29 Views

Melatih Anak Gemar Belajar

Melatih Anak Gemar Belajar. [Edumor]

Bagaimana Melatih Anak Gemar Belajar?

Di Indonesia, tahun ajaran baru dimulai bulan Juli. Setelah kita bersusah-payah mencarikan sekolah yang baik dan pas untuk anak, masalah baru menghadang sebagian besar di antara kita: bagaimana agar anak memanfaatkan waktu belajar dengan baik? Apakah arti belajar sesungguhnya?

Potensi Sudah Ada
Sebenarnya, sejak bayi anak sudah suka belajar. Lihat saja bagaimana dia melatih tangan dan kaki dengan merangkak, berjalan, berlari. Kadangkala, tanpa disadari orangtualah yang menghalangi proses belajar itu. “Awas! Hati-hati, jangan lari-lari. Nanti jatuh!” Atau membiarkan anak digendong terus, demi mencegah dia tidak jatuh. Tapi akibatnya, anak tidak melatih keseimbangannya.

Di usia satu tahun anak kita mulai ingin makan sendiri. Ini sebenarnya cara belajar juga. Supaya proses ini berjalan baik, kita mesti rela ruangan makan kita kotor. Kalau kita ingin anak melatih tangannya menulis, biarkan dia mencoret-coret dinding. Kita yang kreatif melapisi tembok dengan karton putih atau membatasi gerak anak hanya di kamar belajar.

Selain melatih gerak motoriknya, anak juga mengembangkan kosa kata, daya pikir, teknik berbicara sejak usia enam bulan. Ketika anak sudah mulai mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya, ini adalah kesempatan baik untuk mengenalkan anak pada kata. Supaya tidak rancu, mulailah mengajak anak bicara dengan baik dan benar. Misalnya, katakan “makan” kalau yang dimaksud makan, bukan “ma’em”. Sebut “minum”, bukan mimik.

Anak juga belajar melalui permainan dan pergaulan. Di usia itu dia masih mementingkan diri sendiri dan tidak mau berbagi. Maka ini saatnya orangtua mengajar anak tentang kebersamaan. Sebentar lagi dia masuk sekolah. Anak kita harus mengerti soal ini sebelum dia menemui kelompok yang lebih besar.

Mulai Dari Bakat
Dewasa ini, anak-anak mulai masuk playgroup di usia 3 atau lebih muda. Mulailah dia mempraktekkan semua pelajaran yang didapatnya di rumah selama tiga tahun pertama usianya. Kalau tadinya dia hanya mencoret-coret dinding, sekarang dia menggunakan buku dan pinsil.

Orangtua bisa menemukan bakat yang menonjol dalam diri anak setelah beberapa saat masuk ke sekolah formal (playgroup). Maka, kita mulai mengikutsertakan anak dalam beberapa kelompok belajar. Misalnya menggambar, musik, matematika, olahraga, dsb. Umumnya setelah satu-dua bulan, anak mulai merasa kesulitan. Apalagi jika di saat yang bersamaan dia punya kesukaan lain. Di sini anak membutuhkan bantuan orang dewasa. Bukan dengan mengomel atau memberi hukuman, tapi mendorong.

Misalnya dengan sering-sering memuji permainan pianonya, atau mengerjakan matematika dengan peraga, menggunting, melipat, dsb. Olahraga akan menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Biarkan anak melihat orangtuanya membaca sesering mungkin; ajak dia menggambar di meja, bukan di lantai atau tempat tidur.

Waktu anak masih balita terasa sekali keinginan belajar yang kuat dalam diri anak-anak kita. Sayangnya, ketika mereka memasuki usia Sekolah Dasar, sebagian anak mengalami masalah dalam konsentrasi, enggan ke sekolah, dan sebagainya.

Belajar Adalah Pilihan
Anak disebut gemar belajar bukan karena dia masuk dalam sistem yang mengharuskan dia belajar, melainkan karena dia memang suka dan menyadari bahwa itu adalah pilihan dia untuk masa depan. Bagaimana menumbuhkan semangat belajar anak?

Pertama, menjadikan belajar sebagai hal yang menyenangkan. Dengan demikian anak-anak menunggu-nunggu waktu itu. Beberapa anak suka sekali les tertentu. Dia tidak sabar menunggu hari itu. Coba kita perhatikan mengapa anak suka pelajaran itu dan tidak suka yang lain. Setelah anak masuk sekolah, orang tua perlu mengondisikan sehingga dia punya jam belajar yang teratur.

Kedua, anak-anak kita tahu bahwa belajar bukan hanya untuk pelajaran sekolah. Kalau anak sudah besar, dalam pikirannya sudah terbentuk bahwa yang disebut belajar adalah pelajaran sekolah. Jadi, sejauh pelajaran sekolah tidak bermasalah, dia tidak perlu belajar di rumah. Ini tidak salah sebetulnya. Tetapi akan lebih baik jika anak punya kegiatan yang bisa dia pelajari saat pelajaran sekolahnya oke.

Anak yang tidak bermasalah dengan pelajaran di sekolah bisa dilatih mengembangkan kemampuan lain yang menonjol. Jika orangtua sudah mengetahui hal ini sejak dini, lebih mudah mengembangkan kecerdasan majemuk atau multiple intelligences-nya saat anak masuk sekolah formal.

Ketiga, anak tahu bahwa dia belajar untuk sebuah tujuan. Banyak anak sebenarnya pandai. Namun lingkungan kurang menantang dia untuk berusaha. Si anak sudah puas dengan nilainya dan enggan berusaha lebih. Karena itu, perlu kerja sama orangtua dan guru untuk mendorong anak menemukan tujuan be¬lajar atau cita-cita hidupnya. Diskusikan dengan dia tentang cita-cita hidupnya serta bagaimana dia bisa meraihnya.

Konsisten dan Tekun
Belajar adalah berani memulai, rajin mencoba dan tidak takut gagal. Karena itu, belajar adalah suatu proses.Keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dengan angka (score)

Peran OrangTua
Ini adalah hal terpenting dalam membangun semangat belajar anak. Pendampingan diperlukan selama anak masih bergantung pada peran serta kita. Misalnya orangtua ikut duduk di meja. Atau sekadar menanyakan bagaimana dia menyelesaikan tugas sekolah sepanjang hari itu. Buatlah belajar menjadi proses yang menyenangkan. Tidak perlu banyak marah dan tekanan.

Jika anak sudah lebih besar, penting baginya belajar dari kegagalan. Berilah anak selalu kesempatan kedua. Sesekali, nilai rendah atau teguran guru perlu untuk dia. Pengalaman bisa lebih berbicara daripada omelan atau kritikan. Selama kita memiliki anak remaja di rumah, kita perlu terus-menerus mengingat-ingat masa remaja kita sendiri. Terakhir, jangan lupa sebagian anak kita sangat suka belajar dari kita dengan proses informal: ngobrol, suasana humor, saat makan dan rekreasi bersama

Sumber: Majalah Bahana, Juli 2008