36 Views

Minat Membaca Tinggi Dapat Meraih Mimpi

Apakah Minat Membaca Tinggi Dapat Meraih Mimpi?

Tulisan ini terinspirasi ketika saya membaca kisah seorang anak yang berhasil lulus kuliah pada usia 11 tahun. Takjubnya lagi ia berhasil mendapatkan nilai sempurna pada semua mata kuliahnya dan meraih IPK 4, dengan status summa cum laude! Sungguh luar biasa! Saya yakin, siapapun yang mendengarnya pasti akan tercengang dan langsung berkomentar, “ia pasti anak genius”. Menurut pengakuannya, sesungguhnya ia adalah anak biasa, seperti anak lain seusianya, senang main mobil-mobilan dan koleksi topi bisbol. Tetapi ada satu hal yang mungkin membedakan ia dengan teman lain seusianya. Sejak kecil ia sudah terbiasa memiliki perencanaan hidup yang matang, komitmen kuat dan disiplin. Bila kita mau berinstropeksi terhadap diri kita sendiri, memang tiga unsur itulah yang terkadang masih sulit dimiliki oleh anak-anak kita bahkan kita sekalipun yang sudah dewasa.

m1
Sumber : http://kolom-biografi.blogspot.com/2013/10/biografi-moshe-kai-cavalin-lulus-kuliah.html

Ia adalah Mosche Kai Cavalin, anak keturunan cina yang lahir dan besar di California, Amerika Serikat. Melalui berbagai tantangan yang dihadapinya, ia bersama orang tuanya gigih melakukan berbagai upaya demi meraih impiannya. Pada usia 8 tahun, ia memasuki akademi di East Los Angeles College (ELAC), Amerika Serikat dan lulus di usia 11 tahun. Ia mendapat gelar Associate in Arts, dengan IPK 4, semua nilai A. Kemudian ia melanjutkan studinya di University of California, los Angeles (UCLA), dan berhasil lagi untuk menyelesaikan semua mata kuliahnya dengan nilai sempurna dan mendapatkan gelar Bachelor’s Degree atau sarjana bidang matematika pada usia 14 tahun.

Keberhasilannya membawa ia masuk dalam daftar kehormatan dekan dari seluruh akademi di Amerika Serikat. Ia juga menerima penghargaan rektor kampus dari seluruh akademi yang ada di Amerika Serikat. Hebatnya lagi, sekarang ia menjadi seorang penulis, yang berbagi cerita tentang pengalamannya dan memotivasi teman-teman lainnya agar bisa melakukan hal yang sama, bukan hanya meraih “bintang” di usia muda, tetapi bisa lebih dari itu, dapat meraih “bima sakti”.

Dukungan Orang tua

Mosche Kai, adalah salah satu contoh anak berprestasi yang dapat menginspirasi kita semua. Menurutnya, keberhasilan itu tidak lepas dari peranan kedua orang tuanya. Sejak usia dini, orang tuanya sudah menanamkan minat baca kepadanya. Upaya orang tuanya tersebut membawa hasil spektakuler, di usia 21 bulan ia sudah mampu mengenali 21 benda dan melafalkan nama-namanya walau hanya ditunjukkan kata-katanya pada kartu.

m2
Sumber : http://immigration.tigtag.com/usa/living/92127.shtml

Salah satu aktivitas rutin yang dilakukan oleh ibu Mosche Kai adalah membacakan cerita sederhana dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anaknya. Tema buku yang dibacakan dipusatkan mengenai sains, fakta-fakta dan biografi orang-orang yang berhasil mengubah dunia. Buku-buku yang dibeli ibunya adalah buku bekas. Ibunya selalu memberikan pemahaman kepada Mosche Kai bahwa buku yang mereka miliki tidak harus selalu baru, karena kalau ingin membeli buku baru harganya cukup mahal. Upaya ibunya membuahkan hasil, sebelum usia tiga tahun Mosche Kai telah mampu membaca buku-buku sederhana. Kebiasaan ini terbawa hingga sekarang, Mosche Kai gemar sekali membaca buku. Ia suka membaca buku tentang sains, penemuan-penemuan dan bagaimana sesuatu diciptakan. Banyak pengetahuan ilmiah yang diperolehnya ketika ia membaca buku bersama orang tuanya. Dan dari banyak membaca ini pulalah yang membawa ia berhasil seperti sekarang.

Sejak kecil orang tua Mosche Kai selalu mengingatkan akan pepatah bahwa “Pengetahuan itu lebih berharga daripada emas dan perak”. Berbagai pengetahuan dapat kita peroleh dengan membaca, karena membaca dapat membuka cakrawala dan menambah wawasan. Seperti teman seusianya lainnya, terkadang ketika saatnya belajar, rasa bosan dan jenuh menyelimuti perasaan Moshe Kai. Namun orang tuanya membangkitkan kembali motivasinya, salah satunya dengan mengingat perkataan Muhammad Ali, “Aku benci setiap menitnya untuk berlatih, namun kataku, jangan menyerah. Bersusah-susah dahulu dan aku akan menikmati sisa hidupku sebagai seorang juara.” Jadi latihan, latihan, dan lebih banyak latihan adalah kunci keberhasilan.

Dahsyatnya otak anak usia emas

m3
Sumber : http://kolom-biografi.blogspot.com/2013/10/biografi-moshe-kai-cavalin-lulus-kuliah.html

Berbagai upaya yang dilakukan oleh orang tua Kai merupakan wujud stimulasi yang diberikan kepada anaknya. Berbagai metode mereka kreasikan sendiri untuk menstimulasi minat baca Kai. Orang tua Kai sadar bahwa usia 0-5 tahun adalah usia emas bagi perkembangan otak anak. Oleh karena itu mereka tidak ingin menyia-nyiakan periode tersebut, walaupun tentunya orang tua harus rela meluangkan waktu khusus demi buah hati tercinta.

Usia dini merupakan saat yang sangat penting untuk memberikan stimulasi tepat bagi anak-anak kita. Pada dua tahun pertama kehidupannya, bayi akan mengalami perkembangan otak yang relatif cepat. Pada saat itu beratnya mencapai hampir 80 % dari otak dewasa. Kemudian pada usia 5 tahun, ukuran otak anak mencapai sekitar 90 % dari ukuran otak orang dewasa. Dengan demikian otak sangat terbuka untuk proses pembelajaran dan interaksi pada usia yang sangat dini. Proses belajar yang diterapkan oleh orang tua Mosche Kai sendiri diberlakukan sejak anaknya lahir. Stimulus sensoris adalah yang terpenting, terutama untuk menstimulasi kemampuan audio visualnya.

Melaju pesat seperti pesawat terbang

m4
Sumber : http://usatoday30.usatoday.com/news/health/wellness/story/2012-02-15/Boy-geniuss-book-reveals-life-in-college-at-age-8/53101722/1

Ibarat kita pergi dengan pesawat, mungkin badai dahsyat akan menjadikan perjalanan penuh kendala, kita bisa mabuk, gugup dan stres. Kita akan merasa terperangkap selama perjalanan di dalam kabin pesawat dengan ruang gerak yang terbatas. Namun, yang perlu kita sadari hambatan ini hanyalah sesaat, selanjutnya kita akan menghasilkan kemajuan yang pesat. Dengan naik pesawat tentunya kita akan tiba lebih cepat dibandingkan dengan naik bis apalagi berjalan kaki. Sehingga bila kita tiba di lokasi lebih cepat, kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati lokasi sekitar dibandingkan dengan rekan kita lainnya, yang masih dalam perjalanan dan datang lebih lambat dari kita. Artinya, kita akan mengumpulkan kesuksesan dan kenikmatan sebelum yang lainnya tiba. Prinsip inilah yang seharusnya menjadi semangat kita, bahwa untuk membawa keberhasilan seorang anak dibutuhkan kunci kesabaran yang luar biasa dan kegigihan. Namun percayalah, kesabaran dan kegigihan itu akan berbuah keberhasilan, dan kita sendiri yang akan menikmati buahnya tersebut.

Keberhasilan Mosche Kai sudah sepatutnya kita tiru. Seberapa besar peranan dan kepedulian orang tua dalam membimbing anaknya akan berpengaruh pada hasil yang dicapai. Salah satu faktor kuat dalam membangkitkan belajar anak adalah menumbuhkan motivasi intrinsiknya untuk belajar yang kita bentuk sejak mereka usia dini. Sehingga belajar bukanlah lagi sebagai suatu paksaan, tetapi sebagai bentuk kesadaran bahwa itu merupakan kebutuhan yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan diri si anak itu sendiri.

Referensi :

http://newsroom.ucla.edu/portal/ucla/at-just-14-ucla-math-student-moshe-229359.aspx

http://www.huffingtonpost.com/2012/02/15/boy-geniuss-book-reveals-_n_1278639.html

Mosche Kai Cavalin, Lulus Kuliah Umur 11 Tahun dengan IPK 4 !. Jakarta : Media Pusindo. 2013

Ecka W. Pramita. Dahsyatnya Otak Anak Usia Emas. Yogyakarta : Interprebook. 2010