18 Views

Memotivasi Anak

anak

Bagaimana memotivasi anak?

Kisah seorang teman telah menginsipirasi saya untuk menuliskan sebuah cerita motivasi. Walaupun berasal dari keluarga ekonomi sulit namun berkat kegigihannya, ia berhasil mencapai sekolah tinggi tanpa mengeluarkan biaya sendiri. Sosoknya seringkali saya jadikan contoh bagi anak-anak saya.

Sebutlah ia, si Tono. Ia berasal dari pelosok pedesaan daerah Jawa Timur. Ayahnya pedagang sayur kaki lima yang digelar di pasar hanya dengan sebuah tikar kecil. Ia harus keliling berjualan kue untuk menambah penghasilan orangtuanya. Terkadang terbersit kesedihan tatkala melihat teman-temannya tertawa riang sambil bermain dan bercanda ria, namun ia harus berpanas-panasan bahkan kehujanan untuk keliling menjajakan dagangannya. Demi menghibur hati sendiri, ia rela memutar jalan yang lebih jauh daripada harus berpapasan dengan teman-temannya yang sedang asyik bermain.

Meski dibesarkan dalam keluarga ekonomi sulit, namun ia dianugerahi kecerdasan diatas rata-rata. Ayah ibunya sangat bangga dengannya. Para pelanggan di pasar sering diceritakan mengenai kehebatan anaknya.

Suatu hari terjadi percakapan antara orangtuanya Tono dengan salah seorang tetangganya. Percakapan ini tidak sengaja terdengar oleh Tono. Selama ini Tono tidak pernah tahu kalau ternyata ia sering dibangga-banggakan oleh kedua orangtuanya di depan orang lain. “Pakle, beruntung sekali punya anak pintar seperti Tono..”, “Alhamdulillah, ia memang sangat tekun dan pantang menyerah!” Hati Tono pun tersentak mendengar ayahnya membanggakan kehebatan dirinya di depan orang lain. Ia bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, benarkah aku seorang anak yang tekun dan pantang menyerah? Lambat laun akhirnya ia pun mulai meyakini dirinya sendiri bahwa ia adalah anak yang tekun dan pantang menyerah.

Dengan bekal keyakinan itu, ia berjuang untuk dirinya sendiri dan menerobos pedesaan untuk menapaki sekolah lanjutan. Ia menyadari bahwa ekonomi orangtuanya, sulit membawa ia hingga ke bangku kuliah. Namun di saat keyakinannya mulai mengendur, ia mencoba menyemangati dirinya kembali dengan mengingat perkataan orang tuanya bahwa ia adalah anak yang tekun dan pantang menyerah!

Ia berjuang mencari beasiswa sarjana di beberapa Universitas. Dengan segala kemampuannya, akhirnya ia dapat menembus salah satu sekolah tinggi negeri. Disana ia mampu menunjukkan prestasi yang luar biasa dan masuk dalam jajaran 20 besar mahasiswa dengan nilai terbaik di angkatannya.

Di kala kuliah, ia masih harus melanjutkan perjuangan hidup dengan menjadi guru les privat bagi anak SD, SMP dan SMA. Ia menjadi tukang foto copy bagi teman-teman di kelasnya. Beberapa teman yang iba padanya, seringkali memberikan ia sisa kembalian uang foto copy. Ia juga bekerja di warnet. Sambil menjaga warnet, sekaligus ia bisa menggunakan komputer untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan internet secara gratis. Kerjaan lainnya seperti menjadi tukang kebun pun ia lakukan.

Tak jarang kesedihan terbersit kembali di benaknya. “Sejak kecil hingga sekarang, di saat teman-temanku bisa belajar tanpa beban, aku harus berjuang memeras pikiran dan tenaga sekaligus.” Namun, ketika puncak kesedihan sedang menyelimutinya, seketika itu juga kata-kata ayahnya bahwa ia adalah anak yang tekun dan pantang menyerah terngiang kembali di telinganya. Maka semangatnya pun berkobar kembali. Ia bertekad harus mampu melawan kesedihan itu demi mencapai cita-citanya.

Istilah “Sengsara membawa nikmat” layaknya kisah si Tono. Setelah Lulus sarjana, ia diterima kerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu departemen pemerintahan. Beberapa tahun kemudian, ia kembali mendapatkan beasiswa pasca sarjana ke salah satu universitas terbaik di negeri Kangguru dan segera akan melanjutkan kembali untuk mencapai gelar Phd pada studi S3 nya. Kemudian ketika kembali ke Indonesia, jabatan tinggi di kantor pun telah menantinya.

Bukan hanya orangtuanya saja yang bangga memiliki anak dari pelosok desa, yang tekun dan pantang menyerah seperti Tono. Namun, Indonesia pun bangga mengirim salah satu duta bangsanya yang akan mengharumkan nama baik Indonesia di dunia pendidikan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa selalu ada dorongan dan inspirasi bagi seseorang untuk berhasil. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tugas kita saat ini adalah memotivasi anak-anak dan menginspirasi mereka sehingga dapat mengantar mereka untuk meraih pintu kesuksesan. (Bunda Ranis)