361 Views

Membangun Kebiasaan Belajar Efektif Pada Anak

Setiap pendidik, baik itu orang tua atau guru memiliki tujuan akhir dari pembelajaran.   Hasil yang diharapkan tentunya dapat sesuai dengan target dari pembelajaran itu sendiri.     Agar tujuan dapat tercapai,  para pendidik akan mencari cara yang efektif agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.      Cara yang menyenangkan dan tidak membosankan dapat meningkatkan proses pembelajaran dan memperkuat memori anak.  Sebaiknya Ayah bunda bukan menyuruh mereka belajar, tetapi mengajarkan bagaimana cara belajar yang efektif.

Cara belajar efektif merupakan cara belajar yang sesuai dengan kondisi personal anak, baik dari segi metode, penggunaan tempat, ataupun penggunaan waktu.   Tujuannya adalah bagaimana seorang anak dapat memahami informasi tertulis dengan lebih baik, memiliki kemampuan mengingat informasi lebih lama, mengurangi rasa frustasi atau kebingungan di saat belajar, mendapatkan hasil ujian dan jawaban soal-soal yang lebih baik dan kemungkinan mampu menjelaskan ide-idenya kepada orang lain.

Dibawah ini adalah beberapa cara belajar efektif yang sebaiknya dijadikan kebiasaan bagi anak,  yaitu :

Kebiasaan belajar

Biasakan agar anak ayah bunda disiplin dalam belajar, maksudnya adalah dalam belajar sebaiknya rutin dilakukan tiap hari.  Walaupun hanya 1-2 jam per hari namun konsisten dan tekun dalam pelaksanaannya.   Ketika anak sudah terbiasa belajar pada waktu yang sama setiap hari dan setiap minggu, maka hal itu akan menjadi bagian rutin dalam kehidupannya.    Anak akan merasa lebih siap secara mental dan emosional ketika waktu belajar tiba dan merasa lebih ringan ketika akan menghadapi ulangan serta ujian.

Sebaliknya, jangan biasakan belajar ketika besok baru ada ulangan atau ujian.   Anak dipaksa belajar dengan setumpukan buku paket, catatan dan LKS secara dadakan dengan sistem kebut semalam, hingga berjam-jam bahkan sampai bergadang.   Cara ini akan kurang efektif dan sulit untuk mencapai hasil yang maksimal.    Otak terlalu banyak dibebani banyak hal dalam satu waktu, padahal cara kerja otak akan lebih mudah menyimpan dan memanggil memori kembali bila dilakukan bertahap, kontinue dan berulang-ulang.    Kualitas belajar anak akan mempengaruhi prestasi belajarnya.

Kebiasaan mengulang

Materi pelajaran dapat lebih cepat dipahami bila dilakukan pengulangan secara terus menerus.    Sebaiknya ketika anak pulang sekolah, materi pelajaran yang telah dibahas pada hari itu diulang atau direview kembali. Kemudian persiapan untuk materi esok harinya dipelajari terlebih dahulu.  Jadi ketika guru membahas materi tersebut, anak akan lebih mudah paham. Catatan yang sudah dibuat di rumah dapat ditambah lagi dari penjelasan tambahan guru di sekolah.

Penelitian yang ditulis dalam buku Quantum Learning menunjukkan bahwa anak akan mengingat suatu informasi lebih lama jika setiap kali mereka mengulanginya.    Ketika mengulangi sebaiknya menggunakan suara keras.     Hal ini akan menambah asosiasi indera tehadap hal tersebut sehingga anak akan lebih mudah untuk mengingatnya.

Kebiasaan latihan soal

Setiap selesai pembahasan satu materi sebaiknya anak diberikan latihan soal.    Selain latihan soal yang terdapat di buku pelajaran anak, ayah bunda juga dapat mengembangkan dan membuat latihan soal sendiri.    Tujuannya agar ayah bunda mengetahui tingkat pemahaman si anak tentang materi bersangkutan.     Semakin banyak latihan soal yang mereka kerjakan akan semakin meningkatkan pemahaman mereka.    Jadi walaupun pertanyaannya akan dibolak balik anak tidak merasa bingung karena konsepnya sudah mereka pahami.

Kebiasaan bertanya

Biasakan agar anak tidak malu untuk bertanya tentang sesuatu hal yang belum mereka pahami.   Dengan bertanya anak akan memahami masalah, tugas dan petunjuk secara lebih lengkap, anak akan membuat lebih sedikit kesalahan dan kualitas belajarnya akan meningkat.    Namun terkadang anak enggan untuk bertanya karena mereka merasa malu, takut salah dan takut kelihatan tidak pintar.     Oleh karena itu, ayah bunda harus terus memotivasi bahwa kebiasaan bertanya untuk hal yang mereka tidak pahami bukan sesuatu hal yang memalukan.     Anak tidak perlu takut dimarahi oleh para pendidik mereka, baik itu guru maupun orang tua mereka sendiri.

Kebiasaan membuat catatan sendiri

Dalam belajar, bimbing anak agar dapat membuat catatan sendiri.    Bagian penting dari tiap bab dirangkum dengan baik dan rapi.     Sebelum anak merangkum , mereka akan membaca buku bacaannya terlebih dahulu kemudian menuliskan kembali apa yang sudah dibacanya.    Sesudah catatan tersebut dibuat, ajak anak untuk membaca kembali catatan yang telah mereka buat.     Proses ini membantu cara kerja otak agar lebih mudah mengingat.

Kebiasaan belajar kelompok

Situasi belajar yang menyenangkan dapat mempengaruhi keefektifan dalam belajar.     Biasanya anak akan lebih semangat bila melakukan suatu hal dengan teman-temannya.    Dalam satu kelompok belajar sebaiknya terdapat anak yang pandai dan rajin, tujuannya agar anak dapat bertukar pikiran tentang suatu pelajaran yang masih belum dipahami.     Mereka akan terbantu dengan teman lainnya.     Terkadang ada anak yang justru baru dapat memahami suatu materi pelajaran justru melalui penjelasan temannya dibandingkan dengan orang tua atau gurunya.    Manfaat bagi teman yang menjelaskan, mereka justru akan semakin paham dengan materi yang sedang dibahas.

Dengan kerja kelompok anak-anak akan menambah pengetahuan baru.     Ketika mereka melihat teman-temannya paham dan mampu mengerjakan soal-soal, anak akan termotivasi untuk meniru dan melakukan hal yang lebih baik lagi.      Kebiasaan anak untuk kerja kelompok juga dapat mengajarkan mereka agar berani mengeluarkan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.

Kebiasaan membuat peta pikiran (mind mapping)

Sejak dini anak dapat diperkenalkan dengan membuat peta pikiran atau mind mapping.

Apakah itu peta pikiran?

Seperti yang dituliskan pada buku Quantum Learning bahwa peta pikiran adalah teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan.    Peta pikiran menggunakan pengingat visual dalam suatu pola dari ide-ide berkaitan sehingga dapat memicu ingatan dengan mudah.

Pengingat visualnya dapat berupa bentuk, gambar, warna atau tulisan.    Jadi ide-ide utama dapat tertuang pada satu kertas, dan dari ide utama itu masing-masing dapat dikembangkan ide-ide baru lainnya yang masih berkaitan.   Bentuk akhir dari suatu peta pikiran seperti pohon bercabang.  Peta

Pada peta pemikiran, anak dirangsang untuk menuliskan sendiri, menggambarnya sendiri dan menuangkan ide-ide pikirannya sendiri mengikuti pola pemikiran otak mereka.    Sehingga mereka  akan lebih mudah memusatkan perhatiannya, meningkatkan pemahaman, memudahkan untuk mengingat lebih baik terhadap suatu materi pelajaran serta menyenangkan.

Kebiasaan berpikir logis

Jangan menyuruh anak untuk belajar apalagi sampai memaksanya.     Penolakan dan keterpaksaan mereka menyebabkan belajar menjadi tidak efektif.    Sebaiknya ayah bunda mengajarkan bagaimana dampak dari sebab akibat, maksudnya anak diberi penjelasan dan ajak mereka untuk berpikir logis kenapa mereka harus belajar, kenapa mereka harus sekolah dan apa manfaat dari pelajaran yang sedang mereka pelari. Misalnya anak sedang belajar matematika mengenai penambahan.    Ajak mereka untuk berpikir kenapa mereka harus belajar penambahan, apa tujuan dan manfaatnya. Jadi anak tidak hanya sekedar belajar, menghapal dan latihan soal.     Tetapi makna dari apa yang sedang mereka kerjakan itu dapat mereka pahami.

Kebiasaan menghapal dengan asosiasi kata

Metode asosiasi kata, yakni teknik menghubungkan suatu hal dengan hal lainnya yang  dapat diingat anak dengan baik.     Misalnya ketika anak harus menghapal arah mata angin.     Bimbing anak untuk menghubungkan asosiasi arah mata angin dengan nama binatang.   Seperti utara = ular , timur = tikus.      Anak akan lebih mudah mengingatnya dengan mengasosiasikan ular makannya tikus.     Biarkan anak menggambar arah mata anginnya sendiri beserta gambar binatangnya.

Atau dapat juga materi yang dihapal dirubah dulu dengan mencari kata kunci berupa singkatan.      Misalnya menghapal warna pelangi dengan mejikuhibiniu, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan  ungu.    Kebiasaan menghapal dengan cara ini juga akan membantu anak untuk ingat materi bersangkutan dalam jangka waktu lama.

Kebiasaan gaya belajar

Bila diamati, di dalam suatu kelas setiap anak memiliki gaya belajarnya masing-masing.     Ada yang mendengarkan dengan serius ketika guru sedang menerangkan, ada yang mengambar sambil mencatat apa yang sedang diterangkan dan ada yang tidak bisa diam dengan melakukan berbagai hal karena tidak betah untuk duduk berlama-lama.      Suasana ini merupakan gaya masing-masing anak dalam menyerap informasi.   Didalam buku “Ampuh Menjadi Cerdas Tanpa Batas” diungkapkan bahwa gaya pembelajar ada tiga macam yaitu auditori, visual dan kinestetik. Apapun gaya belajar anak, bila ayah bunda memahaminya maka ayah bunda akan bijaksana untuk menyikapinya. Karena dengan mengetahui gaya belajar yang mereka sukai, proses pembelajaran akan lebih efektif.

Kebiasaan memberikan penghargaan

Dunia anak adalah bermain.    Setiap hari mereka selalu rela menyempatkan waktunya untuk bermain.   Nah, ayah bunda dapat memanfaatkan ini dengan mengijinkan mereka bermain asalkan mereka telah melakukan prasyarat yang telah ayah bunda tentukan.    Misalnya, anak ingin bermain sepeda dengan teman-temannya.    Ayah bunda baru dapat memenuhinya bila mereka telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya terlebih dahulu, telah menyusun buku pelajaran untuk esok harinya dan mempelajari materi yang akan disampaikan besok di sekolah.    Bentuk perijinan ayah bunda agar mereka bisa main sepeda merupakan salah satu bentuk penghargaan bagi anak.

Kebiasaan menciptakan suasana belajar kondusif

Faktor lingkungan sangat berpengaruh dengan keberhasilan belajar.    Ciptakan lingkungan yang optimal baik secara fisik maupun mental.  Mulai dari pencahayaan, suasana yang nyaman dan tenang, aman dari gangguan serta posisi duduk yang enak.    Ketika anak terganggu saat belajar maka akan membuyarkan konsentrasinya sehingga belajar menjadi tidak efektif.    Tetapi ketika anak belajar dalam situasi yang menyenangkan dan tempat yang nyaman maka akan lebih mudah untuk diterima oleh otak.(Bunda Ranis)

Referensi :

Sarbana, Baban dan Dina Diana. Ampuh menjadi cerdas tanpa batas. Jakarta : PT. Elex media komputindo, 2002.

De Porter, Bobbi dan Mike Hernacki. Quantum Learning – Membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan. Bandung : Kaifa, PT. Mizan Pustaka, 2004.

http://forum.detik.com/tips-belajar-efektif-untuk-anak-terbaru-2012-t443398.html

http://belajarpsikologi.com/cara-belajar-yang-baik/

http://www.anneahira.com/cara-belajar-efektif.htm

http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/25/mengajarkan-cara-anak-belajar-bukan-menyuruh-anak-belajar-406416.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Active_learning

http://belajarpsikologi.com/pengertian-dan-tujuan-pembelajaran/

http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/13/11110985/10.Trik.agar.Belajar.Anda.Efektif

http://parkirgratis.net/cara-belajar-yang-efektif-dan-efisien#