39 Views

Mendidik Anak Agar Disiplin

disiplin
Memiliki anak yang disiplin dan mandiri adalah keinginan setiap orangtua, masalah kedisiplinan tidak hanya melakukan koreksi terhadap tingkah laku anak tetapi juga mengajarkan anak agar bisa mengontrol dirinya sendiri. Terkadang kita selalu memaksa anak untuk disiplin seperti harus belajar sepulang sekolah, tidur siang tepat waktu, tidak boleh bermain di luar rumah terlalu lama dan lain sebagainya.

Setiap anak selalu butuh alasan, misalnya ketika anak bermain pisau, kita jelaskan kepada anak dengan bahasa yang dapat dimengerti anak, “Pisaunya disimpan ya, Nak. Nanti bisa melukai tanganmu.” Ini membuat anak mengerti mengapa ia tidak boleh bermain dengan benda tajam.

Ayah bunda, mendidik anak agar disiplin tidaklah mudah. Ketika kita melarang anak untuk tidak melakukan sesuatu kita harus bisa memberikan alasan-alasan yang masuk akal, mengapa kita harus melakukan sesuatu atau mengapa tidak boleh? Anak-anak belum bisa membedakan antara permasalahan kecil atau besar, kita harus mengerti dan berkompromi dalam menghadapi permasalahan.

Ketika anak tidak mau mengikuti aturan yang telah disepakati, kita harus memberi anak peringatan dengan hitungan jari untuk mengubah sikapnya, apabila anak tetap tidak mau menurutinya maka kita bisa berikan hukuman yang sesuai dengan usianya. Hal ini membuat anak segan dan tidak mau mengulangi kesalahannya. Yuk kita didik anak agar disiplin sejak usia dini.

Ayah bunda, satu hal yang perlu diingat dalam mendidik anak agar mereka menjadi disiplin tidak boleh dengan membentak, berteriak apalagi memukul. Tindakan semacam ini akan membuat anak kehilangan rasa percaya dirinya. Lakukanlah dengan cara yang baik, kita bisa menunduk saat berbicara dengan si kecil, jangan khawatir kehilangan respek dari anak justru anak akan menghormati dan menghargai kita sebagai orangtua.

Ketika anak tidak disiplin kita jangan hanya mengkritik sikapnya, kita juga harus memuji anak saat anak melakukan sesuatu yang positif. Misalnya ketika buah hati kita membereskan kembali mainan sehabis bermain, ucapkanlah. “Hebat anak Bunda, sehabis main dirapikan lagi, begitu dong!”

Kita juga harus belajar menghindari hal yang memicu anak menjadi tidak nyaman, pada dasarnya anak anak merasa jengkel disaat dia sedang kelelahan, saat lapar, saat sakit, dan saat kita terlalu menuntut anak berbuat lebih, kita harus dapat meminimalisasi kondisi tersebut dan kontrol emosi kita sebaik mungkin.

Selain itu kita juga jangan terlalu lemah di hadapan anak, jangan membiasakan memberikan uang atau hadiah kepada anak untuk mengerjakan sesuatu, kebiasaan ini membuat anak menjadi tidak mau mengerjakan suatu hal jika belum diberi uang atau hadiah. Hal yang paling penting kita harus mengerti kondisi anak-anak terlebih dahulu, hubungan komunikasi yang baik sangat diperlukan. (Ern)