105 Views

Temukan Passion Menjadi Seorang Guru

Sumber : https://adiaryofamom.wordpress.com/2011/12/12/ty-gifts/

Seringkali kita melihat seseorang melakukan sesuatu hal dengan penuh semangat, senang dan antusias.    Terkadang bahkan sampai tidak mengenal waktu dan lelah karena enjoy-nya dalam mengerjakan sesuatu hal tersebut.    Energi yang dikeluarkan dapat optimal sesuai dengan kemampuannya.     Lambat laun ia bisa menjadi profesional dan pakar di bidangnya.

Namun sebaliknya, kita juga sering melihat seseorang secara ogah-ogahan, setengah hati, kurang semangat, ada keterpaksaan karena melakukannya hanya sebagai kewajiban saja, tanpa menikmati pekerjaannya tersebut.    Hasil pekerjaan yang dicapai pun standar-standar saja, tidak spektakuler!

Ada yang awalnya bersemangat tetapi lama kelamaan ritme kerjanya menurun.    Ada pula yang awal mulanya kurang bersemangat tetapi lama kelamaan ritme kerjanya mulai naik bahkan ia nampak begitu bersemangat.    Fenomena ini sering kita jumpai, di lingkungan pekerjaan, perusahaan, instansi-instansi maupun lembaga pendidikan.

Berbicara mengenai lembaga pendidikan, pasti tidak lepas dari yang namanya seorang guru.  Sebagai pengajar, guru bertugas menyampaikan semua materi agar dimengerti dan dipahami oleh anak didiknya.    Hanya sebatas itukah tugas seorang guru?

Kenyataanya kita sering jumpai sosok guru yang mengajar dengan kurang antusias dan tanpa semangat serta tidak energik.   Potensi dan skill keguruannya nampak tidak optimal.    Profesi seorang guru dijalankan hanya sebagai rutinitas dan terkesan pilihan profesi sebagai guru hanya keterpaksaan, pilihan terakhir karena tidak ada kerjaan lain.

Tetapi banyak pula guru yang kita jumpai sangat energik, dengan etos kerja yang bagus, kreatif dan inovatif dalam menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga anak didik tidak merasa bosan dan antusias dalam belajar.    Sebagian besar waktu, tenaga dan ide-idenya dituangkan untuk kemajuan anak didiknya.    Ia rela mengorbankan waktunya untuk merenung dan mendapatkan ide-ide brilian untuk menciptakan strategi mengajar yang dapat membuat anak didiknya senang.   Mengajar bukan sekedar rutinitas pekerjaan, tetapi suatu panggilan hati atau panggilan jiwa yang secara emosional, kita benar-benar ikhlas dan senang untuk melakukannya.    Kondisi inilah yang disebut dengan passion.

Apakah passion itu?

Sumber : http://thebestyoumagazine.co/really-need-life-passion-barrie-davenport/

Pasion bisa diartikan  sebagai panggilan jiwa atau panggilan hati.     Passion dapat juga dikatakan sebagai sebuah perasaan atau emosi terhadap suatu hal yang membuat  seseorang sangat berantusias dan tidak pernah bosan dalam melakukannya sehingga ia melakukan hal tersebut dengan ikhlas dan sukarela.

Menurut Rene Suhardono Canoneo, konsultan human resources dan juga penulis buku, Your Job is Not Your Career.    Passion adalah segala hal yang kita minati sedemikian rupa sehingga kita tidak terpikir untuk tidak mengerjakannya.    Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu kita untuk merenungi, apakah passion kita sesungguhnya,

Are you happy with your career? Are you happy with your life? Do you care?

Tidak mudah menemukan passion untuk diri sendiri, terlebih untuk memperdulikannya.    Namun mencoba untuk tahu akan jauh lebih baik daripada mengacuhkannya sama sekali.    Rata-rata professional yang teguh dalam mencari karir sesuai passion mereka perlu waktu 4 – 8 tahun untuk menemukannya.    Rene sendiri perlu tidak kurang dari 9 tahun dari total 17 tahun pengalaman kerja untuk menemukan passionnya.    Tidak ada kata terlambat untuk hal yang satu ini.

Bisa jadi profesi yang sudah dijalani bertahun-tahun, namun kita belum merasakan kenikmatan.   Sebaiknya beralihlah ke profesi yang “Anda banget”.    Tidak ada kata terlambat, segera temukan passion  dan asahlah sehingga kita bisa menjadi expert di bidang pilihan kita ini.  Yang perlu kita sadari adalah,

“Tanpa passion, kita tidak akan pernah menjadi orang yang expert.”

Passion dan expert ibarat dua sisi mata uang, keduanya harus ada.    Passion yang diasah akan menjadikan kita seorang expert.    Hal ini seperti diutarakan oleh Jamil Azzaini dalam bukunya yang berjudul “ON” dengan istilah “tobat profesi”.    Jamil melakukan tobat profesi ini saat usianya sudah mencapai 38 tahun.

Seberapa pentingkah passion akan mempengaruhi kesuksesan menjadi seorang guru ?

Menjadi seorang guru adalah tugas yang sangat mulia.    Alangkah indahnya proses belajar mengajar bila guru sebagai motivator dalam belajar dapat benar-benar enjoy untuk melakukan pengajaran kepada anak didiknya.    Keberhasilan anak didik merupakan keberhasilan guru sebagai pendidiknya. Seorang guru dapat dikatakan sukses menjadi guru bila memiliki kebahagiaan sesungguhnya, yaitu berupa kepuasan batin bahwa ia berhasil mencetak para generasi bangsa agar tumbuh cerdas dan berakhlak mulia.

Passion menjadi seorang guru berarti ia benar-benar menyukai dan tidak merasa terbebani melakukan hal apapun yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.   Ia memiliki prinsip ingin membuat anak didiknya berkembang, maju dan berhasil.   Ia rela  dari hari ke hari, waktu ke waktu memikirkan, merenungkan ide-ide kreatif dan brilian apa yang dapat membuat anak didiknya berhasil hingga menggapai harapan dan cita-cita mereka.   Ia tidak mengukur segalanya hanya dari uang belaka.    Passion yang ia miliki karena ia memiliki perasaan secara emosional dari hati yang paling dalam bahwa ia benar-benar mencintai anak didiknya.   Ia juga berdedikasi tinggi atas perannya sebagai seorang guru, kreatif dan inovatif, pembelajar sejati, sabar dan peduli.     Tantangan dan rintangan apapun tidak akan  mengendorkan semangat yang telah tertanam. Semangat besar terhadap tantangan dan rintangan yang ia hadapi  justru membuat ia semakin tertantang untuk menaklukkannya.  Kepuasan dari pekerjaannya sebagai seorang guru didasari oleh keberhasilannya dalam memberikan nilai manfaat bagi sesama dan diri sendiri.

Setelah mulai terbuka makna dari passion, marilah mulai menikmati hidup dengan menjalani pekerjaan yang kita cintai.    Sungguh tindakan yang sia-sia bila kita bertahun-tahun menjalankan suatu pekerjaan yang justru menyiksa karena kita tidak senang dan tidak menyukainya.   Apabila kita bekerja sesuai dengan passion, berarti kita tahu kekuatan pada diri kita, dan pada hakikatnya kita tidak sedang bekerja melainkan sedang menjalankan hobi.(Bunda Ranis)

Temukan passion anda, apakah passion anda benar-benar ingin menjadi seorang guru?

Referensi :

Azzaini, Jamil. ON. Bandung : Mizania. 2013

“GURU: More Super than Superman”

Tinggalkan Balasan