485 Views

Proses Pembelajaran seperti Teko dan Cangkir

Apakah Proses pembelajaran seperti teko dan cangkir?

c13

Masih ingatkah kita objek apa yang kita buat saat diminta untuk menggambar pemandangan ketika masih duduk di bangku TK dan sekolah dasar dulu ?   Pada umumnya kita akan menggambar objek yang sama, yaitu pegunungan.   Kita akan membuat dua buah gunung berdampingan, ditengahnya ada matahari, dibawah gunung akan dibuat jalan lurus, di pinggiran jalan terdapat pohon-pohon dan disamping kanan kirinya terdapat sawah-sawah. Itulah yang diajarkan oleh guru dan orang tua kita saat itu.  Bagaimana dengan anak kita sekarang? Apakah mereka masih menggambar pemandangan dengan objek yang sama seperti jaman kita kecil dulu?

Secara jujur rata-rata akan menjawab “ya”.  Coba bayangkan!  sejak puluhan tahun yang lalu hingga saat ini,  dari generasi ke generasi kalau diminta menggambar pemandangan, yah, hampir sama seperti itulah bentuk gambarnya.   Tidak ada pengembangan ide-ide baru dalam menggambar pemandangan.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa inilah fenomena yang terjadi.  Dari generasi ke generasi hal ini masih terus berlanjut. Kalau melihat fenomena ini, apakah kita akan menyalahkan si anak karena menggambar model gunungnya kok gitu-gitu terus,  atau justru kita lah yang harus berintrospeksi?   Karena pada prinsipnya anak hanya meniru apa yang orang dewasa ajarkan pada mereka.  Mari kita renungkan,  apakah hal ini sebetulnya juga merupakan salah satu bukti bahwa sistem pendidikan kita ternyata masih harus lebih dikembangkan lagi,  khususnya dalam pengembangan kreatifitas anak?

Ironisnya, justru mandegnya kreatifitas anak terkadang disebabkan karena ide-ide anak tidak diterima dan dihargai dengan baik di sekolah.  Adanya larangan dari guru di sekolah membuat anak menjadi malu  dan merasa bersalah.  Sehingga lama kelamaan anak akan enggan untuk menyampaikan gagasan-gagasan barunya tersebut.   Hal ini pernah dialami oleh anak saya, ketika itu ia sedang mendapatkan pelajaran mewarnai.   Sang guru menginstruksikan untuk memberi warna pisang dengan warna kuning. Namun anak saya maunya warna hitam. Menurut pemikirannya, pisangnya itu busuk. Tetapi yang ada, anak saya malah ditegur gurunya dan dinyatakan warna yang ia beri adalah salah.

Fenomena ini kerap kali kita temui pada sistem pendidikan kita.  Pikiran dan imajinasi anak yang terkadang out of the box, seringkali malah dibilang salah oleh sang pendidik.  Anak dianggap tidak mengikuti pakem dan kebiasaan yang wajar, dan akhirnya perlahan kreatifitas anak ini justru akan hilang.

Ibarat Teko dan Cangkir

c21

Menurut pakar pendidik dan konsultan parenting,  Ayah Edy,  bahwa pembelajaran seperti yang telah dijabarkan diatas ibarat teko dan cangkir.   Guru diibaratkan seperti teko yang berisi penuh air dan murid ibarat cangkir kosong.   Jadi tugas guru hanya menuangkan air dari teko ke dalam cangkir agar cangkirnya terisi air.  Dan tentu saja air yang ada dalam cangkir akan sama persis dengan air yang di teko.

Prinsip pengajaran yang dianut hanyalah menuangkan air. Apapun air yang dituang  guru dari teko, akan diterima, diserap dan diikuti oleh muridnya.  Murid yang diibaratkan sebagai cangkir hanya bisa menerima air dari teko, tanpa bisa banyak berkreasi, berimajinasi dan membuat perbedaan dari sang guru.   Bila guru memberi contoh gambar pemandangan dengan dua buah gunung berdampingan, maka muridpun akan mengikutinya.  Metode ini tanpa disadari terus berlangsung dari generasi ke generasi dan telah mematikan jutaan kreatifitas anak-anak Indonesia.

Korek api dan Kayu Bakar

Jika kita ingin menghentikan fenomena ini, maka kitapun harus berani untuk mengubah paradigma yang ada.  Guru bukan lagi seperti teko penuh air yang hanya mampu menuangkan air saja,   dan murid bukanlah seperti cangkir kosong yang hanya mampu menampung kucuran air dari sang guru.    Tetapi paradigmanya kita rubah bahwa murid seperti kayu bakar yang siap menyala dengan api berkobar-kobar.  Sedangkan guru seperti korek api yang mampu menyulutkan api semangat pada kayu bakarnya, yaitu murid-murid tercinta.   Agar api pada kayu bakar tetap menyala berkobar-kobar maka dibutuhkanlah minyak.   Nah, minyak ini berupa motivasi yang selalu dipercikkan guru ke murid-muridnya agar mereka tetap memiliki semangat membara seperti api yang terus berkobar.  Dengan demikian anak akan berani untuk berkreasi, berimajinasi sesuai dengan jalan pikirannya masing-masing, dan berani menuangkan ide-ide yang berbeda.  Seperti pepatah yang diungkapkan oleh John Sifonis bahwa Different isn’t always better, but the best is always different,  berbeda tidak selalu lebih baik, tetapi yang terbaik itu sudah pasti berbeda.

 

Sumber :

Parlindungan Marpaung. Setengah Isi Setengah Kosong : Half Full – Half Empty. Bandung : MQS Publishing. 2008

Ayah Edy. Ayah Edy Punya Cerita : Kumpulan Kisah Inspirasi Parenting yang Wajib Diketahui Orangtua. Jakarta : Noura Book. 2013

 

bimbingan Minat baca dan Belajar Anak

Oleh Bunda Ranis