sebelumnya.

4. Kartu bergambar

Biasanya kartu baca itu berukuran 8×10cm, dengan gambar tertentu disertai tulisan di bawahnya. Contoh, gambar buah apel dengan tulisan APEL di bawahnya. Cara bermainnya cukup mudah, tunjukkan beberapa kartu supaya anak ingat. Lakukan dengan cara menyenangkan, misalnya menyelipkannya di antara kegiatan bermain.

5. Lagu-lagu

Beberapa lagu memang dibuat untuk mengajarkan kenal huruf pada anak. Nyanyikan lagu sambil bermain atau setelkan CD-nya saat bermain bersama anak. Lama-lama anak akan hafal karena sering menirukan bunyinya.

Related posts:

http://anakjenius.com/langkah-mudah-mengajak-anak-membaca.htm#more-65

1 Komentar

  1. Halo bunda Zilah,Menurut pendapat saya, umur erbapa anak mulai disekolahkan itu dapat dilihat dari berbagai sudut. Seorang anak dapat disekolahkan pada umur tertentu karena merupakan perwujudan dari dari rencana pendidikan dari orangtuanya. Namun umum juga terjadi, bahwa anak disekolahkan karena orangtuanya memiliki tuntutan harus keluar rumah untuk bekerja atau keperluan lainnya yang sangat penting bagi keluarga.Perlu diingat juga bahwa pendidikan yang terbaik dari seorang anak berawal dari sang ibu. Bunda atau ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi seorang anak.Ibu Yuningtyas Satiti (Connecticut, Amerika Serikat)seorang ibu lulusan program Magister Psikologi Universitas Gajah Mada, memberikan pendapatnya sebagai berikut:Keputusan tentang kapan orangtua akan menyekolahkan anaknya sebaiknya ditekankan pada kesiapan anak itu sendiri. Kesiapan tersebut termasuk kesiapan fisik dan mental.Kesiapan mental anak sebaiknya diutamakan dalam pengambilan keputusan ini.Seorang anak dinilai telah siap mentalnya untuk bersekolah bila anak tersebut sudah terlihat nyaman dan terbiasa dalam menghadapi orang banyak.Namun disisi lain, seorang anak yang mengalami kesulitan dalam menghadapi orang banyak, biasanya terbantu dengan memasukkannya ke sekolah, selama orangtua bersifat supportif terhadap perkembangan anaknya.Ibu Yuningtyas juga berpendapat bahwa usia 3 tahun masih termasuk dini bagi seorang anak untuk bersekolah. Terutama bila sekolah yang dimaksud adalah sekolah-sekolah dengan tuntutan akademik (matematik, bahasa inggris, dll)yang tinggi.Orangtua sebaiknya menyadari bahwa untuk usia tersebut, sekolah adalah tempat untuk bermain, beradaptasi, dan mendapatkan teman.Namun untuk ibu bekerja, sekolah merupakan pilihan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan meninggalkan anak di rumah menonton tv dengan seorang pengasuh. Bila hal tersebut terpaksa dilakukan, sebaiknya pengasuh tersebut memiliki kemampuan yang memadai untuk membimbing dan mendidik anak dikesehariannya. Demikian jawaban panjang lebar dari kami Bunda Zilah, semoga bermanfaat, amin..:-)