42 Views

Mengapa Anak Belajar?

a14
Sumber : http://www.pendidikankarakter.com/cara-jitu-menumbuhkan-semangat-belajar-pada-anak/

Alasan mengapa anak belajar?
Anak belajar karena kebutuhan otak dan tuntutan perkembangan fisiknya. Otak selalu bekerja untuk menerima informasi dari manapun. Baik itu informasi yang perlu diolah lagi dengan cara berpikir kemudian menjadi pengetahuan baru bagi si anak atau informasi yang berdiri sendiri. Kebutuhan otak akan terpenuhi bila informasi yang diterima dapat diingat dalam jangka waktu panjang.

Kebutuhan otak tersebut merupakan tuntutan alami dan tidak bisa kita hentikan. Ini sama halnya dengan denyut jantung manusia yang tidak dapat kita hentikan kecuali atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Pertumbuhan dan perkembangan fisik anak juga menuntut anak untuk selalu belajar dan belajar. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk berkembang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhannya. Karena perkembangan inilah dia akan melakukan pembelajaran di setiap fase yang dilaluinya. Misalnya bagaimana proses belajar anak ketika tengkurap, merangkak, berjalan, berlari, berbicara dan tahapan perkembangan lainnya sesuai dengan pertumbuhan fisiknya. Itu semua dengan sendirinya dan secara alamiah akan dipelajari oleh anak sesuai dengan kebutuhannya.

Manusia telah diciptakan oleh Tuhan dengan diberi akal dan nafsu, yang mendorong seseorang untuk maju. Dia akan berusaha untuk mengembangkan diri dan beradaptasi seiring dengan perkembangan pada diri dan lingkungannya. Dia akan menangkap hal-hal yang menarik bagi dirinya sehingga menimbulkan keinginan untuk mempelajarinya dan mencari tahu lebih dalam demi memenuhi kebutuhannya tersebut.

Berdasarkan alasan-alasan diatas itulah, sebaiknya para pendidik memahami bahwa pada hakikatnya setiap anak adalah makhluk pembelajar. Dengan demikian semestinya tidak ada anak yang enggan untuk belajar. Tetapi yang perlu dikoreksi adalah bagaimana proses belajar dan strategi pengajarannya. Apakah sudah sesuai dengan kondisi anak ?

Bagaimana Anak Belajar?

Anak dikatakan berhasil dalam belajar jika prosesnya tepat, karena melalui proses yang tepat itulah akan timbul perasaan nyaman dalam belajar sehingga hasil belajar dapat optimal. Proses yang tepat maksudnya bahwa materi yang disampaikan menarik dan cara penyampaian materi tersebut dilakukan dengan cara yang menarik sesuai dengan gaya belajar anak.

a2
Sumber : www.google.co.id

Menurut konsultan pendidikan, Munif Chatib, dalam bukunya “Orangtuanya Manusia : Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak”, bahwa yang dimaksud dengan materi yang menarik adalah materi yang menimbulkan minat anak untuk ingin mengetahui hal baru atau lebih dalam. Jika materi tidak menarik, biasanya anak malas belajar. Sedangkan cara materi itu disampaikan adalah strateginya atau dikenal dengan strategi mengajar. Strategi mengajar ini terletak pada kemampuan para pendidik saat membantu belajar anak didiknya. Sedangkan gaya belajar adalah pola-pola tertentu bagaimana informasi dari materi yang disampaikan dapat diterima anak didik dengan mudah. Gaya belajar anak seperti pintu pembuka. Setiap bulir informasi yang masuk lewat pintu terbuka lebar, akan memudahkan anak memahami informasi itu. Pada puncak pemahamannya, informasi itu akan masuk ke memori jangka panjang dan tak terlupakan seumur hidup. Gaya belajar ini bermacam-macam, ada anak yang senang dengan gaya belajar serius, duduk di kursi meja belajar dengan suasana tenang, adapula yang sambil mendengarkan musik.

Hasil Anak Belajar

Anak dikatakan berhasil dalam belajar bila ia mampu melakukan tugasnya dengan tuntas. Oleh karena itu para pendidik harus melakukan konfirmasi atau pengecekan ulang apakah si anak didik telah paham dengan materi yang disampaikan. Terkadang pendidik memandang sempit bahwa keberhasilan belajar seorang anak didik hanya dilihat berdasarkan nilai atau hasil tes tertulis di atas kertas saja. Padahal keberhasilan seorang anak dalam belajar dapat dilihat dari berbagai aspek.

Munif Chatib, membagi tiga aspek tentang memaknai hasil belajar anak adalah sebagai berikut :

a3
Sumber : http://agussuhendra92.blogspot.com/2011/01/mengapa-buanglah-sampah-pada-tempatnya.html

1. Perubahan perilaku anak (behaviourism)

Keberhasilan belajar anak dikatakan tercapai bila terjadi perubahan perilaku. Tentunya, perilaku yang berubah ini sangat terkait dengan materi belajar itu sendiri. Contohnya : saat mempelajari kebersihan lingkungan, anak menjadi sangat peduli menjaga kebersihan lingkungan dimanapun, dengan cara tidak membuang sampah sembarangan.

2. Perubahan pola pikir anak (cognitivism)

Keberhasilan anak dalam belajar dapat tercapai jika sudah terjadi perubahan pola pikir, yaitu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak bisa menjadi bisa. Pola pikir merupakan kemampuan kognitif anak. Anak akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan baik lisan maupun tulisan terkait dengan materi yang disampaikan. Lebih mendalam lagi, bila anak mampu menggunakan kekuatan berpikirnya untuk menganalisa dan menyelesaikan suatu masalah yang terkait dengan materi maupun diluar materi.

3. Membangun konsep baru (constructivism)

Anak kita sebenarnya sudah memiliki informasi mengenai konsep dan pengetahuan awal di dalam otaknya. Anak dikatakan berhasil dalam belajar apabila mampu menimbulkan konsep baru dalam pikirannya yang kemudian menggabungkannya dengan konsep dan pengetahuan awalnya. Konsep baru yang diperoleh si anak akan sangat bermakna dan didukung pula oleh faktor lingkungan. Misalnya : Anak sudah paham tentang sampah. Konsep terbarunya, anak kemudian dapat membedakan sampah organik dan anorganik. Kemudian ia melakukan observasi tentang sampah yang ada di lingkungan sekitar rumahnya dan ia mampu membuang sampah sesuai dengan jenis sampahnya pada tempatnya masing-masing.

 a4

Dari ketiga aspek diatas, jika pendidik dapat menemukan perubahan pada diri si anak walaupun hanya salah satu faktor saja, maka dapat dikatakan anak itu telah berhasil mencapai proses belajar. Cara pandang kita tidak hanya terjebak bahwa keberhasilan belajar anak dilihat hanya dari hasil tes atau nilai di atas kertas saja.(Bunda Ranis)

Referensi :

Chatib, Munif. Orangtuanya Manusia : Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak. Bandung : Kaifa. 2013

Yosodipuro, Arif. Siswa Senang Guru Gemilang : Strategi mengajar yang menyenangkan dan mendidik dengan cerdik. Jakarta : Kompas Gramedia. 2013