688 Views

Pro Kontra Mengajarkan Calistung pada Anak Usia Dini

c
Sumber : www.google.co.id

Seperti apa Pro Kontra Mengajarkan Calistung pada Anak Usia Dini?

Berbagai pro dan kontra tentang anak usia dini, apakah boleh belajar membaca, menulis dan berhitung masih menjadi pembicaraan di masyarakat. Berbagai penelitian dan pendapat yang mendukung bahwa anak usia dibawah 7 tahun boleh untuk belajar calistung, dan penelitian lain berbeda pendapat bahwa anak pada usia tersebut jangan diberikan pelajaran calistung. Mereka khawatir bila anak sejak kecil sudah dipaksakan belajar, lama kelamaan akan menjadi bosan dan justru ketika saatnya usia SD mereka justru akan mogok sekolah.

Alasan kontra tersebut selaras dengan penelitian seorang ahli psikolog perkembangan anak dari Swiss, Jean Piaget, seperti yang dituangkan oleh Afin Murtie pada bukunya Mengajari Anak Calistung dengan Bermain. Ia menyatakan bahwa pendidikan membaca, menulis dan berhitung jangan sampai diperkenalkan kepada anak-anak dibawah usia 7 tahun. Alasannya, karena pada masa itu anak-anak belum dapat berpikir operasional konkret sehingga ditakutkan pelajaran tersebut akan membebani mereka yang belum mampu untuk berpikir secara terstruktur. Sementara itu kegiatan calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak sesuai bila diajarkan pada anak usia dibawah 7 tahun. Apalagi pada anak-anak usia bayi dan balita. Piaget mengkhawatirkan otak anak-anak tersebut menjadi terbebani dan tujuan awal mencerdaskan anak menjadi dilema karena justru anak-anak menjadi tidak bahagia dan tidak bisa menikmati kehidupan mereka.

Pada kenyataannya, pendapat Piaget menimbulkan kebingungan tersendiri bagi para orang tua yang tetap ingin mengembangkan potensi intelektual anaknya tanpa harus menunggu usia 7 tahun. Dapat dibayangkan betapa anak-anak kita kesulitan untuk mengikuti pelajaran ketika mereka masuk SD. Padahal di SD mereka sudah langung menerima pelajaran dengan buku paket yang banyak, dan anak-anak diharapkan sudah mampu mandiri belajar sendiri. Bagaimana mungkin mereka melakukan itu, kalau basic untuk membaca, menulis dan berhitungnya saja belum ada? Kurikulum di SD pun tidak terdapat pelajaran khusus untuk membaca, menulis dan berhitung. Guru di SD tinggal terima beres akan kemampuan anak didiknya dalam membaca, menulis dan berhitung. Guru SD bahkan mungkin sudah hampir lupa bagaimana mengajari anak membaca, menulis dan berhitung.

Fenomena tentang perlunya belajar membaca, menulis dan berhitung sejak anak usia dini akhirnya banyak memunculkan berbagai metode dan teori. Pendapat Jean Piaget tersebut banyak disangkal oleh beberapa peneliti lainnya.

Diantaranya :

  • Glenn Doman dengan kartu flash-nya, dimana ia menunjukkan bahwa pada bayi jauh lebih mampu belajar dari yang kita bayangkan.
  • Howard Gardner, psikolog perkembangan dari Amerika, tentang cara memandang calistung sebagai sebagian kecil keterampilan yang seharusnya diperoleh anak, seperti motorik dan sensorik.
  • Dr. Marian Diamond, Profesor University of California-Berkeley, menyimpulkan bahwa pada umur berapapun semenjak manusia lahir hingga meninggal dunia sangat memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan mental melalui rangsangan lingkungan
  • Elisabeth G. Hainstock, Penemu metode montessori, menyatakan bahwa puncak perkembangan otak anak adalah saat usia pra sekolah.(Bunda Ranis)
c2
Sumber : www.wikipedia.org

Dari beberapa teori yang menyangkal pendapat Piaget tersebut akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa anak belajar calistung semenjak dini bukanlah hal yang tabu. Sangat bisa dan tetap membuat mereka bahagia. Bahkan di masa golden age inilah, anak harus mendapat stimulus yang tepat agar mereka benar-benar dapat tercetak menjadi generasi emas yang dapat memajukan bangsa dan negara. Kuncinya hanya terletak pada cara transfer pengetahuan calistung itu sendiri.

Bila kita dapat menemukan cara atau metode yang tepat dan efektif dalam calistung bagi anak usia dini tanpa mengesampingkan kesenangan mereka, kenapa tidak kita optimalkan saja potensi anak di saat periode keemasan tersebut. Kuncinya adalah kita harus mengikuti dunianya anak-anak, yaitu bermain. Jadi pembelajaran dilakukan dengan menyenangkan, tidak membebani anak sehingga mereka tidak merasa terpaksa. Sulit sekali rasanya bila harus mengatur anak usia dini harus duduk diam dengan manis, belajar serius dan kaku. Beda halnya bila pembelajaran dilakukan sambil bermain, maka anak akan lebih mudah paham dan dapat mengingat untuk memory jangka panjang. Dengan demikian bagaimana cara menyajikan pengetahuan tentang calistung tersebut secara efektif ? Bagaimana cara yang nyaman bagi anak-anak dan tepat mengenai sasaran sesuai ekspektasi orang tua ? Bagaimana cara membuat anak-anak kita tetap tersenyum dan ceria?

c3biMBA-AIUEO adalah jawaban dari berbagai pertanyaan di atas. biMBA memiliki keistimewaan melalui metodenya fun learning, small step system dan individual system. Metode yang dibuat tersebut atas dasar penelitian yang telah dilakukan dan terbukti meningkatkan kemampuan membaca anak secara luar biasa. biMBA memiliki modul-modul khusus dan sistem pengajaran multiple intelligence. Di biMBA sangat menghargai hak anak untuk belajar. Tiap anak mendapatkan bimbingan sesuai dengan kemampuan dan kemauan anak. Jadi proses pembelajaran dalam satu kelas di satu waktu bisa berbeda materinya antara anak yang satu dengan yang lainnya. Proses pembelajaran di biMBA adalah bermain sambil belajar. Mereka belajar tidak harus duduk diam manis berlama-lama sehingga anak tidak mudah merasa jenuh, bosan dan terpaksa dalam belajar.

Referensi :

Murtie, Afin. Mengajari Anak Calistung dengan Bermain. Jakarta : Kompas Gramedia.2013

http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_Piaget

http://www.glenndomanindonesia.com/

http://en.wikipedia.org/wiki/Howard_Gardner

http://www.academicroom.com/users/marian-diamond

http://www.goodreads.com/author/show/109959.Elizabeth_G_Hainstock