63 Views

Tumbuhkan Persahabatan Anak dan Buku

buku
Anak Seharusnya Bersahabat dengan Buku

“Tragedi nol buku” hal tersebut disampaikan penulis kenamaan Indonesia Taufik Ismail berkaitan dengan rendahnya minat generasi muda untuk membaca. Beliau menyebutkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca sebanyak 32 buku, di Belanda 30 buku, Jepang 15 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku dan Indonesia nol buku. Hal ini memprihatinkan, bahkan dalam setahun tak ada satupun buku yang dibaca generasi muda, jika hal ini terjadi terus menerus maka akan adanya generasi rabun membaca yang lumpuh dalam menulis.

Hasil penelitian tingkat minat baca yang dilakukan Central Connecticut State University  di New Britain dari tahun 2003-2014 menempatkan Indonesia pada posisi ke-60 dari 61 negara, setingkat diatas Bostwana yang menduduki urutan ke-61. Urutan pertama diperoleh negara Fianlandia, Norwegia, dan Islandia.

Indeks minat baca di Indonesia yang dilansir dari Unesco tahun 2012 sebesar 0,001, artinya dari setiap 1000 penduduk Indonesia hanya terdapat 1 orang yang memiliki ketertarikan untuk membaca buku. Hasil survey Badan Pusat Stasistik Indonesia (BPS) tahun 2006 menyebutkan rata-rata penduduk Indonesia memilih menonton televisi sebesar 85,9%, mendengarkan radio 40,3% dan membaca koran sebesar 23,5%.

Ada yang Salah

Miris melihat hasil survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga nasional dan internasional terkait dengan tingkat minat baca di Indonesia. Padahal membaca merupakan salah satu langkah melahirkan generasi intelek untuk ketahanan nasional.

Faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat baca di Indonesia adalah keluarga yang minim pengetahuan tentang pentingnya membaca bagi anak. Saat ini dalam sebuah keluarga, orangtua semakin sibuk dalam pekerjaannya sehingga lupa untuk memperhatikan anak, atau keluarga yang ada di kelas ekonomi rendah yang terlanjur stress dengan tekanan ekonomi menimbulkan ketidakpedulian terhadap minat baca anak-anaknya.

Bagi anak-anak, keluarga merupakan faktor paling penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan mereka. Minat membaca adalah sebuah kebiasaan yang ditumbuhkan bukan dalam waktu yang sebentar, hal itulah yang seharusnya disadari oleh orangtua agar mengenalkan anak pada buku sejak dini.

Faktor kedua adalah sistem pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada nilai, sehingga anak tidak bebas bereksplorasi dan harus membaca bukan untuk kesenangan, tapi keharusan karena tekanan untuk mendapat nilai baik. Perpustakaan yang belum memadai di Indonesia juga menjadi penyebab kurangnya minat membaca anak di perpustakaan.

Masih Bisa Diperbaiki

Tingkat minat baca di Indonesia tidak mutlak, dalam artian hal ini masih bisa diperbaiki pada masa mendatang. Hanya saja butuh kemauan keras dari berbagai pihak  untuk memotivasi dan merangsang minat membaca buku pada anak. Persahabatan anak dan buku dapat ditumbuhkan pada awal kehidupan anak. Menurut para ahli, anak dapat dikenalkan membaca pada usia 6 tahun (SD), namun di tahun 1960-an ditambahkan bahwa orangtua dapat mengenalkan membaca pada anak as early as possible melihat  kesiapan mental dan psikologis anak.

Ada tiga tahapan anak dalam membaca yang perlu diketahui :

1.      Pre reading period

Di periode ini anak mengenal buku dan jalan cerita dari apa yang dibacakan oleh orangtua.

2.      Beginning reading period

Anak sudah mulai membaca dan mengetahui jalan cerita dengan membaca langsung dari buku.

3.      Later reading period

Periode penting bagi orangtua untuk menanamkan pada anak mengenai bacaan yang baik dan nilai-nilai terpuji yang dapat diambil dari cerita yang dibaca.

Buku yang diperlukan untuk setiap periode berbeda jenisnya. Pada pre reading period anak-anak akan tertarik dibacakan dongeng dan melihat gambar dari buku, maka diperlukan buku-buku yang lebih banyak menampilkan gambar ilustrasi menarik bagi anak atau saat ini banyak buku yang menampilkan ilustrasi 3 dimensi atau pop-up.

Pada beginning reading period, anak mulai memilih sendiri cerita yang disukai. Bagi anak perempuan dan laki-laki, ketertarikan terhadap tema bacaan sudah mulai terlihat berbeda, namun memungkinkan pula keduanya dapat bertukar buku, ia juga dapat menceritakan kembali bacaannya pada orang lain.

Later reading period adalah saat penting bagi orangtua untuk memberitahu anak tentang pelajaran baik yang bisa diambil dari buku yang dibaca. Penanaman nilai moral dan kearifan lokal bisa ditumbuhkan disini.

Kita dapat mengadopsi cara meningkatkan minat membaca anak dari Finlandia yang menduduki peringkat satu dalam hal membaca. Di Finlandia sedari dini anak dikenalkan pada buku, orangtua mengetahui pentingnya buku bagi nutrisi jiwa, dan ketika ada kerabat yang melahirkan maka maternity gift bukan hanya perlengkapan bayi namun juga buku.

Direktur Asosiasi Penerbit Finlandia menyebutkan Sebanyak 77%  penduduk Finlandia setidaknya membeli satu buku dalam setahun, 75% orangtua selalu membeli buku untuk dibacakan kepada anak-anaknya. Selain itu sekolah di Finlandia sangat mendukung anak bereksplorasi dengan sistem pengajaran menggunakan metode bermain, berimajinasi, dan self-discovery. Mereka lebih menekankan kolaborasi daripada kompetisi.

Keadaan di Indonesia memang belum sekondusif di Finlandia namun hal tersebut bukan halangan bagi orangtua dan guru untuk memperbaiki cara pandang tentang hubungan anak dan buku, dengan hal-hal kecil seperti di Finlandia, memberikan anak buku ataupun mendongeng sebelum tidur.

Bersahabat dengan Buku

Setelah orangtua memahami bahwa untuk menumbuhkan minat baca pada anak memerlukan waktu yang tidak sedikit, maka perlahan-lahan mari benahi diri dan keluarga. Dengan dunia anak-anak yang identik dengan persahabatan, orangtua dapat sedari dini mengenalkan buku sebagai teman terbaik bagi anak. Berikan pengetahuan pada anak bahwa membaca sama menyenangkannya dengan bermain bersama sahabat sebayanya.

Persahabatan anak dan buku bisa ditumbuhkan dirumah dengan cara orangtua meletakkan buku-buku di tiap ruangan dalam rumah, setidaknya dimulai dari orangtua membaca buku dan anak akan tertarik untuk bergabung membaca buku. Sifat anak-anak yang suka bereksplorasi dapat ditunjang dengan buku yang memberi pengetahuan terhadap hal-hal baru yang disukai anak.

Dengan membaca buku anak dapat berfikir kreatif untuk menciptakan hal-hal baru yang sudah dipelajari dari buku, anak juga dapat cerdas secara emosional karena terbiasa untuk mengambil pelajaran disetiap buku yang dibaca. Contoh dari buku malinkundang, anak mendapat pelajaran untuk berbakti pada orangtua.

Anak-anak yang dunianya identik dengan persahabatan merupakan keuntungan bagi orangtua menumbuhkan persahabatan anak dengan teman yang paling baik yaitu buku. Ketika anak telah terbiasa untuk membaca, maka besar kemungkinan anak akan menjadi seorang yang kreatif dan inovatif dimasa yang akan datang. Salah satu contoh seperti Warren Buffet menghabiskan 80 % jam kerjanya untuk membaca, ia menjadi orang yang sangat berpengaruh di dunia bukan hanya dalam keuangan tapi juga dalam membantu sesama manusia.

“Today i’m reader, tommorow i’m leader”

(Dini Siti Mulyani)

Sumber :

1.      http://digilib.um.ac.id/images/stories/pustakawan/pdfhasan/Membangun%20minat%20baca%20anak%20usia%20dini%20melalui%20penyediaan%20buku%20bergambar.pdf

2.      http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/30925054/ss-1.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1476700815&Signature=7vAfwOgbEW6EA96tGL6GjVQz%2FzE%3D&response-content-disposition=inline%3B%20filename%3DPengaruh_keterlibatan_orang_tua_terhadap.pdf

3.      thesun.co.uk , publishingperspectives.com

4.      http://mediaindonesia.com/news/read/64231/minat-baca-indonesia-peringkat-60-dari-61-negara/2016-08-30