71 Views

Memupuk Minat Baca

Bagaimanakah memupuk minat baca?

Pernahkah kita menghitung berapa banyak buku yang sudah pernah dibaca sejak kita kecil.    Hampir dipastikan tidak ada yang pernah menghitungnya karena aktivitas itu mengalir begitu saja.   Berapakah yang dapat kita ingat dengan baik?    Mungkin tidak banyak.   Percayalah!  Apa yang sudah kita baca, disadari atau tidak,  akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku kita, karena dengan membaca akan menambah wawasan dan pengetahuan baru bagi kita.    Membaca juga dapat menjadi santapan jiwa yang akan membantu untuk membukakan mata, hati dan pikiran kita terhadap sesuatu hal.

Menumbuhkan minat baca memang bukan hal yang mudah, oleh karena itu kita sebagai orang tua dan guru bertanggung jawab untuk membantu anak didik kita, para generasi penerus bangsa untuk memotivasi mereka dalam menumbuhkan minat membaca.

Minat baca sebaiknya harus distimulasi sejak anak masih usia dini.   Karena apa?   Usia seorang anak sejak 0-5 tahun itulah saat usia keemasan mereka.    Pada masa ini, bila anak dididik secara benar maka semua potensi dan kecerdasan yang terdapat pada diri si anak akan terstimulasi dan itu sangat mempengaruhi bagi masa depan mereka kelak.   Sekitar 80 persen otak kanan berkembang pada periode ini, sehingga pada masa emas ini sangat menentukan dalam pembentukan karakter, kepribadian dan pengembangan intelegensi permanen anak.   Di usia emas inilah anak mampu menyerap berbagai informasi dengan cepat.

Untuk itulah peran orang tua pada masa emas tersebut sangat dominan.    Orang tua hendaknya dapat menjadi sahabat sekaligus guru bagi anak agar di usia emas ini potensi anak dapat dioptimalkan.   Sayang sekali bila kita harus kehilangan moment di saat perkembangan periode kritis ini.  Orang tua yang memiliki interest lebih mengenai kebutuhan anak pada periode ini akan berpengaruh positif pada pertumbuhan mereka.

Hal terpenting yang harus kita tanamkan pada anak untuk menumbuhkan minat baca adalah memberikan contoh atau kebiasaan membaca yang rutin dilakukan setiap hari.    Walaupun hanya 10 menit, tetapi konsisten dilaksanakan dengan suasana yang menyenangkan.    Sayangnya, situasi yang terjadi sekarang adalah para pendidik, baik itu orang tua dan guru jarang memberikan contoh dan menjadikan membaca menjadi suatu kebiasaan/habbit.    Kondisi yang ada justru orang tua hanya menyuruh anak membaca tanpa mereka memberikan contoh terlebih dahulu.   Padahal hakikatnya anak juga sebagai peniru ulung, yang men-copy paste sebagian besar kata-kata, sikap dan perilaku kita.    Namun di satu sisi kondisi ini tidak dapat disalahkan juga, karena  mungkin dahulunya para pendidik kita sejak kita kecil, belum membiasakan membaca sebagai aktivitas rutin. Sehingga kita pun tidak terbiasa untuk mencintai buku.

Bagaimana bila situasi ini sudah terlanjur demikian?   Apakah terus akan menjadi lingkaran hitam bahwa kita terus malas untuk membaca, walaupun kita tahu bahwa membaca itu banyak manfaatnya ?    Atau kita mau menggebrak lingkaran “malas” itu dengan menjadikan membaca sebagai suatu hal yang kita cintai ?

Jurus Jitu agar Gemar Membaca

Sumber : http://www.dreamstime.com/stock-image-hot-slice-pizza-clipart-image2759981

Cara pertama yang dapat membantu kita untuk menggebrak lingkaran malas dalam membaca buku adalah dengan merubah persepsi atau cara pandang negatif terhadap buku.    Hernowo,  dalam bukunya  “Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza” menyatakan bahwa bila selama ini kita menganggap buku itu sesuatu yang angker yang berisi teori-teori rumit, sekarang anggaplah buku itu merupakan teman baik, yang selalu menemani kita disaat kita suka dan duka.    Bayangkan seluruh buku, yang ada di sekeliling kita, bagaikan “makanan” yang paling kita sukai.   Apa yang akan terjadi?    Buku-buku itu jadi punya “rasa” dan “aroma” yang bisa membangkitkan selera makan kita.  Kita akan melahap buku-buku itu dengan kenikmatan yang tiada tara.     Tentu kita akan “memakan” buku-buku itu setiap hari, sebagaimana kita sarapan, makan siang, kemudian makan malam, diselingi oleh ngemil pada sore hari atau saat lain.

Cara kedua dengan menumbuhkan jiwa petualangan, maksudnya disini adalah petulangan mencari ilmu dan rasa ingin tahu terhadap sesuatu.   Kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mendorong kita untuk mencari tahu jawabannya.    Jika anak meng-copy paste sikap dan perilaku orang tuanya, maka saatnya orang tua meng-copy paste “sikap ingin tahu” seperti saat anak-anak masih usia balita.    Dimana mereka selalu bertanya berbagai hal karena rasa ingin tahunya tersebut.    Bila ada hal yang mereka rasa belum puas, mereka masih akan terus bertanya hingga mendapat jawaban yang bisa bikin mereka puas.    Dalam konteks ini mari kita jangan segan untuk meng-copy paste “rasa ingin tahu yang besar” layaknya anak balita demi menjawab keingintahuan tersebut melalui santapan buku yang lezat dan bergizi tinggi.

Bila cara tersebut dapat dipraktekkan, nantikan hasilnya ketika cinta terhadap membaca buku mulai bersemi, enggan rasanya bila sehari tidak berjumpa dengan buku.    Hal ini kemudian akan ditiru oleh anak-anak kita dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.

Dengan demikian menumbuhkan minat baca memang diperlukan upaya-upaya tertentu dengan penuh kesabaran, konsisten dan telaten.    Ibarat kita memelihara tanaman, maka harus disiram, dirawat, diberi pupuk agar tumbuh subur dan menghasilkan buah atau bunga sesuai yang kita harapkan. Begitu pun dengan menumbuhkan minat baca harus dipupuk sejak dini, secara perlahan tetapi konsisten agar hasilnya dapat terwujud sesuai dengan yang kita harapkan.   Mulailah dari diri kita sebagai pendidik untuk memberikan contoh membaca sebagai kebiasaan,  layaknya “makanan” yang kita santap setiap hari, agar anak dapat meniru menyantap bacaan sebagai kebutuhan jiwa mereka.    Bila ini dapat terwujud akan menjadi bekal bagi anak ketika mereka dewasa kelak.    Alangkah indahnya bila kita dapat membentuk anak menjadi bibit unggul dengan buah yang manis dan bergizi tinggi sehingga akan menebarkan kebaikan karena bermanfaat untuk banyak orang.(Bunda Ranis)

Referensi :

Pramita, Ecka W. Dahsyatnya Otak Anak Usia Emas. Yogyakarta : Intrebook. 2010

http://kaifa.mizan.com/index.php?fuseaction=buku_full&id=2712

http://www.tintaguru.com/2013/04/menumbuhkan-minat-dan-sikap-membaca.html