37 Views

Membaca dalam Kehidupan Anak

m
Sumber : www.google.co.id

Bagaimana arti Membaca dalam Kehidupan Anak?

Seorang anak berusia 5 tahun merasa sangat bahagia atas kelahiran adik bayinya. Sambil menemani ibunya yang sedang memakaikan baju si adik, anak ini memainkan guling punya adiknya. Ia memutar-mutarkan guling kecil yang empuk dan lentur sambil bernyanyi riang. Tiba-tiba ia bertanya kepada ibunya sambil menunjukkan gulingnya,

“Ibu, bentuk apakah ini?”

“Oooh.. itu bentuk lingkaran.” jawab ibunya

“Ini huruf O, seperti nama aku, Olivia.” tambah si anak

Ibunya kaget mendengar celetukan gadis mungilnya itu. Lalu anak tersebut memutar-mutar gulingnya kembali sambil berceletuk,

“Kalau ini huruf u, ini huruf c, ini huruf n.”

“Waaah, anak ibu hebat ya. Kamu kreatif! Bisa membentuk huruf abjad pakai guling.” ujar sang ibu.

Si anak sangat senang mendapat pujian dari ibunya.

“Aku sekarang jadi tahu, kalau huruf u, c dan n itu hampir mirip lho. Huruf u keatas, huruf c kesamping, kalau huruf n kebawa, lihat nih! Kalau nama adik, bentuk gulingnya seperti ini.” ujar si anak sambil meluruskan gulingnya membentuk huruf i, sesuai nama adiknya yaitu Intan. Melihat kehebatan anaknya, ibu segera memeluknya dan anak itu tertawa riang karena berhasil mengubah guling dengan berbagai bentuk huruf abjad.

Cerita diatas merupakan salah satu contoh aktivitas bermainnya anak sambil belajar membaca. Ternyata hanya dari sebuah guling saja, ia mampu berkreasi membentuk berbagai huruf abjad. Suasana hati yang riang membuat ia senang untuk melakukannya. Ditambah lagi dengan perhatian dan pujian sang ibu yang membuat ia semakin semangat membentuk huruf abjad lainnya. Di tengah kesibukan ibunya mengurus adik bayi, namun sang kakak tetap dapat perhatian yang sama, sehingga tidak menimbulkan rasa iri karena kakak merasa tersaingi dengan kehadiran adik barunya.

m2
Sumber : www.google.co.id

Belajar membaca dapat dilakukan dengan mudah bila suasana hati anak senang. Anak tidak merasa terpaksa dan terbebani bila situasi dan kondisinya sesuai dengan apa yang mereka sukai. Dalam pengenalan abjad saja, kita bisa menggunakan benda-benda yang akrab digunakan anak dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat merasakan dan melihat langsung objek terdekat yang ada di sekitarnya berkaitan dengan pembelajaran membaca. Hal ini terlihat seperti contoh cerita diatas, si anak begitu antusias belajar huruf dengan menyebutkan nama orang terdekatnya : nama dirinya sendiri dan nama adik yang disayanginya. Jadi antara yang mereka pelajari dan mereka ucapkan, benar-benar real dapat dilihat dan dirasakan langsung. Hal ini seperti diungkapkan oleh Sylvia Ashton Warner, seorang guru yang telah 24 tahun mengajar di Maori, New Zealand, bahwa, “Kata pertama harus bermakna bagi anak. Kata itu harus merupakan bagian dari dirinya. Harus merupakan ikatan yang organik, secara organik lahir dari dinamika hidup itu sendiri. Harus kata yang sudah menjadi bagian dari dirinya”.

Namun sayangnya, yang kerap terjadi di masyarakat, masih banyak anak yang diajarkan membaca dari hal-hal yang tidak familiar (asing) bagi anak. Orang tua dan guru men-drill anak melalui huruf-huruf yang membosankan, bukan dengan menciptakan suasana yang dapat merangsang kreatifitas anak. Orang tua sudah keburu panik bila anaknya yang berusia TK belum mampu membaca. Apalagi kebijakan masuk SD harus melalui tes baca dan tulis, tentu hal ini semakin membuat orang tua menjadi nervous dan stress. Kepanikan orang tua justru mengorbankan anak mereka sendiri. Anak ditekan dan dipaksa belajar baca agar target ketika memasuki SD sudah mampu membaca.

m3
Sumber : http://www.kajianpustaka.com/2012/10/minat-belajar.html

Pada hakikatnya setiap anak lahir sebagai pembelajar, jadi tidak ada anak yang malas dan bodoh. Namun yang harus menjadi instropeksi orang tua dan guru, apakah metode yang digunakan sudah tepat bagi anak ? Ataukah justru akan membuat anak menjadi bosan, takut bahkan trauma ketika mereka harus belajar ?

Menurut Dolores Durkin, seorang peneliti sekaligus penulis dari Zanesville, Ohio, United States, bahwa kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak, namun sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata muncul dari keluarga yang memiliki perhatian dan usaha ekstra dalam membantu mereka belajar membaca. Anak-anak ini ternyata memiliki orang tua yang mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama anaknya, walaupun latar belakang sosial-ekonomi mereka berbeda-beda. Sehingga anak-anak yang mulai belajar membaca sejak usia 3-4 tahun ternyata selalu mengungguli anak-anak lainnya yang mulai belajar membaca sejak usia 5-6 tahun. Mereka bahkan bisa terus unggul hingga rentang masa 8 tahun.

Dengan demikian belajar membaca akan menjadi hal yang mudah jika dirasakan oleh anak bahwa itu bermakna bagi kehidupannya dan aktivitas proses belajar itu sendiri harus dilakukan dengan menyenangkan. Sehingga membaca menjadi proses alamiah sejalan dengan perjalanan kehidupan sang anak.(Bunda Ranis)

Referensi :

Widayanti, Ida.S. Catatan Parenting 3 : Mendidik Karakter dengan Karakter. Jakarta : Arga Tilanta. 2012.

http://www.readingonline.org/articles/handbook/pressley/

http://www.amazon.com/Dolores-Durkin/e/B001H9Q9ZI