23 Views

Sebuah Globe

globe
Sumber : www.dreamstime.com

Seorang ibu yang baru memiliki bayi, memberikan hadiah bagi buah hatinya tersebut dengan sebuah globe. Kemudian globe tersebut diletakkan di atas lemari dalam kamar anaknya. Globe itu menjadi pajangan yang dilihat setiap hari oleh sang bayi. Seiring dengan tumbuh kembangnya si anak, globe itupun menjadi salah satu mainan favoritnya. Setiap hari ia selalu memainkan globe tersebut, dipandanginya dan diputarnyalah globe tersebut dengan riang gembira.

Sejak usia dini keingintahuan sang anak tentang globe tersebut sangat besar. Sambil anaknya bermain, sesekali si ibu menjelaskan dengan sabar dan telaten berkaitan dengan beberapa hal mengenai globe. Nampaknya sang anak diam seperti tidak memperhatikan, namun ternyata diam-diam ia memperhatikan dan merekam apa yang dijelaskan oleh ibunya.

Banyak hal yang ia ketahui walau hanya dari sebuah globe di bandingkan dengan teman-teman sebayanya atau bahkan teman-teman yang diatasnya sekalipun. Ia jadi paham kenapa bumi itu bulat dan berputar. Ternyata bumi itu bukan seperti hamparan tikar yang berujung. Ia pun jadi mengetahui bahwa kota tempat ia tinggal yang nampaknya begitu sangat luas, ternyata hanya seperti titik kecil dibandingkan dengan luas bumi secara keseluruhan. Sejak kecil pun, sebelum ia mampu untuk membaca, ia sudah mengetahui apa makna dari setiap garis, simbol dan warna dari globe tersebut.

Terkadang sinar matahari menyinari sebagian globe tersebut ke dalam kamar si anak, sehingga terlihat sebagian globe lebih tampak terang dan sebagian lainnya tampak lebih gelap. Dari sini ia mengetahui, mengapa bisa terjadi waktu siang dan malam. Selain itu ia juga jadi paham bentuk bulan itu sebetulnya tetap bulat walaupun sesekali nampak dari bumi seperti bulan sabit.

Seiring bertambahnya waktu dan semakin banyak referensi yang dibaca,ia pun semakin kaya pengetahuannya tentang bumi, benda-benda langit beserta alam semesta lainnya dan berbagai gejala alam yang ada. Sejak kecil ia sudah memiliki minat untuk mengoleksi peta, minat membaca buku-buku pengetahuan serta cerita-cerita petualangan dan penjelajah bumi. Ia gemar sekali membaca tentang biografinya Columbus, Marco Polo, Hang Tuah dan tokoh penjelajah bumi lainnya. Ia rajin membaca berulang-ulang dan ditelusurinya rute-demi rute para penjelajah dunia tersebut.

Di sekolah, ketika teman-temannya banyak yang beranggapan bahwa pelajaran ilmu bumi dan pengetahuan alam sungguh amat membosankan, namun sebaliknya dengan si anak tersebut. Ia sangat menyukai pelajaran ilmu bumi bahkan melalui pelajaran di sekolahnya serta guru ilmu buminya menjadi pemuas rasa ingin tahunya yang begitu tinggi.

Sang ibu terkagum-kagum melihat dahsyatnya proses yang sedang terjadi dalam pikiran anaknya. Ia merasa anaknya nampak lebih unggul dibandingkan dengan teman seusianya bahkan teman-teman diatasnya.

Suatu hari guru agamanya menjelaskan tentang kebesaran Tuhan dalam menciptakan bumi beserta alam semesta lainnya. Ia tampak merenungi dan berpikir dalam dan jauh dari apa yang dipahami oleh teman-temannya. Minat dan ketertarikannya akan bumi beserta isinya yang ada di jagad raya ini, membuat ia bertekad memiliki cita-cita, “Aku tinggal di dunia hanya sementara. Sayang sekali jika aku tidak menjelajah ke begitu banyak negara dan tempat di belahan muka bumi ini.” bathinnya selalu berbisik dan memacu motivasinya agar cita-cita tersebut dapat tercapai.

Apa yang terjadi kemudian? Ketika ia dewasa, impiannya pun terwujud. Ia dapat menjelajah ke begitu banyak tempat di belahan muka bumi ini, satu impian yang bagi banyak orang sulit untuk diraih.

Berawal dari sebuah globe telah menentukan jalan hidup sang anak. Tindakan sang ibu memberikan globe kepada bayinya ternyata telah menginspirasi anaknya untuk menjadi seorang yang luar biasa. Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita diatas bahwa tanpa kita sadari, dalam keseharian kita apapun yang kita berikan ke anak, ternyata akan berpengaruh besar bagi perjalanan hidup mereka, baik yang merusak maupun yang bermanfaat.

Inspired by :

Ida S. Widayanti. Belajar Bahagia. Bahagia Belajar. Jakarta : PT. Arga Tilanta ESQ Leadership Center. 2012