120 Views

Nostalgia Surat Menyurat

surat

“Saya lihat foto Bapak di koran. Saya pikir Bapak harus potong rambut supaya kelihatan rapi.”

“Saya menulis surat ini untuk memastikan bahwa Bapak benar-benar ada. Mungkin Bapak pikir ini aneh, tapi ada teman saya yang yakin bahwa Bapak adalah tokoh kartun.”

“Saya dan ayah saya akan membuat sebuah roket dan akan terbang ke Mars dan Venus. Kami ingin Bapak mau pergi bersama kami karena kami perlu ilmuwan yang baik dan orang yang bisa menyetir roket.”

Sekelumit penggalan kalimat diatas adalah beberapa contoh surat dari anak-anak yang ditujukan kepada ilmuwan paling terkenal, Einsten. Ada enam puluhan surat anak-anak yang dikumpulkan oleh Alice Calaprice dan dijadikan dalam satu buku yang berjudul “Dear Professor Einstein : Surat-Menyurat Einstein dengan Anak-anak”. Surat yang mereka buat lucu, sangat menarik dan haus akan keingintahuan tentang Pak Einsten. Anak-anak dapat dengan bebas mengekspresikan perasaannya, rasa ingin tahunya dan melatih keterampilan dalam membaca dan menulis surat.

Apakah surat menyurat ini sampai sekarang masih kita lakukan? Saya meyakini sudah sangat sedikit dari kita yang melakukan kebiasaan surat menyurat tersebut. Perlahan kegiatan surat menyurat ini sudah banyak ditinggalkan, dan kita beralih dengan electronic mail serta jenis message lainnya. Apalagi bagi anak cucu kita yang akan menghadapi jaman semakin canggih dan modern. Saat ini saja hampir di semua sudut perkotaan, anak-anak usia dini sudah lincah dalam menggunakan gadget. Mulai dari tab, bbm, sms, whats app dan media sosial lainnya yang membuat kita jadi semakin lupa mengajarkan mereka bagaimana membuat surat menyurat.

Padahal ketika anak sejak dini dilatih untuk membuat surat, maka melatih mereka untuk menulis membuat karangan, mengekspresikan perasaan dan keingintahuannya. Misalnya anak diarahkan untuk menulis surat tentang seorang tokoh terkenal, maka menstimulasi mereka untuk membaca buku biografi atau bacaan cerita apapun berkaitan dengan tokoh tersebut. Dengan mereka membaca, merangsang pikiran mereka untuk bertanya lebih lanjut tentang hal apapun berkaitan dengan tokoh tersebut. Ini artinya, bahwa kita telah mendorong anak untuk menimbulkan minat membacanya, menstimulasi otaknya agar mengembangkan ide-ide baru dan berani mengungkapkan pendapat serta perasaannya.

Hari Pos Internasional

surat2

Berkaitan dengan surat menyurat ini, mungkin masih banyak dari kita yang belum tahu bahwa tanggal 9 Oktober adalah hari surat menyurat internasional, atau yang biasa disebut World Post Day. Awal mulanya kenapa dipilih tanggal 9 Oktober sebagai hari surat menyurat internasional, karena pada tanggal 9 Oktober 1874, serikat pos dunia (Universal Post Union-UPU) didirikan. Tujuannya untuk mendukung dan menyemangati perkembangan pos di wilayah mereka masing-masing. Hingga kini sudah lebih dari 180 unit pos negara tergabung dalam serikat ini, termasuk Indonesia. Namun sayangnya, justru perlahan masyarakat Indonesia mulai meninggalkan dunia perposan, padahal pada jaman dulu sebagai sang primadona.

Masih banyak pula sekolah yang mengabaikan begitu saja momen spesial ini. Anak-anak tidak disosialisasikan tentang hari bersejarah, yang notabene sudah berlangsung sejak abad 2000 SM. Di Indonesia, perposan sudah mulai sejak zaman Kerajaan Kutai, Majapahit, Pajajaran, Mataram, Sriwijaya dan Tarumanegara. Pada waktu itu, kegiatan surat menyurat masih terbatas antar kerajaan. Suratnya dibuat menggunakan batu, kayu maupun kertas. Tetapi kertas yang dimaksud pada jaman dahulu adalah seperti kulit bambu yang diiris tipis-tipis dan menggunakan daun lontar.

Perangko, Ooh, perangko

horses_big

Coba diingat kapan terakhir kali kita membeli perangko untuk mengirim surat atau kartu pos? Jawabannya sedikit sekali, itu pun biasanya didominasi oleh institusi saja. Saat ini sangat jarang pribadi yang mengirimkan surat pakai perangko. Banyak yang bilang, hari gini gitu loh, perangko sudah ketinggalan jaman. Perangko, ooh, perangko. Mari kita bernostalgia dengan si perangko.

Kita pun sempat merasakan masa-masa tersebut. Saya menjadi teringat ketika masih usia sekolah dasar, saya memiliki sahabat pena di Pasadena, Amerika Serikat. Dalam sebulan saya bisa menulis surat dua kali untuknya. Setiap pak pos datang, saya berlari senang berharap mendapat balasan dari sahabat saya tersebut. Perangko-perangkonya saya kumpulkan untuk menambah koleksi perangko saya. Masih ingat juga kan, ketika jaman dahulu kantor pos kebanjiran kartu lebaran dan natal. Saking banyaknya sampai-sampai kartu lebaran tiba di tempat tujuan sudah telat, alias momen lebarannya sudah lewat.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa teknologi yang berkembang setiap detik ini banyak membuat kemudahan dalam kehidupan kita, khususnya kecepatan yang luar biasa. Namun alangkah bijaksananya, bila kita tetap dapat memperkenalkan ke anak cucu tentang tradisi lama, yaitu surat menyurat. Kita dapat memulainya dari hal yang kecil, seperti mengajarkan mereka mengirimkan surat untuk kakek nenek, Oom Tante, Pakde Bude. Tentunya mereka akan sangat senang menerima surat yang ditulis dan dihias oleh cucu atau keponakannya. Apalagi didalam suratnya diselipkan foto terbaru anak kita. Paling tidak bagi anak usia dini dapat melatih mereka untuk melancarkan menulis, mengarang dan menumbuhkan minat baca. Yang tidak kalah penting bahwa kita telah melatih mereka untuk peduli, perhatian serta mendekatkan ikatan emosional dengan pihak keluarga yang jauh lokasinya dari tempat tinggal kita. (Bunda Ranis)

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Surat

http://orbitdigital.net/article/sejarah-surat-menyurat-di-indonesia

http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Sekitar-Kita/Pengetahuan-Umum/Surat-Menyurat-di-Indonesia

http://satelitnews.co/2013/07/31/belajar-berkomunikasi-via-surat-menyurat/

http://oase.kompas.com/read/2011/04/10/13023346/Sejarah.Surat.Sejarah.Diri

http://www.mizanstore.com/ecommerce/bookcatalog/kamus-referensi/referensi/dear-professor-einstein-surat-menyurat-einstein-dengan-anak-anak-si-AD-04.html#.UlXzI1Mb_gw

9 Oktober: Hari Surat Menyurat Internasional

http://gemi-siksmat.blogspot.com/2013/09/materi-bab-i-peralatan-teknologi.html