96 Views

Sosialisasi Gemar Membaca Sejak Dini

Membaca

Kebiasaan atau budaya membaca di kalangan masyarakat dan dalam dunia pendidikan kita, boleh dikatakan masih sangat jauh dari menggembirakan. Sedikit di antara anak-anak didik, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi yang gemar membaca.

Budayawan Emha Ainun Najib pernah mengatakan, di Indonesia terdapat “kekeliruan” tahapan budaya yang berakibat cukup fatal. Yang dimaksud tahapan budaya di sini adalah dari budaya membaca ke budaya elektronik (televisi dan sejenisnya). Pada saat budaya membaca belum terbangun dengan kokoh di negara kita, masuklah budaya elektronik secara gencar dan masif. Akibatnya budaya membaca yang masih tertatih-tatih itu tergerus oleh budaya elektronik. Pasalnya, budaya elektronik ini menawarkan sesuatu yang menyenangkan karena fungsinya memang untuk menghibur. Sekalipun budaya elektronik ini bisa juga digunakan untuk media pendidikan, tetapi praktiknya sangat minim. Sementara itu budaya membaca yang membutuhkan keseriusan dan ketekunan itu tentu kian ditinggalkan masyarakat dan anak didik kita.

Apakah anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku atau menonton televisi? Jawabannya hampir bisa dipastikan bahwa yang terakhir itulah yang paling sering dilakukan.

Sistem pengajaran

Sistem pengajaran yang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan negara kita pada semua jenjang belum mendorong budaya membaca di kalangan anak didik. Para pengajar, baik guru ataupun dosen, masih banyak yang memandang anak didik/mahasiswa sebagai objek belaka. Mereka diibaratkan seperti “botol kosong” yang siap diisi sepenuhnya oleh para pengajar. Pada saat yang sama guru atau dosen jarang sekali memberikan tugas kepada anak didik/mahasiswa untuk membaca sejumlah buku sebelum masuk kelas. Bukan sekadar membaca, tetapi juga meresumenya, bahkan jika mampu memberikan komentar atau kritik terhadap isi bahan bacaan tersebut. Sehingga ketika mereka masuk kelas, mereka sudah siap bertanya jawab dengan pengajar. Anak didik/mahasiswa kita umumnya sangat santai di luar kelas, sementara di AS mereka sangat sibuk belajar dan mengerjakan tugas jika ingin berhasil. Ruang perpustakaan benar-benar dimanfaatkan mereka untuk keperluan belajar dan mengerjakan tugas tersebut. Bandingkan dengan ruang-ruang perpustakaan di sini yang acapkali sepi pengunjung.

Sosialisasi sejak dini

Kesimpulannya, untuk mengembangkan kegemaran membaca, terutama di kalangan anak didik, yang pada gilirannya akan mampu menumbuhkan budaya membaca, kita mesti mulai menyosialisasikannya sejak dini. Artinya kita tidak cukup hanya berharap pada lembaga pendidikan, baik formal, nonformal maupun informal, apalagi kondisi lembaga pendidikan kita masih belum banyak mendorong kegemaran membaca di kalangan anak.

Dalam konteks ini, peran keluarga menjadi sangat penting. Kedua orangtualah yang pertama-tama harus menumbuhkan kegemaran membaca pada anak-anak sejak usia balita. Kita bisa memulainya dari menyediakan buku-buku anak-anak di rumah kita. Sediakan pula mainan-mainan yang dapat merangsang anak untuk membaca, seperti alfabet dari kayu, huruf-huruf dari plastik, puzzle berbentuk abjad, dan sebagainya.

Tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita dapat memanfaatkannya bersama-sama dengan anak-anak kita. Artinya, orangtua tidak sekadar membelikan buku dan peralatan lainnya, tetapi bagaimana mereka sendiri harus memberikan contoh kepada anak-anak dalam hal membaca. Anak-anak yang terbiasa melihat orangtuanya atau orang dewasa di sekitar mereka membaca buku akan tertarik menirunya. Ingatlah, anak-anak paling suka meniru segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Sosialisasi gemar membaca sejak dini menjadi keharusan bagi kita semua jika kita ingin budaya membaca benar-benar tumbuh di kalangan anak-anak kita.

Sumber : www.klik-galamedia.com

(penulis, mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung)**

1 Komentar

  1. Hehehe ternyata pripsektefnya agak berbeda, tapi intinya tetep sama, kita menngharapkan seorang ibu belajar dan berusaha megamalkan apa yg dipelajari itu.Kalo ana nulis kaya di atas, soalnya fenomena yang ana lihat malah kebalikannya dari yg Za lihat *sedih*.Masalahnya gak cuma 1 atau 2. Jadi, ceritanya sang ibu, yang gak bekerja (ini yg umum maupun yg udah ngerti syari’at loh), tapi kurang memperhatikan segi-segi lain dari tarbiyah anak, yang sebenernya di Islam pun banyak mengajarkan hal itu. Jadinya sedih aja ngelihat dan ndengernya.Ketika kita merawat dan mendidik anak soalnya banyak bgt aspek yg mesti diperhatiin dan dipelajari kan ya Za gak cuma ngasih makan, tapi dari segi-segi lain bahkan juga kesehatan Jadi, harapan ana sebenernya semua ibu tuh belajar, jangan cuma ngandelin nalurinya atau pake feeling semata ^^ .sepakat kitaah