782 Views

Mengubah Anak Pasif Menjadi Kreatif

Anak pasif adalah anak yang menerima saja, tidak giat, dan tidak aktif. Anak cenderung lebih pendiam dibanding anak kebanyakan, biasanya anak tersebut juga tidak menyukai suatu kelompok dan lebih suka sendiri. Aktif tidaknya seorang anak dipengaruhi oleh perkembangan emosi yang terjadi padanya, perkembangan emosi ini akan berpengaruh pada bagaimana anak menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya.

[belajarkreatiffokusa.blogspot.co.id]
[belajarkreatiffokusa.blogspot.co.id]
Ciri-ciri anak pasif juga terlihat dari gerak geriknya, seperti anak terlihat lamban, kurang gesit, kurang suka kegiatan fisik, cepat lelah danlama dalam menyesuaikan diri. Apabila anak melakukan sesuatu sesuai minatnya, baru akan terlihat antusiasnya dan konsentrasinya.

Perbedaan anak aktif dan pasif dapat dibandingkan ketika anak mempelajari sesuatu. Anak akan mudah terlihat apakah ia termasuk pasif atau aktif ketika mulai duduk di bangku sekolah di mana setiap anak diharapkan berpartisipasi dengan kegiatan di kelas. Di sinilah para orangtua akan mulai merasakan dampak dari kepasifan anak.

Anak aktif biasanya tidak mau duduk dengan tenang dan akan lebih aktif dalam belajar, kemampuan motorik anak juga berkembang dengan sangat baik, sehingga tidak sulit mengetahui apa yang anak sukai atau yang tidak disukainya, karena anak biasanya akan mengatakan secara langsung. Kebalikannya, anak pasif akan lebih pasif dalam belajar, mungkin anak terlihat tidak nyaman dengan lingkungannya tetapi sebenarnya ia mencerna segala sesuatu di sana, anak menerima informasi melalui pendengaran, sentuhan, atau melihat. Tetapi hal itu bisa berdampak buruk apabila tidak ditangani dengan baik.

Dampak jika sang anak pasif dapat kita lihat langsung melalui:
• Motorik anak tidak menstimulasi dengan baik, bisa jadi perkembangan dan kemampuan motoriknya akan lebih lambat.
• Anak akan mengalami kesulitan dalam berteman, bergaul, dan bersosialisasi.
• Anak tumbuh menjadi anak yang hanya mau disuapi saja, karena tidak ada keinginan untuk maju dan hanya menerima saja.
• Tidak pernah protes dengan apa yang terjadi padanya. Kemungkinan anak tidak bisa mengenali diri sendiri, tidak tajam sensitivitasnya dan kurang baik emosinya.
• Anak takut mencoba segala sesuatu yang baru sehingga tidak mau bergerak.
• Jika terus berlanjut sampai remaja dan dewasa, anak akan tergolong sebagai anak yang pengikut (follower).
• Anak tidak berani berpendapat meskipun ada hal-hal yang ingin disampaikan.
• Dalam memilih teman akan lebih mudah terjerumus, bahkan anak bisa menjadi korban ‘bully’ karena sikapnya yang pasif dan tidak berani mengambil keputusan.

Cara membuat anak pasif menjadi kreatif
Guru dan orangtua adalah contoh yang cepat ditiru oleh anak-anak. Apa yang diucapkan dan dilakukan adalah cermin berjalan. Anak pasif hanya bisa menerima apa yang dia lihat dan dikatakan.Oleh karena itu, sang anak harus dirangsang agar dapat memberikan pengaruh untuk berinteraksi sendiri tanpa harus diminta, karena anak tersebut cenderung memiliki kecerdasan yang kurang.

Ada beberapa cara yang dapat membantu anak pasif menjadi lebih kreatif dibanding sebelumnya. Peran orangtua dan guru sangat berpengaruh untuk mengubah anak tersebut, jangan sampai anak terus-terusan menjadi pasif karena dampaknya bisa terbawa sampai dewasa. Tentunya kita tidak ingin apabila anak kita yang pasif tidak bisa bersaing dengan dunia luar bukan?

Anak-anak membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi mereka juga perlu belajar bagaimana untuk berpikir kreatif yaitu menciptakan ide-ide baru dari awal. Kreatifitas adalah keterampilan hidup yang penting.Inilah beberapa cara yang dapat merangsang anak pasif menjadi lebih kreatif:
1. Mengajak anak tertawa dan bergurau bersama.
2. Dalam mengasah kemampuan verbalnya, orangtua atau guru harus lebih aktif dan lebih banyak bicara. Banyak bicara bukan berarti cerewet.
3. Anak membutuhkan pelukan hangat, dengan itu anak akan merasa aman dan nyaman.
4. Ajak membaca bersama, berceritaatau nonton film bersama, dengan begitu bisa memancing rasa ingin tahunya, setalah itu ajukanlah pertanyaan kepada anak.
5. Mengajak anak bernyanyi bersama untuk meningkatkan ekspresi dan membuat anak lebih aktif.
6. Melakukan kegiatan di luar rumah, ajak anak untuk pergi keluar dan bermain.
7. Membuat suatu kerajinan tangan bersama, ajak anak untuk membuat sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
8. Selalu berikan motivasi dan jangan memberi batasan ketika anak melakukan sesuatu, biarkan anak berkembang sesuai dengan kemampuannya. (ern)