41 Views

Melejitkan Potensi Anak Melalui Minat Baca dan Belajar

Kala kita percaya bahwa
ada harta karun dalam diri anak kita
Kita harus jadi penyelam untuk menemukannya
Tak peduli kedalaman samudera yang terdalam
Tak peduli gelapnya lautan yang tergelap

(Munif Chatib)

Kesuksesan anak merupakan  dambaan setiap orangtua. Tidak ada orangtua yang berharap anaknya menjadi anak yang berprestasi rendah, bermasalah dan berkepribadian buruk.   Memiliki anak yang hebat, sukses dan berprestasi adalah keinginan yang bersifat mutlak!   Lantas, langkah apa yang harus dilakukan untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut?

John Locke menyatakan bahwa anak diibaratkan seperti kertas kosong, dimana kertas akan berwarna sesuai dengan siapa yang akan memberikan coretan di atas kertas tersebut. Pada usia ini disebut juga sebagai masa strategis dan kritis, karena anak mendapatkan stimulasi dan pembelajaran yang memungkinkan anak dikondisikan untuk memperoleh keberhasilan dalam kehidupannya. Dikatakan masa kritis karena jika terjadi salah dalam pola asuhnya dan anak tidak memperoleh stimulasi serta perlakuan yang tepat, maka perkembangan anak pada masa selanjutnya akan mengalami hambatan. Jadi, pendidikan anak usia dini merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting baik bagi orangtua ataupun anak itu sendiri.

Pada prinsipnya pemberian rangsangan kepada anak sejak dini bisa dilakukan melalui membiMBAkan anak.   Model atau prinsip dari bimbingan MINAT baca dan belajar anak tidak menyimpang dari tugas perkembangan anak yaitu  tidak mengabaikan prinsip bermain, karena bermain adalah hak anak dan belajar merupakan kebutuhan bukan kewajiban.

Sebagian besar masyarakat tidak atau kurang menyukai belajar. Salah satu penyebabnya adalah karena pola pikir tentang belajar selalu berorientasi pada hasil bukan proses. Belajar menjadi kegiatan yang tidak menyenangkan apalagi bila anak banyak menghadapi kegagalan dalam memperoleh hasil. Untuk mengatasi itu, seperti halnya pada permainan yang berorientasi pada proses, jika kita bisa menerapkan hukum sebab akibat (the law of effect) dari Thorndike yaitu segala sesuatu kegiatan yang menyenangkan akan diulang oleh anak, maka suatu saat mitos “belajar adalah beban “ akan berkurang secara bertahap, Kegiatan yang diulang terus menerus akan menghasilkan kemampuan (hukum latihan/the law of exercise), jika anak mampu maka semakin menyenangkan dan menjadi siap (the law of readiness).

Demikian juga dengan kegiatan membaca.  Kegiatan ini membuat anak mempunyai wawasan yang luas, pola pikir yang bagus dan imajinasinya berkembang.  Orangtua tidak boleh memaksa anak untuk membaca karena hal ini justru bisa membuat anak menjadi benci belajar atau membaca. Lalu bagaimana caranya?

Tumbuhkan rasa ingin tahunya! Kita harus menciptakan suatu kondisi dimana anak senantiasa dihadapkan dengan hal-hal yang membuatnya penasaran serta membiasakan mereka dengan kata tanya.  Konsekuensinya adalah kita harus memberikan jawaban yang logis, jika anak  sudah suka bertanya.

Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca maka anak akan mampu mengenal dunia. Fasilitasi anak dengan buku-buku yang menarik dan disukainya. Jika anak sudah mulai tumbuh minat bacanya, maka lihatlah keajaiban – keajaiban dalam perkembangannya.(Wulan)